
Schoolmedia News Aceh Tamiang = Gema takbir yang bersahutan dari menara Masjid Darussalam, Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (21/3/2026) pagi, tak sekadar menandai kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Bagi ribuan warga di kawasan hunian sementara (huntara), Idul Fitri kali ini adalah sebuah fragmen kontradiktif: sebuah perayaan di tengah kehilangan, dan doa yang dipanjatkan di atas tanah yang beberapa bulan lalu masih berupa hamparan lumpur sisa banjir bandang.
Pagi itu, suasana terasa berbeda. Di antara saf-saf jemaah yang memenuhi pelataran masjid, hadir Presiden Prabowo Subianto. Mengenakan baju koko putih dan peci hitam, Kepala Negara memilih menunaikan salat Id bersama warga terdampak bencana. Namun, bagi Nurita (45), momen paling berkesan dalam hidupnya bukanlah saat bersujud di masjid, melainkan ketika pintu unit huntaranya diketuk perlahan oleh sang Presiden usai ibadah usai.
Di dalam ruangan sempit berdinding tripleks dengan luas tak lebih dari 20 meter persegi itu, Nurita duduk berhadapan dengan Presiden. Suaranya sesekali bergetar, tertahan oleh luapan emosi yang menyesak di dada saat menceritakan bagaimana air bah datang menghantam permukiman di tengah malam buta. Banjir bandang itu menghanyutkan rumah sewaan yang selama belasan tahun menjadi tempatnya membesarkan lima orang anak sebagai orang tua tunggal.
"Kami pikir banjirnya seperti biasa, hanya semata kaki. Jadi kami tidak bawa barang apa pun. Tapi air datang begitu cepat, kencang sekali. Kata anak saya, 'Enggak usah dibawa barangnya, Mak, nyawa kita lebih penting'," kenang Nurita dengan tatapan kosong, seolah kejadian memilukan itu baru terjadi kemarin sore.
Kehilangan segalanya dalam semalam memaksa Nurita dan anak-anaknya menjalani hidup di bawah terpal jembatan yang berdebu dan tenda darurat yang pengap selama berminggu-minggu. Baginya, bisa menempati unit huntara sejak tiga bulan lalu adalah sebuah kemewahan kecil, meski ia sadar betul bahwa bangunan ini hanyalah persinggahan sementara yang rapuh. "Alhamdulillah, jauh lebih baik daripada di tenda. Kami bersyukur Pak Prabowo mau datang melihat orang kecil seperti kami," ujarnya sambil menyeka sudut mata dengan ujung kerudungnya.
Ironi di Balik Deratan Huntara
Kunjungan Presiden hari itu memang membawa suntikan moral yang besar bagi masyarakat Aceh Tamiang yang sedang terluka. Ibu Ami, warga Desa Upah, menyebut kehadiran Kepala Negara sebagai "pelipur lara". Baginya, dikunjungi Presiden saat Lebaran adalah bentuk pengakuan bahwa penderitaan mereka tidak dilupakan oleh Jakarta. "Berarti Presiden sayang sama orang Aceh Tamiang," ucapnya singkat dengan senyum tipis.
Namun, di balik narasi syukur yang menggema di unit-unit huntara yang rapi, terselip kenyataan pahit yang belum sepenuhnya terekam oleh kamera protokol kepresidenan. Jika kita berjalan beberapa ratus meter ke arah pinggiran kawasan, pemandangan berubah drastis. Di sana, deretan tenda biru berbahan plastik mulai menipis dan kusam dimakan cuaca.
Faktanya, tidak semua pengungsi seberuntung Nurita yang mendapatkan unit huntara. Keterbatasan kuota pembangunan dan kendala lahan membuat sebagian warga masih harus bertahan di tenda-tenda darurat yang becek saat hujan dan membara saat terik matahari menyengat. Di tenda-tenda itulah, beberapa warga merayakan Lebaran dengan ala kadarnya, tanpa meja makan, apalagi opor ayam yang hangat. Mereka adalah saksi bisu bahwa bantuan seringkali datang terlambat atau tidak cukup menjangkau semua tangan yang menengadah.
Bagi mereka yang masih di tenda, kehadiran Presiden adalah harapan sekaligus kecemasan. Mereka khawatir, setelah iring-iringan mobil kepresidenan meninggalkan lokasi, nasib mereka akan kembali terkubur dalam tumpukan berkas administrasi. "Kami juga ingin punya dinding, bukan sekadar plastik terpal," bisik seorang warga di kejauhan yang enggan disebutkan namanya.
Menagih Kepastian Hunian Tetap
Di hadapan Presiden, Nurita tidak hanya bercerita tentang kepedihan masa lalu. Ia membawa titipan harapan dari ratusan warga lainnya: sebuah kepastian akan masa depan yang lebih permanen.
âKalau bisa kami diberilah huntap (hunian tetap). Itu saja harapan kami. Walaupun enggak besar, kecil saja tidak apa-apa. Kami hanya minta huntap dengan Bapak Presiden,â kata Nurita dengan nada suara yang penuh harap namun tetap santun.
Permintaan Nurita adalah refleksi dari kecemasan kolektif para penyintas. Huntara, sesuai namanya, memiliki batas usia pakai. Tripleks akan melapuk jika sering terkena tempias hujan, dan atap seng akan mulai bocor dalam hitungan satu atau dua tahun. Tanpa adanya transisi menuju hunian tetap (huntap), para pengungsi ini ibarat orang yang sedang berdiri di atas jembatan gantung yang goyah; mereka telah meninggalkan jurang bencana, namun belum benar-benar menginjak daratan yang stabil.
Ibu Ades dari Desa Simpang Empat menambahkan bahwa kunjungan ini harus menjadi titik balik. "Kehadiran Bapak menambah semangat kami untuk optimistis. Kami ingin bangkit lagi, berdiri tanpa harus bergantung pada bantuan terus-menerus," tegasnya. Ia melihat bahwa bantuan fisik memang penting, namun kepastian hukum atas tempat tinggal adalah harga mati untuk memulai hidup baru.
Harapan bagi Generasi Muda
Di tengah haru biru pertemuan itu, Ibu Rusnida tak kuasa menahan air mata. Baginya, kunjungan Presiden adalah sesuatu yang bersifat "langit"âsesuatu yang mustahil namun mendadak menjadi nyata karena adanya musibah. Di balik air matanya, terselip harapan sederhana bagi anak-anak muda di Aceh Tamiang yang kehilangan kesempatan belajar dan bekerja akibat sekolah dan fasilitas umum yang rusak diterjang banjir.
"Biar lebih bagus kedepannya, anak-anak di sini biar dapat kerja semua," harap Rusnida lirih. Ia menyadari bahwa memulihkan sebuah daerah pascabencana bukan hanya soal membangun kembali gedung yang runtuh, melainkan juga memulihkan martabat dan ekonomi masyarakatnya.
Kehadiran Presiden Prabowo di Aceh Tamiang pada hari raya Idul Fitri ini mengirimkan pesan simbolis yang kuat tentang kehadiran negara di titik-titik tersulit rakyatnya. Namun, seperti yang sering diulas oleh para pengamat sosial, simbol hanyalah langkah awal.
Tantangan nyata pascabencana adalah sinkronisasi data agar tidak ada lagi pengungsi yang tertahan di tenda-tenda plastik, serta keberanian pemerintah daerah dan pusat untuk segera mengalokasikan lahan aman bagi pembangunan huntap.
Saat iring-iringan kendaraan kepresidenan perlahan meninggalkan kawasan Masjid Darussalam, debu jalanan kembali menyelimuti atap-atap seng huntara. Suara takbir mulai memudar, digantikan oleh kesibukan warga yang kembali ke unit-unit sempit mereka.
Harapan telah dititipkan langsung ke tangan tertinggi di negeri ini. Kini, Nurita dan ribuan pengungsi lainnya di Aceh Tamiang hanya bisa menunggu, apakah dialog singkat di hari fitri ini akan menjelma menjadi dinding beton hunian tetap yang mereka dambakan, atau hanya akan menjadi sekadar catatan kaki dalam sejarah kunjungan kenegaraan.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar