Ketika Toga Tak Lagi Milik Sarjana: Memaknai Wisuda sebagai Perayaan Proses Belajar

Schoolmedia News Jakarta = Beberapa tahun lalu, toga identik dengan mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. kini, pemandangan itu berubah. anak-anak taman kanak-kanak, siswa sekolah dasar, hingga pelajar sekolah menengah juga mengenakan toga dan berjalan menuju panggung kelulusan. fenomena ini kerap memunculkan perdebatan. sebagian menganggap wisuda di setiap jenjang terlalu berlebihan, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk apresiasi atas setiap tahap perjalanan belajar. padahal, merayakan keberhasilan bukanlah persoalan utama selama maknanya tidak bergeser.
Bagi banyak keluarga, wisuda bukan sekadar seremoni mengenakan toga atau berfoto bersama. momen itu menjadi penanda bahwa seorang anak telah melewati satu fase penting dalam hidupnya. orang tua yang selama bertahun-tahun mengantar ke sekolah, menemani belajar, hingga menguatkan saat anak menghadapi kesulitan, turut merasakan kebanggaan ketika melihat buah hatinya berdiri di atas panggung. pada akhirnya, wisuda bukan hanya milik anak, tetapi juga milik keluarga yang membersamai proses tersebut.
Namun, ada hal yang jauh lebih penting daripada kemeriahan sebuah perayaan. yang benar-benar membentuk karakter anak bukanlah beberapa menit saat namanya dipanggil, melainkan hari-hari panjang ketika ia belajar membaca, berlatih berhitung, belajar bekerja sama dengan teman, dan bangkit setiap kali mengalami kegagalan. proses itulah yang sesungguhnya layak mendapatkan perhatian terbesar, bukan semata-mata seremoni di akhir perjalanan.
Karena itu, perdebatan mengenai perlu atau tidaknya wisuda di jenjang TK atau SD sebaiknya tidak berhenti pada soal toga, dokumentasi, atau kemeriahan acara. yang lebih penting adalah memastikan bahwa perayaan tersebut tidak menjadi beban ekonomi bagi orang tua dan tidak mengaburkan tujuan utama pendidikan. wisuda seharusnya menjadi simbol rasa syukur, bukan ajang gengsi atau kompetisi sosial antarkeluarga.
Pada akhirnya, wisuda di setiap jenjang pendidikan bukanlah sesuatu yang keliru. justru, ia dapat menjadi kenangan indah bagi anak dan keluarganya. namun, kemeriahan itu akan memiliki makna jika sebanding dengan perhatian kita terhadap proses belajar yang berlangsung setiap hari. sebab, masa depan seorang anak tidak ditentukan oleh toga yang dikenakannya selama beberapa jam, melainkan oleh nilai, karakter, dan pengalaman yang ia bangun sepanjang perjalanan pendidikannya.
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Artikel Lainnya:
Perpusnas RI, Ruang Publik Serba Ada: Lebih dari Sekadar Tempat Membaca
Menjelajahi Wajah Baru TIM, Harmoni Seni, Arsitektur, dan Alam di Jantung Jakarta
Toko Merah, Raksasa Bersejarah yang Masih "Tertidur" di Kota Tua Jakarta