
Senyum Haru di Balik Ijazah yang Tak Sempat Dilihat Putranya
SURABAYA Schoolmedia News = Di tengah gemerlap toga dan sorak-sorai kebahagiaan Wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Sabtu (18/4/2026), ada satu momen yang membuat seluruh ruangan hening dan mata basah. Di Grha Sepuluh Nopember, sebuah ijazah tidak diserahkan kepada pemiliknya, melainkan kepada dua orang tua yang datang dengan hati yang campur aduk antara bangga dan perih.
Mereka adalah Abdul Ghofur dan Jumaika, orang tua dari almarhum Abdul Rohid, wisudawan Program Sarjana Terapan (D4) Teknologi Rekayasa Instrumentasi yang tak pernah sempat merasakan momen ini. Rohid, panggilan akrabnya, gugur saat menjalankan pengabdian bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP), meninggalkan mimpi besar yang kini harus diwujudkan oleh kasih sayang kedua orang tuanya.
Suasana berubah saat nama Abdul Rohid dipanggil. Bukan langkah tegap seorang sarjana yang terdengar, melainkan langkah perlahan sepasang orang tua yang berjalan menghampiri mimbar. Menteri Transmigrasi RI, Dr. Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, didampingi Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, menyambut mereka dengan penghormatan tertinggi.
Dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca, selembar kertas berharga itu diterima. Bukan sekadar dokumen, melainkan bukti perjuangan dan pengabdian seorang anak yang rela mengorbankan waktunya, bahkan nyawanya, untuk mengabdi pada negara. Ijazah itu menjadi saksi bisu bahwa cita-cita Rohid tidak hilang, ia abadi.
"Tepuk tangan meriah menggema memenuhi ruangan, bukan sekadar aplaus biasa, melainkan salam perpisahan dan penghormatan terdalam bagi seorang patriot muda. Ribuan orang berdiri, memberikan penghormatan terakhir bagi putra terbaik bangsa yang telah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan sangat mulia."
Bagi keluarga, kehadiran mereka di atas panggung wisuda adalah bukti cinta yang tak terputus oleh kematian. Mereka datang bukan untuk menangisi kepergian, melainkan untuk merayakan pencapaian anak yang luar biasa. Rohid mungkin tidak bisa mengenakan toga dan melempar topi wisuda, namun namanya akan selalu dikenang sebagai sosok yang mengabdikan hidupnya demi ilmu dan pengabdian.
Momen ini mengajarkan kita semua bahwa wisuda bukan hanya tentang selembar ijazah atau gelar di depan nama. Lebih dari itu, ini adalah tentang dedikasi, tanggung jawab, dan cinta tanah air yang dijunjung tinggi sampai nafas terakhir. Abdul Rohid telah pulang, namun jejak pengabdiannya akan terus hidup, menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya dan mengabdi.
Hari itu, di gedung wisuda ITS, air mata bercampur senyum. Sebuah pelajaran berharga tentang kehilangan, namun juga tentang kemenangan semangat yang tak pernah mati.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar