
Schoolmedia News Jakarta = Digitalisasi pendidikan di Indonesia memasuki babak baru dengan tuntasnya distribusi Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel ke ratusan ribu satuan pendidikan. Di tingkat akar rumput, teknologi ini mulai mengubah wajah pembelajaran dari sekadar ceramah satu arah menjadi pengalaman visual yang partisipatif. Namun, efektivitas perangkat mahal ini tetap bergantung pada kreativitas guru dan stabilitas infrastruktur penunjang.
Layar besar itu menyala terang di depan kelas X SMAN 1 Samarinda, Kalimantan Timur. Di permukaannya, sebuah museum virtual terpampang, membawa para siswa melintasi lorong waktu menuju peninggalan masa lampau. Tanpa harus beranjak dari kursi, para siswa seolah diajak masuk ke ruang-ruang sejarah, melihat detail artefak yang selama ini hanya berupa foto kusam di buku teks.
Bagi Alexander Rendi, guru sejarah di sekolah tersebut, Papan Interaktif Digital (PID) telah menjadi kawan karib dalam mengajar. Setiap kali melangkah masuk ke kelas, ia hampir tidak pernah absen menyalakan perangkat tersebut. Baginya, sejarah yang sering dianggap sebagai mata pelajaran hafalan yang menjemukan, kini memiliki "nyawa" baru.
"Materi berbasis visual menjadi paling efektif ketika disajikan melalui PID karena mampu menarik perhatian dan meningkatkan fokus belajar siswa. Ini bukan sekadar media presentasi, tapi ruang interaksi," ujar Alexander, saat ditemui beberapa waktu lalu.
Ia kerap menyisipkan gim interaktif di tengah pemaparan materi. Suasana kelas yang biasanya hening berubah riuh saat siswa terlibat langsung dalam permainan edukatif di layar sentuh tersebut. Kendati demikian, Alexander memberikan catatan penting: teknologi hanyalah alat. "PID adalah media bantu. Menarik atau tidaknya pembelajaran sangat bergantung pada bagaimana guru memanfaatkannya," tegasnya.
Transformasi di daerah
Pemanfaatan teknologi serupa juga menggeliat di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pemerintah daerah setempat menyadari bahwa pengadaan barang tanpa pendampingan akan berakhir menjadi pajangan kelas yang sia-sia. Oleh karena itu, skema pendampingan berkelanjutan menjadi kunci.
Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Mataram, Syarafudin, menjelaskan bahwa pihaknya memberikan dukungan komprehensif mulai dari pelatihan teknis hingga penguatan kebijakan. Fokus utamanya adalah memastikan PID digunakan sebagai media interaktif, bukan sekadar pengganti proyektor konvensional.
"Kami melakukan pendampingan melalui pengawas sekolah dalam kegiatan supervisi akademik dan forum berbagi praktik baik. Tujuannya agar terjadi interaksi dua arah di dalam kelas," kata Syarafudin. Melalui proses pengimbasan, guru-guru yang sudah mahir diharapkan dapat menularkan ilmunya kepada rekan sejawat, sehingga transformasi digital merata hingga ke sekolah-sekolah di pinggiran kota.
Meski antusiasme tinggi, tantangan klasik digitalisasi masih membayangi. Di lapangan, akses jaringan internet yang tidak stabil sering kali menghambat optimalisasi fitur-fitur PID, seperti streaming video berkualitas tinggi atau akses ke platform pendidikan berbasis awan (cloud).
Distribusi tuntas
Di tingkat pusat, komitmen digitalisasi ini merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang dieksekusi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Program ini bertujuan untuk memangkas kesenjangan akses informasi antarwilayah di Indonesia.
Dalam pembukaan Konsolidasi Nasional 2026 di Kota Depok, Jawa Barat, Senin (9/2/2026), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Muââ¬â¢ti menyatakan bahwa distribusi perangkat IFP telah mencapai target 100 persen. Sebanyak 288.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia kini telah memiliki perangkat tersebut.
"Alhamdulillah, seluruhnya telah terdistribusi dan hampir seluruhnya sudah mulai dipergunakan," ujar Abdul Muââ¬â¢ti. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan para pendidik yang telah mengadopsi teknologi ini dalam ekosistem pembelajaran mereka.
Pemerintah tampaknya belum akan mengendurkan langkah. Pada tahun 2026 ini, Kemendikdasmen berencana menambah unit perangkat digital secara bertahap. Setiap sekolah direncanakan akan memperoleh tambahan tiga unit PID untuk memperluas jangkauan penggunaan teknologi di lebih banyak kelas.
Langkah masif ini diharapkan tidak hanya berhenti pada angka distribusi fisik, tetapi juga menyasar pada peningkatan kualitas literasi digital guru secara nasional. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan kreativitas pendidik di kelas akan menentukan apakah papan interaktif ini benar-benar mampu melahirkan generasi yang lebih kritis dan adaptif terhadap teknologi.
Keberhasilan distribusi 100 persen Papan Interaktif Digital (PID) ke 288 ribu sekolah merupakan pencapaian logistik yang patut diapresiasi. Namun, terdapat beberapa poin kritis yang perlu diperhatikan agar investasi besar ini tidak menjadi pemborosan anggaran:
Ketimpangan Infrastruktur Jaringan: Sebagaimana dikeluhkan pendidik di lapangan, PID sangat bergantung pada konektivitas internet. Tanpa bandwidth yang memadai di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), PID hanyalah papan tulis elektronik mahal yang fitur pintarnya tidak terpakai secara maksimal. Pemerintah perlu memastikan sinkronisasi antara pengadaan alat dengan penyediaan akses internet stabil.
Kualitas vs Kuantitas Pelatihan: Pelatihan penggunaan alat sering kali hanya bersifat teknis pengoperasian (how to use). Padahal, tantangan utamanya adalah pedagogi digital (how to teach). Guru membutuhkan pendampingan jangka panjang dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam kurikulum agar tidak terjebak pada penggunaan yang sifatnya superfisial atau sekadar "gimmick" visual.
Biaya Pemeliharaan dan Keberlanjutan: Sebagai perangkat elektronik, PID memiliki masa pakai dan risiko kerusakan. Perlu kejelasan mengenai anggaran perawatan dan perbaikan di tingkat sekolah. Tanpa mitigasi ini, banyak perangkat yang kemungkinan akan terbengkalai saat terjadi kerusakan teknis setelah masa garansi habis.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar