Memperingati Hari Bumi Bersama Anak dengan Jelajah Kampung dan Mendongeng Antikorupsi, Pendidikan Anti Korupsi PR Mendikdasmen

Schoolmedia News Jakarta = Suara riuh anak-anak terdengar memecah sore di sebuah gang di Kelurahan Kalibata, Jakarta Selatan. Dengan membawa kantong sampah besar berwarna hitam, mereka menyusuri jalan-jalan sempit permukiman warga. Sebagian memungut bungkus plastik, sebagian lain mengambil botol bekas yang terselip di selokan kecil. Sesekali terdengar yel-yel kelompok yang mereka ciptakan sendiri.
Di tangan anak-anak berusia 6 hingga 11 tahun itu, Hari Bumi diperingati dengan cara sederhana: memungut sampah dan belajar tentang kejujuran.
Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama komunitas Resonansi menggelar kegiatan “Jelajah Kampung dan Mendongeng Bersama Anak” sebagai ruang edukasi alternatif untuk mengenalkan nilai antikorupsi sekaligus kepedulian lingkungan kepada anak usia dini. Lebih dari 23 anak mengikuti kegiatan tersebut sepanjang hari.
Anti Korupsi Dimulai Dari Ruang Kelas
Bagi ICW, pendidikan antikorupsi tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas atau diskusi berat tentang hukum dan politik. Nilai integritas justru dapat ditanamkan melalui kebiasaan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa menjaga lingkungan juga bagian dari tanggung jawab dan integritas,” ujar salah satu fasilitator kegiatan.
Peserta dibagi dalam empat kelompok kecil. Mereka diminta membuat nama kelompok dan jargon masing-masing. Suasana cepat mencair ketika tiap kelompok bergantian meneriakkan yel-yel dengan penuh semangat. Dari sana, perjalanan kecil mereka dimulai.
Dengan pendampingan empat alumni Lingkar Pelajar dan Sekolah Antikorupsi (SAKTI) ICW, anak-anak berjalan menyusuri lingkungan sekitar Kalibata. Mereka memungut sampah organik maupun anorganik yang ditemukan di sepanjang jalan dan membawanya kembali ke lokasi kegiatan di Resonansi.
Di akhir sesi, fasilitator mengenalkan cara memilah sampah serta menjelaskan hubungan antara disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dengan upaya menjaga lingkungan.
Pesan itu disampaikan dengan bahasa sederhana. Bahwa membuang sampah sembarangan bukan hanya soal kebersihan, melainkan juga tentang kepedulian terhadap orang lain. Tentang bagaimana tindakan kecil yang tampak sepele dapat berdampak bagi lingkungan bersama.
Di tengah meningkatnya krisis lingkungan dan maraknya praktik korupsi yang terus menghantui Indonesia, pendekatan seperti ini menjadi penting. Anak-anak diperkenalkan pada gagasan bahwa integritas bukan sekadar istilah moral yang abstrak, melainkan sikap hidup sehari-hari.
Suasana semakin hidup ketika pendongeng dari Komunitas Ayo Dongeng Indonesia, Kak Hendra, mulai bercerita di hadapan peserta. Dengan ekspresi teatrikal dan suara yang berubah-ubah mengikuti tokoh cerita, ia menyampaikan kisah tentang kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian menjaga lingkungan.
Anak-anak tertawa, bertepuk tangan, lalu mendadak hening ketika cerita memasuki bagian penuh pesan moral. Sebagian duduk bersila sambil memeluk kantong sampah yang sebelumnya mereka gunakan saat jelajah kampung.
Pendidikan Anti Korupsi Jadi PR Mendikdasmen
Di Indonesia, pendidikan antikorupsi pada anak memang masih menjadi pekerjaan rumah besar. Padahal, berbagai survei menunjukkan praktik korupsi tetap menjadi persoalan serius yang mengakar. Dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) masih kurang memberikan pendidikan antikorupsi di ruang kelas kita.
Sepanjang empat bulan pertama 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tercatat telah melakukan sedikitnya 10 operasi tangkap tangan (OTT), termasuk terhadap enam kepala daerah. Indonesia Corruption Watch menilai tingginya biaya politik masih menjadi salah satu pemicu utama korupsi di tingkat daerah.
Sementara itu, hingga Maret 2026, KPK menerima lebih dari 5.080 laporan dugaan korupsi dari masyarakat di berbagai daerah. Angka tersebut menunjukkan tingginya keresahan publik terhadap praktik penyalahgunaan kekuasaan yang terus terjadi.
Kasus-kasus korupsi yang muncul dalam beberapa bulan terakhir pun beragam. Mulai dari dugaan korupsi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terkait importasi barang, hingga perkara pembiayaan fintech yang menyeret dana ratusan miliar rupiah.
Di tengah situasi itu, pendidikan integritas sejak usia dini menjadi semakin relevan. Sebab korupsi bukan hanya soal kerugian negara, tetapi juga tentang budaya permisif terhadap ketidakjujuran yang terbentuk sejak kecil.
Karena itu, kegiatan sederhana seperti memungut sampah bersama sesungguhnya menyimpan pesan yang jauh lebih besar.
Bahwa membangun Indonesia yang bersih tidak hanya dimulai dari penindakan hukum di gedung-gedung pemerintahan, melainkan juga dari kebiasaan kecil di gang-gang permukiman. Dari anak-anak yang belajar bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Dari cerita-cerita dongeng tentang kejujuran yang ditanamkan sejak dini.
Menjelang kegiatan berakhir, masing-masing kelompok menerima apresiasi dari Resonansi. Anak-anak tampak bangga menunjukkan hasil sampah yang berhasil mereka kumpulkan.
Sore itu, gang-gang kecil di Kalibata mungkin terlihat lebih bersih dari biasanya. Namun lebih dari itu, ada benih-benih kecil tentang integritas yang mulai ditanam.
Dan seperti lingkungan yang baik, nilai-nilai itu membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh.
Tim Schoolmedia
Artikel Lainnya:
Bijak Cerdas Goes to School: Kemenko PMK dan Dicoding Hadirkan Literasi Digital dan AI bagi Siswa SD di Yogyakarta
Penyusunan Pedoman PUG sebagai Acuan Tata Kelola Sawit Berkelanjutan
Dorong Pemerataan Pendidikan hingga Papua, Mendikdasmen Resmikan Revitalisasi Sekolah di Sorong