Cari

Dari Reruntuhan Menuju Pemulihan: Ketika Sekolah, Hunian, dan Pasar Menjadi Simbol Kebangkitan Sumatra


Schoolmedia News Jakarta = Bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat meninggalkan jejak duka yang dalam. Rumah-rumah rusak, sekolah lumpuh, pasar rakyat terhenti, dan ribuan warga harus beradaptasi dengan kehidupan darurat.

Namun, di balik keterbatasan itu, sebuah proses panjang menuju pemulihan terus berjalan—perlahan, terukur, dan penuh harapan.

Pada sektor pendidikan, dampak bencana terasa begitu nyata. Sekitar 3.700 sekolah tercatat terdampak, memaksa ratusan ribu siswa berhenti belajar sementara waktu. Ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara diskusi dan tawa anak-anak berubah menjadi bangunan kosong, sebagian bahkan rusak berat. Pemerintah pun bergerak cepat, menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama pemulihan.

Pemerintah menargetkan proses kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung mulai 5 Januari 2026. Saat ini, 587 sekolah masih dalam proses pembersihan, mulai dari pengangkutan puing, perbaikan ringan bangunan, hingga penyiapan fasilitas sanitasi dan listrik. Seluruh proses tersebut ditargetkan rampung sebelum awal Januari agar anak-anak dapat kembali belajar di ruang yang aman dan layak.

Sementara itu, 54 sekolah lainnya akan melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tenda darurat. Meski sederhana, tenda-tenda tersebut menjadi simbol keteguhan dunia pendidikan. Di tempat itulah guru dan siswa berusaha menyalakan kembali semangat belajar, membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak memadamkan tekad untuk menatap masa depan.

Tak kalah penting adalah persoalan hunian bagi warga terdampak. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di pengungsian. Untuk menjawab kebutuhan mendesak tersebut, pemerintah mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) di tiga provinsi terdampak.

Hingga 28 Desember 2025, sebanyak 1.050 unit huntara telah mulai dibangun, dan sebagian di antaranya telah selesai serta dihuni warga.

Dari jumlah tersebut, 450 unit huntara dibangun oleh BNPB bersama pemerintah daerah, sementara 600 unit lainnya dibangun melalui dukungan Danantara. Huntara ini dirancang sebagai tempat tinggal yang layak, aman, dan memiliki akses dasar seperti air bersih dan sanitasi, sembari menunggu proses pembangunan hunian permanen.

Sementara itu, denyut ekonomi masyarakat juga mulai berangsur pulih. Pasar-pasar tradisional—urat nadi ekonomi rakyat—kembali dihidupkan. Di Provinsi Aceh, 18 dari 112 pasar terdampak telah kembali beroperasi.

Di Provinsi Sumatra Utara, pemulihan berjalan lebih cepat dengan 46 dari 47 pasar terdampak sudah aktif kembali. Sedangkan di Provinsi Sumatra Barat, dua dari tiga pasar terdampak telah kembali melayani masyarakat.

Pemerintah terus mendorong pemulihan ekonomi rakyat melalui penataan infrastruktur pasar, fasilitasi pedagang, serta kolaborasi lintas kementerian dan lembaga. Pasar yang kembali buka bukan sekadar tempat transaksi, tetapi juga ruang sosial tempat masyarakat kembali merajut kehidupan.

Perkembangan penanganan pascabencana ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno. Ia menegaskan bahwa penanganan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menunjukkan progres signifikan.

Lebih dari separuh kabupaten/kota terdampak kini telah beralih dari fase tanggap darurat ke fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pernyataan tersebut disampaikan Pratikno dalam Konferensi Pers Tanggap Bencana Sumatra yang digelar di Base Ops Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/12/2025). Dalam kesempatan itu, Menko PMK menegaskan komitmen pemerintah untuk terus hadir di tengah masyarakat terdampak.

“Hari ini kami kembali menyampaikan perkembangan terbaru mengenai penanganan pascabencana Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Sesuai arahan Bapak Presiden, seluruh unsur pemerintah terus mengerahkan segala daya upaya untuk percepatan penanganan pascabencana,” ujar Pratikno.

Ia menekankan bahwa penyampaian perkembangan ini merupakan bentuk akuntabilitas publik, sekaligus wujud tanggung jawab negara untuk memastikan proses pemulihan berjalan transparan dan terukur. Namun, Pratikno juga menegaskan bahwa kerja pemerintah tidak berdiri sendiri.

Menurutnya, pemulihan wilayah terdampak diperkuat oleh solidaritas sosial masyarakat. Relawan, aparatur negara, hingga sektor swasta bekerja bahu-membahu tanpa mengenal lelah. “Kami mewakili Pemerintah, menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat, relawan, juga jajaran TNI Polri, ASN Pusat dan Daerah, serta para pekerja swasta yang bekerja keras dalam penanganan bencana ini. Gerakan kemanusiaan masyarakat dan relawan adalah kunci penting untuk memulihkan Sumatra,” tegasnya.

Secara rinci, Pratikno memaparkan kondisi status penanganan di masing-masing provinsi. Di Provinsi Aceh, tujuh kabupaten/kota telah memasuki fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi, sementara 11 kabupaten/kota masih berada dalam status tanggap darurat.

Di Provinsi Sumatra Utara, delapan kabupaten/kota telah masuk fase transisi, dan delapan kabupaten/kota lainnya masih tanggap darurat.

Adapun di Provinsi Sumatra Barat, 10 kabupaten/kota telah memasuki fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi, sedangkan tiga kabupaten/kota masih berstatus tanggap darurat. Perpanjangan status tanggap darurat di sejumlah wilayah dilakukan untuk memastikan kesiapan daerah sebelum memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi secara menyeluruh.

Dalam pemulihan layanan dasar, pemerintah terus mempercepat distribusi dan pengoperasian genset, mobil penjernih air, truk tangki air, sumur siap pakai, toilet darurat, serta berbagai peralatan pendukung lainnya. Untuk akses telekomunikasi, jaringan telah kembali normal di 14 kabupaten/kota. Sementara di wilayah yang belum sepenuhnya pulih, pemerintah telah menambahkan 280 unit Starlink guna memastikan komunikasi tetap berjalan.

Di sektor kesehatan, pengiriman relawan kesehatan ke daerah-daerah terisolir terus dilakukan. Fokus pelayanan meliputi kesehatan dasar, bedah minor, hingga trauma healing bagi korban bencana. Seluruh RSUD di wilayah terdampak telah kembali beroperasi. Dari 867 puskesmas yang terdampak, kini tersisa delapan puskesmas yang masih dalam tahap pemulihan dan terus dikebut penyelesaiannya.

Dari sekolah darurat, huntara yang mulai dihuni, pasar rakyat yang kembali ramai, hingga layanan kesehatan yang perlahan pulih, proses pemulihan pascabencana ini adalah kisah tentang ketahanan dan gotong royong. Jalan menuju pemulihan memang panjang, tetapi langkah-langkah nyata yang terus dilakukan menjadi penanda bahwa harapan tak pernah benar-benar runtuh—ia hanya menunggu untuk dibangun kembali.

Tim Schoolmedia

Berita Selanjutnya
Penghujung Tahun, Presiden Prabowo Kembali Turun ke Lapangan Pastikan Pemulihan Pascabencana di Sumatera
Berita Sebelumnya
Pemerintah Siapkan Skema Hunian, Bansos, dan Penyesuaian APBD Pascabencana

Berita Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar