Tim Schoolmedia
Asa Baru dari Ruang Kelas yang Tak Lagi Bocor
JEMBER, KOMPAS â Deru mesin pompa air dan aroma tanah basah setelah hujan biasanya menjadi sinyal kecemasan bagi Mohammad Rokhim, Kepala SMP Negeri 1 Balung, Jember. Selama bertahun-tahun, sekolah yang bertetangga langsung dengan hamparan sawah ini selalu menjadi langganan banjir. Lantai kelas yang rendah membuat air dengan mudah bertamu, memaksa siswa mengangkat kaki ke atas kursi atau, lebih buruk lagi, menghentikan kegiatan belajar-mengajar.
Namun, pemandangan itu kini tinggal kenangan. Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), SMPN 1 Balung bersalin rupa. Lantai kelas ditinggikan hingga 25 sentimeter, dan dinding diperkuat setinggi satu meter untuk menghalau genangan.
"Saat wilayah sekitar kembali dilanda banjir beberapa waktu lalu, sekolah kami tidak lagi terdampak. Anak-anak senang belajar di tempat baru yang lebih bersih, tinggi, dan sejuk," ujar Rokhim dengan nada lega saat ditemui pertengahan Februari 2026.
Revitalisasi ini bukan sekadar urusan semen dan batu bata. Di Jember, program ini menyasar 142 satuan pendidikan dengan total alokasi anggaran mencapai Rp 101 miliar. Sebanyak 6 PAUD, 74 SD, 44 SMP, dan 18 SMA kini memiliki wajah baru yang lebih manusiawi.
Mengembalikan Fungsi Ruang
Persoalan klasik pendidikan di daerah sering kali berakar pada ketimpangan rasio rombongan belajar (rombel) dengan ketersediaan kelas. Di SMPN 1 Balung, 24 rombel sebelumnya harus berdesakan dalam 20 ruang kelas. Dampaknya, laboratorium dan ruang penunjang lain "dikorbankan" menjadi ruang kelas darurat.
Kondisi lebih memprihatinkan terjadi di SMP Negeri 1 Sumberjambe. Sekolah yang berdiri sejak 1983 ini seolah terlupakan oleh waktu. Selama puluhan tahun, rehabilitasi hanya menyentuh tiga ruangan pada 2013 silam. Siswa terpaksa mengungsi ke musala karena atap kelas yang keropos dan bocor mengancam keselamatan mereka.
"Baru sekarang ini kami mendapatkan bantuan miliaran rupiah. Selama 18 tahun saya mengabdi, ini adalah perubahan paling signifikan," kata Maryanto, Kepala SMPN 1 Sumberjambe.
Dana revitalisasi senilai Rp 1,9 miliar mengubah wajah sekolah tersebut. Laboratorium IPA dan ruang multimedia yang selama ini berfungsi ganda sebagai kelas, kini dikembalikan ke fungsi asalnya. Siswa tak lagi perlu waswas tertimpa plafon saat hujan deras mengguyur.
Martabat di Balik Pintu Toilet
Jika ruang kelas adalah jantung pembelajaran, maka sanitasi adalah cermin martabat sebuah sekolah. Di banyak sekolah pedesaan Jember, urusan "ke belakang" adalah perjuangan tersendiri.
Maryanto menceritakan betapa memprihatinkannya kondisi sanitasi di sekolahnya sebelum direvitalisasi. Dengan ratusan siswa, sekolah hanya memiliki dua toilet, itu pun satu dalam kondisi rusak berat. Akibatnya, sebagian siswa memilih pergi ke sungai di dekat sekolah untuk buang air.
Kini, melalui program revitalisasi, sekolah memiliki toilet yang tidak hanya bersih, tetapi juga inklusif dengan fasilitas ramah difabel. "Kebiasaan ke sungai sudah berubah. Anak-anak sangat bahagia karena sekarang toiletnya sangat memadai," tambahnya.
Hal serupa dirasakan di SD Negeri Sukorejo 02. Kepala Sekolah Ririn Husniyah menyebutkan, revitalisasi memungkinkan sekolahnya memiliki Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang layak. Sebelumnya, siswa yang sakit hanya bisa berbaring di perpustakaan atau ruang guru yang penuh sesak.
Tantangan: Transparansi dan Integritas
Di balik keberhasilan fisik yang kini nampak megah, bayang-bayang tata kelola yang bersih tetap menjadi tantangan besar. Proyek infrastruktur pendidikan di daerah kerap menjadi lahan basah praktik korupsi, mulai dari pemotongan dana (pungutan liar), material yang tidak sesuai spesifikasi, hingga pengaturan pemenang lelang.
Mekanisme swakelola yang diterapkan dalam program ini merupakan pedang bermata dua. Di satu sisi, swakelola memberikan kedaulatan bagi sekolah untuk mengawasi kualitas bangunan secara langsung. Ririn Husniyah, misalnya, menjamin kekuatan bangunan sekolahnya karena ia terlibat langsung dalam pengawasan material.
Namun, di sisi lain, mekanisme ini menuntut integritas tinggi dari kepala sekolah dan komite. Tanpa pengawasan ketat dari Inspektorat Jenderal atau partisipasi aktif masyarakat, dana miliaran rupiah tersebut rentan mengalami kebocoran halus.
Tantangan dan Solusi Pelaksanaan Revitalisasi:
Semangat Baru dalam Ruang Baru
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Muâti, saat meresmikan hasil revitalisasi di SMPN 1 Balung, menekankan bahwa infrastruktur hanyalah sarana. Esensi sesungguhnya ada pada transformasi kualitas pembelajaran.
"Revitalisasi di Jember ini sukses 100 persen secara fisik. Namun jangan lupa, kalau ruang kelasnya baru, semangatnya harus baru," pesan Mu'ti.
Pemerintah berharap, dengan lingkungan yang sehat dan bermartabat, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri kembali meningkat. Pendidikan bukan lagi soal bertahan hidup di bawah atap yang bocor, melainkan tentang mengejar mimpi di ruang yang kokoh dan nyaman.
Kini, ketika bel sekolah berbunyi di Jember, tidak ada lagi kecemasan akan banjir atau plafon yang runtuh. Yang tersisa hanyalah riuh rendah diskusi siswa di ruang-ruang kelas yang wangi cat baru, menyongsong masa depan yang lebih cerah.
Tinggalkan Komentar