Cari

Keteguhan Prinsip: Paus Leo XIV Tolak Bergabung dengan Dewan Perdamaian (BoP)



Schoolmedia News Vatikan — Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Leo XIV, secara resmi menyatakan bahwa Vatikan tidak akan bergabung dengan Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP), sebuah badan internasional baru yang digagas untuk menengahi konflik global. Keputusan ini diambil setelah melalui pertimbangan teologis dan diplomatik yang mendalam, menegaskan posisi Vatikan sebagai kekuatan moral independen yang tidak ingin terkooptasi oleh kepentingan politik blok tertentu.

Dalam keterangan resminya, Paus Leo XIV menekankan bahwa perdamaian tidak dapat dipaksakan melalui struktur birokrasi yang memiliki tendensi keberpihakan. Vatikan mengkhawatirkan bahwa BoP, meskipun membawa narasi perdamaian, berisiko menjadi instrumen kekuasaan bagi negara-negara besar untuk melegitimasi intervensi militer atau ekonomi di wilayah konflik.

Alasan Vatikan Menolak Secara Tegas

Ada beberapa poin krusial yang menjadi landasan Vatikan dalam menolak keanggotaan permanen di BoP:

  1. Netralitas Aktif: Vatikan memegang prinsip Neutrality and Inviolability. Bergabung dengan badan yang memiliki mekanisme voting mayoritas seperti BoP dapat memaksa Vatikan mendukung kebijakan yang bertentangan dengan prinsip kemanusiaan universal jika kalah suara.

  2. Independensi Moral: Paus Leo XIV ingin memastikan bahwa suara Gereja tetap murni sebagai "Suara Hati Nurani Dunia" tanpa terikat oleh perjanjian politik yang mengikat secara hukum internasional (legal binding) di bawah naungan BoP.

  3. Kritik terhadap Struktur BoP: Vatikan menilai struktur kepemimpinan di BoP masih didominasi oleh kekuatan nuklir dunia, yang menurut Paus, justru menjadi akar dari ketegangan global saat ini.

Keputusan berani ini mendapat sorotan positif dari para akademisi di Indonesia. Dr. Andreas Hartono, Pakar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia, menilai langkah ini sebagai bentuk "Diplomasi Profetik".

"Vatikan menyadari bahwa perdamaian sejati bukan sekadar ketiadaan perang (absence of war), melainkan tegaknya keadilan. Dengan tetap berada di luar BoP, Paus justru memiliki fleksibilitas lebih besar untuk mengkritik kedua belah pihak yang bertikai tanpa beban protokoler organisasi," ujar Dr. Andreas.

Ia menambahkan bahwa dalam sejarahnya, Vatikan paling efektif berperan sebagai mediator justru ketika mereka berdiri secara otonom, seperti dalam penyelesaian krisis di Amerika Latin maupun mediasi di Timur Tengah.

Apresiasi Dari Tokoh Masyarakat Indonesia

Sikap teguh Paus Leo XIV juga menuai simpati luas di Indonesia, negara dengan semangat kebhinekaan yang kuat. Sejumlah tokoh nasional memberikan apresiasinya:

1. KH Ahmad Mansur (Tokoh Lintas Agama)

Beliau menyebutkan bahwa penolakan Paus terhadap BoP adalah sinyal penting bagi dunia bahwa nilai agama tidak boleh dijadikan "stempel" bagi agenda politik global. "Kami di Indonesia sangat menghargai integritas Paus. Ini adalah pengingat bahwa perdamaian harus dibangun dari bawah, dari hati nurani, bukan sekadar kesepakatan elit di atas meja perundingan yang penuh intrik," tegasnya.

2. Ibu Maria Ulfah (Aktivis Kemanusiaan)

Sebagai representasi aktivis akar rumput, Maria melihat langkah Vatikan sebagai perlindungan terhadap hak-hak negara berkembang. "BoP seringkali hanya menjadi panggung bagi negara maju. Dengan Vatikan menolak bergabung, mereka memberikan pesan bahwa ada jalur lain untuk berdialog yang lebih setara dan manusiawi."

3. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia

Pihak PGI juga menyampaikan nada serupa. Mereka melihat sikap Paus bukan sebagai bentuk ketidakpedulian, melainkan bentuk kewaspadaan terhadap potensi "politisasi perdamaian" yang bisa memicu perpecahan lebih lanjut di tingkat lokal.

Dampak Global dan Harapan Masa Depan

Penolakan ini diprediksi akan mengubah peta diplomasi dunia. Beberapa negara di kawasan Global South kini mulai mempertanyakan efektivitas BoP dan mempertimbangkan untuk mengikuti jejak Vatikan dalam mencari alternatif dialog yang lebih inklusif.

Vatikan menegaskan bahwa meskipun tidak bergabung secara formal dalam struktur BoP, mereka tetap berkomitmen penuh untuk bekerja sama dengan pihak manapun dalam misi kemanusiaan, bantuan pengungsi, dan advokasi lingkungan hidup melalui ensiklik-ensiklik kepausan.

Keputusan Paus Leo XIV ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, masih ada kekuatan yang berani memilih jalan sunyi demi menjaga integritas pesan perdamaian yang hakiki.

Tim Schoolmedia

Berita Sebelumnya
Darurat Ekologi dan Bencana Mengancam, Seruan Pertobatan Nasional untuk Merawat Bumi

Berita Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar