Menembus Sekat Bahasa Inggris di Ruang Kelas Dasar, Misi Besar 90.447 Guru SD Fasih Cas Cis Cus

Schoolmedia News Jakarta = Keraguan itu sempat menyergap Ima, seorang guru kelas di Kabupaten Biak, Papua. Sebagai lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengajar Bahasa Inggris terasa seperti mendaki gunung yang asing baginya. Namun, rasa cemas itu perlahan luruh saat ia mulai mengikuti pelatihan intensif di pengujung pekan ini. Ima adalah satu dari puluhan ribu ujung tombak yang kini sedang dipersiapkan pemerintah untuk sebuah transformasi besar: menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di seluruh sekolah dasar (SD) di Indonesia.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, Jumat (8/5). Langkah ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan sebuah pertaruhan mutu pendidikan menjelang penerapan wajib Bahasa Inggris pada tahun ajaran 2027/2028 mendatang.
Respons atas Ketertinggalan Global
Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan yang mendesak. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, mengungkapkan bahwa posisi Indonesia dalam peta kecakapan bahasa global masih sangat memprihatinkan. Merujuk pada data English Proficiency Index (EPI) 2024 yang dirilis oleh Education First, Indonesia menduduki peringkat ke-80 dari 116 negara di dunia. Di tingkat Asia, posisi Indonesia bahkan lebih miris, yakni peringkat ke-12 dari 23 negara.
"Kita tidak bisa lagi menutup mata. Bahasa Inggris harus berhenti dianggap hanya sebagai mata pelajaran yang dihafal untuk ujian. Jika berhenti di sana, anak didik kita tidak akan pernah mahir," tegas Atip di hadapan ratusan pendidik.
Menurut Atip, kunci utama perubahan ini terletak pada keberanian guru untuk mengubah atmosfer kelas. Bahasa Inggris harus diposisikan sebagai alat komunikasi hidup. Ia mendorong para guru untuk mulai berdialog dalam Bahasa Inggris saat menyampaikan materi, tanpa perlu dihantui rasa takut salah. "Jangan takut untuk belajar. Jadikan ini alat komunikasi, bukan sekadar teori di atas kertas," tambahnya.
Target Ambisius 2029
Transformasi ini memerlukan napas panjang. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, memaparkan peta jalan (roadmap) yang ambisius namun terukur. Hingga tahun 2029, Kemendikdasmen menargetkan sebanyak 90.447 guru SD di seluruh Indonesia tuntas dilatih.
Pelatihan dilakukan secara bergelombang. Pada tahap pertama tahun 2025 ini, sebanyak 5.777 guru dari 34 provinsi telah memulai debut mereka. Jawa Barat menjadi lumbung peserta terbesar dengan 609 guru, diikuti Jawa Tengah (588), Jawa Timur (383), Riau (321), dan Sulawesi Selatan (278).
"Tahun depan (2026), kami menargetkan 10.000 peserta. Puncaknya pada 2027 dan 2028, masing-masing 30.000 guru akan dilatih. Dengan skema ini, pada tahun 2029, seluruh kebutuhan guru yang mampu mengajar Bahasa Inggris di tingkat SD akan terpenuhi," jelas Nunuk.
Strategi pelatihan pun diubah. Tidak lagi kaku dan membosankan, program PKGSD-MBI dirancang dengan pendekatan baru yang lebih menyenangkan dan aplikatif. Para guru tidak hanya diajarkan tata bahasa (grammar), tetapi juga kemampuan pedagogik praktis seperti penggunaan media audio-visual yang menarik bagi anak-anak usia dasar.
Membangun Kepercayaan Diri di Akar Rumput
Di lapangan, tantangan terberat adalah mengubah pola pikir guru yang merasa "tidak mampu" karena bukan lulusan pendidikan Bahasa Inggris. Namun, testimoni dari para peserta menunjukkan optimisme baru. Luthfi Saadil Malik, guru SDN Lembur Awi 01 Kabupaten Bandung, mengakui awalnya ia ragu. Namun, ia menyadari bahwa pendidik harus terus bertumbuh melampaui batas kemampuannya saat ini.
"Belajar bahasa akan menyenangkan asal ada kemauan. Jangan takut di awal, sepanjang mau belajar pasti bisa," ujar Luthfi. Senada dengan itu, Heni Mariana dari SDN Sukahaji Purwakarta merasa lebih percaya diri setelah mendapatkan materi mengenai percakapan sehari-hari dan penggunaan teknologi di kelas.
Dukungan dari pemerintah daerah pun mulai mengalir. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Eka Ganjar Kurniawan, dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Nana Suyatna, sepakat bahwa penguasaan bahasa asing adalah modal utama siswa untuk memiliki keunggulan kompetitif di abad ke-21. Pemerintah daerah berkomitmen untuk mereplikasi pelatihan ini secara mandiri melalui Komunitas Kelompok Belajar (KKB) agar guru-guru yang belum terpanggil pelatihan pusat tetap bisa meningkatkan kompetensinya.
| Tahun | Target Peserta |
| 2025 (Tahap I) | 5.777 Guru |
| 2026 | 10.000 Guru |
| 2027 | 30.000 Guru |
| 2028 | 30.000 Guru |
| 2029 | 20.447 Guru |
| Total Target | 90.447 Guru |
Pemerataan Akses
Bagi guru-guru di pelosok yang belum mendapatkan kesempatan pelatihan tatap muka, Kemendikdasmen menyediakan jalur pembelajaran mandiri melalui Learning Management System (LMS) dan fitur di platform Rumah Pendidikan. Langkah ini diambil agar disparitas kualitas pendidikan antara kota dan desa dapat ditekan seminimal mungkin.
Kini, bola ada di tangan para pendidik. Program PKGSD-MBI bukan hanya tentang mencetak guru yang bisa berbahasa Inggris, melainkan tentang membangun fondasi bagi generasi masa depan yang siap berbicara dengan dunia. Saat bel sekolah berbunyi pada tahun ajaran 2027 nanti, diharapkan tidak ada lagi guru yang ragu mengucap "Good Morning" dengan lantang di depan kelas, dari Sabang sampai Merauke.
Tim Schoolmedia
Berita Lainnya:
Gebyar Lomba dan Talenta Siswa 2026 Wujudkan Pembelajaran Bermakna dan Menggembirakan
Tadarus Kebijakan Krisis Pengasuhan Anak, Ekosistem “Daycare” Harus Dibenahi Dari Hulu Hingga Hilir
Presiden, 16 Menteri dan 20 Wakil Menteri Belum Serahkan LHKPN