Ikhtiar Birokrasi Daerah Wujudkan Sekolah Nyaman dan Melindungi Murid Dengan Membentuk Pokja BSAN di Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota

Schoolmedia News Jakarta = Kebijakan tentang sekolah ramah anak sering kali layu sebelum berkembang karena mandek di tingkat birokrasi daerah. Guna memutus rantai tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah resmi mendorong pembentukan Pokja BSAN di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Langkah taktis lintas sektoral ini menjadi motor baru yang menggerakkan daerah untuk tidak sekadar membangun fasilitas fisik sekolah, melainkan membangun ekosistem sosial yang inklusif, sehat, dan memanusiakan murid.
Di atas kertas, sekolah adalah tempat menuntut ilmu, namun di lapangan, ia kerap menjadi ruang yang rentan bagi anak-anak. Menyadari bahwa sekolah yang aman tidak bisa dibangun hanya oleh satu instansi, pemerintah daerah kini bergerak serentak. Melalui pembentukan Pokja BSAN di 20 kabupaten/kota dan lima provinsi mitra INOVASI, ego sektoral mulai ditinggalkan. Dari ruang rapat bupati hingga sudut-sudut kelas di daerah, para pemangku kebijakan kini bersatu, memastikan bahwa setiap anak bisa melangkah ke sekolah tanpa rasa takut, dan pulang dengan hati yang gembira.
Memastikan Setiap Murid Terlindungi
Riuh rendah suara anak-anak di halaman sekolah adalah pemandangan biasa. Namun, memastikan mereka tetap tersenyum, merasa terlindungi, dan terbebas dari rasa cemas selama belajar adalah tantangan besar yang belum sepenuhnya tuntas di negeri ini. Sekolah sering kali baru sebatas tempat transfer ilmu, belum sepenuhnya menjelma menjadi tempat bernaung yang aman.
Menyadari hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kini tengah menggeser paradigma pendidikan nasional. Melalui Pusat Penguatan Karakter (PUSPEKA), pemerintah meluncurkan program Kelompok Kerja (Pokja) Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Langkah ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah gerakan budaya untuk meredefinisi fungsi sekolah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa kenyamanan siswa adalah fondasi utama dari keberhasilan sebuah ekosistem pendidikan. Landasan hukumnya pun telah diperkuat melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 dan Keputusan Menteri Nomor 17 Tahun 2026.
“Sekolah menjadi tempat di mana semua orang merayakan kebersamaan. Inilah dasar kami menekankan aspek yang lebih humanis, inklusif, dan partisipatif,” ujar Abdul Mu’ti.
Bagi Mu'ti, sekolah ideal adalah "rumah kedua".
Di tempat ini, aman dan nyaman tidak melulu berbicara tentang pagar tinggi yang kokoh atau gedung yang megah, melainkan tentang relasi sosial yang sehat antarwarga sekolah. Kebijakan BSAN dirancang untuk mengedepankan pendekatan promotif dan preventif—mencegah kekerasan dan perundungan sebelum terjadi, serta membangun karakter sejak dini.
Kolaborasi Mengikis Ego Sektoral
Sering kali, kebijakan pusat layu di tingkat daerah karena terkendala birokrasi dan ego sektoral. Mengantisipasi hal itu, Kemendikdasmen mendorong pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) BSAN di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
Pokja ini menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai instansi:
Sekretariat Daerah dan Bappeda selaku perencana anggaran dan kebijakan daerah.
Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, serta Dinas Kesehatan yang mengawal aspek psikis dan fisik anak.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) serta Dinas Kominfo.
Sebagai langkah awal, sebanyak 20 kabupaten/kota dan lima provinsi yang menjadi mitra program INOVASI—program kemitraan pendidikan antara Indonesia dan Australia—telah menandatangani komitmen bersama pembentukan Pokja ini.
Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, yang hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasinya. Pemerintah Australia melalui program INOVASI telah mendukung pengembangan dan uji coba Modul Pembiasaan Karakter Hebat, yang sukses diterapkan di Kota Batu, Jawa Timur, dan Kota Tarakan, Kalimantan Utara.
“Kami menyambut baik pembentukan kelompok kerja sekolah aman dan nyaman di tingkat daerah sebagai salah satu langkah konkret untuk memperkuat ekosistem pendidikan di daerah,” kata Gita. Praktik baik dari kedua kota tersebut kini siap direplikasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Belajar dari Praktik Baik
Dalam acara tersebut, diluncurkan pula buku berjudul *Ketika Sekolah Melindungi: Cerita dari Sekolah Mitra INOVASI dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman*. Buku ini merangkum narasi-narasi tak bising dari ruang kelas; tentang bagaimana para guru, kepala sekolah, dan orang tua bahu-bahu menciptakan ruang belajar yang inklusif.
Buku tersebut menjadi bukti bahwa menciptakan sekolah yang aman bukanlah utopia. Ketika daerah diberikan panduan yang jelas dan instansi lintas sektor mau duduk bersama, regulasi di atas kertas dapat mewujud menjadi aksi nyata di lapangan.
Pendidikan yang memanusiakan manusia hanya bisa tumbuh jika rasa takut disingkirkan dari ruang kelas.
Melalui Pokja BSAN, jalan menuju peradaban baru pendidikan Indonesia yang lebih hangat kini sedang dirintis. Targetnya jelas memastikan anak-anak melangkah ke sekolah dengan kepala tegak, dan pulang ke rumah dengan hati yang gembira.
Penuiis : Tim Schoolmedia
Sumber : Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen
Artikel Lainnya:
Krisis Lingkungan Kian Mengkhawatirkan, WALHI Bentuk Aliansi Daulat Sumatera
ITB dan BRIN Uji Coba Robot Bawah Air (ROV) Hasil Riset Multidisplin di Perairan Kepulauan Seribu
Memperingati Hari Bumi Bersama Anak dengan Jelajah Kampung dan Mendongeng Antikorupsi, Pendidikan Anti Korupsi PR Mendikdasmen