
Schoolmedia News Jakarta = Kabut polusi yang mengepung kawasan Jabodetabek serta rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai penjuru Indonesia sepanjang tahun 2025 menjadi lonceng peringatan keras bagi ketahanan ekologis bangsa. Menanggapi situasi yang kian kritis, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menekankan bahwa kerusakan alam di Indonesia bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas destruktif yang memerlukan respons spiritual dan aksi nyata segera.
Uskup Agung Jakarta, Kardinal Mgr. Prof. Dr. Ignatius Suharyo MA, dalam Surat Gembala Prapaskah 2026, menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup yang terjadi saat ini berakar pada hilangnya solidaritas universal dan rusaknya relasi antara manusia dengan Sang Pencipta, sesama, serta alam semesta. Sebagai langkah konkret, Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun ini mengusung tema "Pertobatan untuk Merawat Bumi, Rumah Kita Bersama".
Dalam pesan yang disampaikan kepada umat Katolik di wilayah KAJ, Kardinal Suharyo memaparkan data yang menggentarkan. Hingga tahun 2025, kerusakan alam di Indonesia telah mencapai level yang sangat serius. Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat sebanyak 3.116 kejadian bencana dalam satu tahun terakhir.
"Hampir 99 persen dari total kejadian bencana tersebut, seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem, disebabkan oleh kerusakan alam. Ini adalah fakta yang tidak bisa kita abaikan," ujar Kardinal.
Data lebih rinci menunjukkan bahwa banjir menjadi bencana yang paling dominan dengan total 1.584 kasus. Wilayah Sumatera tercatat sebagai titik yang mengalami dampak paling parah, yang menjadi indikator kuat bahwa Indonesia kini merupakan wilayah berisiko tinggi terhadap bencana akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Kardinal menekankan bahwa bencana-bencana ini bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan dampak dari "ulah manusia". Dampak sosial-ekonominya pun sangat masif, mulai dari hilangnya nyawa, pengungsian massal, hingga kerugian fisik yang melumpuhkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Krisis Multidemensi di Jabodetabek
Secara khusus, Kardinal Suharyo menyoroti kondisi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) yang menghadapi ancaman lingkungan multidimensi. Selain banjir tahunan, warga di kawasan ini dipaksa berhadapan dengan polusi udara parah yang bersumber dari emisi kendaraan bermotor serta aktivitas industri, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Pencemaran air pun tak kalah mengkhawatirkan. Air sungai dan air tanah kini terkontaminasi berat oleh limbah rumah tangga dan industri. Sementara itu, krisis sampah terus membayangi dengan volume timbunan yang melampaui kapasitas pengelolaan. Hal ini diperburuk dengan fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) dan kerentanan iklim yang ekstrem.
"Krisis ini mengancam kita semua, tetapi yang paling terpukul adalah saudari-saudara kita yang paling miskin dan rentan. Mereka tidak memiliki sumber daya untuk memproteksi diri dari dampak kerusakan lingkungan," tegasnya.
Landasan pemikiran dalam Surat Gembala tahun ini merujuk pada gagasan "Ekologi Integral" yang dicetuskan oleh mendiang Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Siâ. Konsep ini memandang bahwa krisis lingkungan tidak bisa dipisahkan dari krisis sosial.
"Tidak ada dua krisis yang terpisah, yang satu menyangkut lingkungan dan yang lain sosial, tetapi satu krisis sosial-lingkungan yang kompleks," kata Kardinal mengutip Laudato Siâ No. 139.
Kardinal Suharyo mengajak umat untuk meneladan Santo Fransiskus Assisi, seorang mistikus yang hidup dalam harmoni total dengan Allah, sesama, alam, dan dirinya sendiri. Menurutnya, masalah lingkungan saat ini berakar dari ketidakmampuan manusia menyadari bahwa bumi adalah rumah bersama. Ketika egoisme mengalahkan solidaritas, manusia kehilangan rasa tanggung jawab untuk memelihara ciptaan.
Menuju Pertobatan Ekologis
Pertobatan dalam konteks Prapaskah tahun ini tidak lagi hanya bermakna kesalehan ritual, melainkan bertransformasi menjadi "Pertobatan Ekologis". Kardinal mendorong adanya aksi nyata yang kreatif dan berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah pengembangan ekonomi sirkular, sebuah model yang tidak hanya berdampak positif bagi kelestarian alam tetapi juga memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat.
"Sudah banyak pribadi, keluarga, dan komunitas yang memulai langkah kreatif. Hal-hal baik ini hendaknya terus dilanjutkan hingga menjadi gaya hidup yang permanen," imbuhnya.
KAJ merekomendasikan beberapa langkah sederhana namun berdampak luas yang dapat dilakukan di tingkat rumah tangga dan komunitas, antara lain:
Pemanfaatan Lahan: Menanam di lahan kosong dan mengembangkan pertanian kota (urban farming) untuk menopang ketahanan pangan keluarga.
Manajemen Limbah: Mengolah sampah menjadi sumber daya (sampah menjadi berkah), memilah sampah dari rumah, dan bekerja sama dengan bank sampah.
Konsumsi Bijak: Tidak membuang-buang makanan serta melakukan penghematan penggunaan air dan listrik secara disiplin.
Edukasi Generasi Muda: Menanamkan kepedulian terhadap alam kepada anak-anak dan remaja, di mana peran orang tua sebagai teladan menjadi kunci efektivitasnya.
Sinergi dan Harapan
Kardinal juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Gereja tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi krisis ini. Diperlukan kerja sama yang erat dengan otoritas pemerintah dan lembaga kemasyarakatan agar gerakan kepedulian ini memiliki dampak yang signifikan pada kebijakan publik dan kesadaran massa.
Lembaga-lembaga pelayanan di bawah naungan Gereja, seperti sekolah, rumah sakit, dan pusat layanan sosial, diinstruksikan untuk menjadi garda terdepan dalam mempromosikan gaya hidup ramah lingkungan.
Menutup Surat Gembala tersebut, Kardinal Suharyo mengutip sabda Yesus dalam Injil Matius mengenai hidup keagamaan yang harus lebih benar daripada para ahli Taurat. Hidup beragama yang benar, menurutnya, harus melahirkan hikmatâsebuah kematangan spiritual yang membawa kemuliaan bagi Tuhan melalui tindakan menjaga kehidupan.
"Melalui hidup sederhana dan bijaksana, kita berkontribusi mewujudkan kelestarian alam ciptaan Tuhan. Ini adalah wujud nyata keselamatan bagi generasi sekarang dan masa depan," pungkasnya.
Seruan dari Katedral Jakarta ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa waktu untuk berdebat telah usai. Saat ini adalah waktunya untuk bertindak, sebelum "Rumah Kita Bersama" benar-benar mencapai titik yang tidak lagi bisa diselamatkan.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar