
Schoolmedia News Riau = Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP di sejumlah daerah mulai menunjukkan pergeseran cara pandang yang signifikan. Dari yang semula dianggap sebagai ujian menegangkan, kini TKA dipahami sebagai instrumen reflektif untuk mengukur kemampuan murid sekaligus mendorong semangat belajar yang lebih terarah.
Perubahan ini terlihat nyata di Kabupaten Pelalawan, Riau. Murid SMP Negeri Bernas, Fidelia Noviyanti Hutagaol, mengaku sempat diliputi rasa cemas saat pertama kali mengikuti TKA. “Awalnya deg-degan dan takut karena belum pernah dilakukan. Tapi setelah dikerjakan, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan,” ujarnya.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa esensi TKA bukanlah beban, melainkan sarana membaca kondisi pembelajaran secara utuh.
TKA Seperti Medical Chek-up
“TKA itu seperti medical check-up dalam pendidikan. Kita perlu mengetahui kondisi sebenarnya. Apa saja yang perlu diperkuat dan diperbaiki. Dari situ, kebijakan bisa disusun berbasis data, bukan perkiraan,” kata Fajar saat berdialog dengan pihak SMP Bernas.
Guru di SMP Bernas turut berperan mengintegrasikan persiapan TKA ke dalam pembelajaran reguler. Savitri Oktavia, salah satu guru, menyebut bahwa pembahasan soal dilakukan di jam pelajaran sehingga murid tetap belajar tanpa merasa terbebani. Kepala sekolah, Marisah, menambahkan bahwa TKA justru memicu murid lebih giat belajar. “Anak-anak ingin menunjukkan kemampuan terbaiknya. TKA ini sangat baik karena menguji potensi murid sekaligus kemampuan sekolah,” ujarnya.
Murid lain, Alia dan Ferdiansyah, bahkan menyampaikan kepada Wamen Fajar melalui video call bahwa soal TKA terasa menarik karena disajikan dalam bentuk cerita variatif. “Soalnya banyak cerita, jadi lebih menarik,” ungkap Alia.
Pandangan serupa juga muncul di Kota Pekanbaru. Kepala SMP Negeri 4 Pekanbaru, Rukiah, menyebut pelaksanaan TKA berjalan lancar dengan partisipasi penuh. “Anak-anak merasa materi yang diujikan sesuai dengan penguatan yang sudah diberikan di sekolah, baik numerasi maupun literasi,” jelasnya. Ia menekankan bahwa TKA menjadi instrumen penting untuk mengukur kemampuan individu murid, terutama sebagai bekal dalam jalur prestasi pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Muhammad Gafasyarianto, murid SMP Negeri 4 Pekanbaru, mengaku sempat takut mendengar tentang TKA. Namun latihan dan pembelajaran mengubah rasa takut itu menjadi motivasi. “Awalnya takut, tapi setelah belajar dan latihan saya jadi semangat. TKA ini penting untuk mengetahui kemampuan diri kita,” ujarnya. Ia menilai soal TKA menuntut pemahaman yang mengintegrasikan literasi dan numerasi, bukan sekadar hafalan.
Guru Bahasa Inggris sekaligus ketua panitia TKA 2026 di SMP Negeri 4 Pekanbaru, Sri Romadona, menambahkan bahwa tantangan utama di awal adalah mengelola kekhawatiran murid, guru, dan orang tua. “Karena ini pertama kali, semua sempat khawatir. Tapi setelah diberikan contoh soal dan kisi-kisinya, anak-anak menjadi lebih siap. Kekhawatiran itu perlahan hilang,” katanya. Ia menilai TKA mendorong pembelajaran lebih terarah karena semua mata pelajaran kini memperhatikan aspek literasi dan numerasi.
Di tingkat provinsi, Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Riau, Nilam Suri, menegaskan bahwa kelancaran pelaksanaan TKA tidak lepas dari kolaborasi seluruh pihak, mulai dari satuan pendidikan hingga pemerintah daerah.
“Pelaksanaan TKA di Riau sejauh ini berjalan lancar. Ini menunjukkan kesiapan satuan pendidikan sekaligus komitmen bersama untuk memastikan asesmen ini berjalan baik dan memberikan manfaat bagi peningkatan mutu pembelajaran,” ujarnya.
Secara umum, pelaksanaan TKA tidak hanya berjalan lancar dari sisi teknis dengan dukungan komputer, jaringan internet, dan listrik, tetapi juga membawa perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap asesmen. Dari yang semula dipersepsikan sebagai ujian menakutkan, TKA kini dipahami sebagai instrumen pembelajaran reflektif yang mendorong kejujuran, kesiapan, dan keberanian untuk mengukur diri.
Perubahan cara pandang ini menjadi dasar dalam membangun budaya belajar yang lebih sehat dan berkelanjutan. TKA tidak lagi sekadar ujian, melainkan bagian dari proses tumbuh dan berkembang setiap murid. Dengan demikian, asesmen berfungsi sebagai instrumen penguatan pembelajaran yang menumbuhkan semangat belajar, memperkuat literasi dan numerasi, serta menyiapkan murid menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar