
Schoolmedia News Jakarta = Pendidikan anak usia dini (PAUD) bukan sekadar fondasi dasar pembelajaran, melainkan investasi krusial bagi masa depan bangsa. Di tengah bonus demografi yang hanya datang sekali seumur hidup, Indonesia harus memaksimalkan periode emas perkembangan anak dari masa kehamilan hingga usia lima tahun. Tanpa intervensi tepat, risiko stunting dan kematian anak bisa menjebak negeri ini sebagai negara berpenghasilan menengah selamanya.
Para pakar dan pejabat tinggi sepakat: PAUD holistik integratif adalah kunci. Mereka menyoroti peran orang tua, kebijakan pemerintah, serta adaptasi budaya lokal di era kecerdasan buatan (AI).
Benang merah tersebut mengemuka dalam forum International Symposium on ECED (Early Childhood Education and Development) Kali ini topik yang diangkat adalah ECED Ecosystem Synergy in Promoting the Best Start in Life (Sinergi Ekosistem Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini dalam Mempromosikan Awal Terbaik Kehidupan) yang berlangsung akhir tahun lalu.
Pakar dan pengambil kebijakan yang tampil yaitu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Country Head Tanoto Foundation Inge Kusuma, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Prof. Stella Christie, serta pakar SEAMEO Widodo Suhartoyo berbagi pandangan mendalam.
Bonus Demografi 2030-2035 Jangan Terlewatkan
Indonesia berdiri di persimpangan sejarah. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, negeri ini sedang mengejar cita-cita menjadi negara berpenghasilan tinggi pada 2035. Tantangan terbesar adalah memanfaatkan bonus demografi sekitar 2030-2035, saat populasi usia produktif mendominasi.
"Jika kesempatan ini terlewat, Indonesia dikhawatirkan terjebak selamanya sebagai negara berpendapatan menengah," tegas Budi dalam keterangannya baru-baru ini. Kunci utama peningkatan pendapatan bangsa, lanjutnya, terletak pada kecerdasan dan kesehatan masyarakat, khususnya anak usia dini. Sektor kesehatan wajib fokus sejak masa kehamilan hingga usia lima tahunâperiode emas pembentukan anak sehat dan cerdas.
Budi menyoroti dua masalah krusial: angka kematian anak yang masih tinggi dan prevalensi stunting yang menghambat kualitas sumber daya manusia (SDM). "Ada begitu banyak program untuk anak, tapi jangan lupa yang paling penting adalah bagaimana agar mereka hidup dan bagaimana membuat mereka sehat," ujarnya. Ia mengajak semua pihak, terutama orang tua, untuk mengoptimalkan kesehatan anak dan mendukung tumbuh kembang mereka melalui gizi, stimulasi, dan perlindungan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat urgensi ini. Prevalensi stunting di Indonesia masih mencapai 21,6 persen pada 2022, turun dari 27,7 persen tahun 2019, tapi masih jauh dari target nol persen pada 2024. Tanpa penanganan dini, generasi mendatang berisiko rendah produktivitas, dengan kerugian ekonomi mencapai Rp300 triliun per tahun akibat hilangnya potensi pendapatan.
Orang Tua Aktor Utama Perkembangan Anak
Orang tua adalah garda terdepan dalam PAUD. Country Head Tanoto Foundation Indonesia, Inge Kusuma, menekankan fakta global: lebih dari 43 persen anak balita berisiko tak mencapai potensi penuh karena kurang stimulasi, gizi, dan kesempatan belajar dini. Di Indonesia, ada 8,7 juta anak balita, dengan 88 persen pengasuhan utama di keluarga. Sayangnya, hanya sebagian kecil orang tua mendapat pendampingan rutin soal pengasuhan responsif.
"Di Indonesia, terdapat 8,7 juta anak balita, dengan 88% pengasuhan utama dalam keluarga, namun hanya sebagian kecil orang tua menerima pendampingan rutin soal pengasuhan responsif," kata Inge. Solusi kunci ada pada pemberdayaan orang tua sebagai "aktor utama". Tanoto Foundation menawarkan model Rumah Anak SIGAP, edukasi berbasis komunitas yang mendorong perubahan perilaku, keterlibatan ayah, dan penguatan lingkungan belajar rumah tangga.
Program ini memastikan setiap anak mendapat stimulasi, gizi, perlindungan, dan kesempatan belajar sedini mungkin melalui kolaborasi lintas pihak. Di Bekasi, Jawa Barat, misalnya, Rumah Anak SIGAP telah menjangkau ribuan keluarga, meningkatkan indikator gizi dan kesiapan belajar anak hingga 30 persen dalam dua tahun terakhir. Pendekatan ini holistik, mengintegrasikan kesehatan, pendidikan, dan dukungan sosial.
Era AI: Belajar Manusiawi, Bukan Menyerupai Mesin
Di tengah disrupsi AI, PAUD harus menjaga esensi kemanusiaan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Prof. Stella Christie mengajukan pertanyaan besar: bagaimana anak belajar di era AI? Ia merujuk penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang membandingkan mahasiswa belajar dengan AI, search engine, atau tanpa teknologi. Hasilnya, ketergantungan penuh pada AI justru menurunkan performa otak.
"Anak tidak boleh dibentuk untuk menjadi seperti AI, karena mereka tidak akan pernah melampaui AI dalam kecepatan atau kapasitas data," tegas Stella. Kunci agar manusia tak tergantikan adalah kemampuan unik: berpikir, menemukan pola, membandingkan struktur, berinovasi, dan belajar alami dari lingkungan. Penelitiannya di Tsinghua University, China, pada anak usia 2-3 tahun menunjukkan mereka mampu memahami pola sederhanaâdasar inovasi ilmiah dan teknologi nyata.
Stella menjelaskan, anak belajar efisien melalui pengalaman, interaksi, dan generalisasi, bukan hafalan. AI justru meniru cara anak belajar, bukan sebaliknya. Masa kecil bukan waktunya jejali coding atau pelatihan teknis mesin. Fokus PAUD harus pada koneksi dengan pengasuh, kreativitas, relasi sosial, empati, pemecahan masalah, dan eksplorasi dunia nyata dengan sainsâkemampuan yang tak dimiliki AI.
"Jika Anda mengajari anak untuk menjadi seperti AI, mereka tidak akan lebih baik dari AI," pungkas Stella. Pendekatan ini selaras dengan kurikulum PAUD nasional yang menekankan bermain berbasis alam dan sosial.
Kemudahan akses informasi di era digital memberi orang tua referensi pola asuh berlimpah. Namun, Deputy Director SEAMEO CECCEP Widodo Suhartoyo mengingatkan, pengasuhan tak lepas dari budaya. Model Barat prioritas kemandirian, sementara Indonesia unggul gotong royong, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif.
Jika teori Barat diadopsi mentah-mentah, anak berisiko pintar kognitif tapi kehilangan identitas dan solidaritas sosial. Konsep "ethnoparenting" menegaskan pengasuhan dipengaruhi agama, tradisi, nilai komunitas, dan struktur sosial. Model global harus dipadukan kearifan lokal agar anak berkembang selaras mental, sosial, karakter, dan budaya.
Di ASEAN, strategi umum menekankan keterlibatan ayah, pendekatan komunitas, kolaborasi multipihak, serta layanan holistik sejak dini. Widodo mendorong adaptasi seperti ini di Indonesia, di mana tradisi "sungkeman" atau "arisan ibu-ibu" bisa dioptimalkan untuk sesi pengasuhan bersama.
RAN PAUD HI 2025-2029 Sinergi Kebijakan Nasional
Pemerintah merespons dengan Rencana Aksi Nasional Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (RAN PAUD HI) 2025-2029. Dokumen ini mengoreksi miskonsepsi: PAUD-HI bukan hanya "Pendidikan", tapi "Pengembangan" menyeluruh, termasuk usia 0-3 tahun, ibu hamil, dan keluarga.
Refleksi sebelumnya tunjukkan layanan terfokus pendidikan saja, sehingga kesehatan dan gizi terabaikan. RAN PAUD HI jadi rujukan substantif daerah, dengan indikator konsisten mudah diadopsi perencanaan lokal. Dokumen ini kuatkan peran PAUD-HI di RPJMN, integrasikan layanan lintas sektor: pendidikan, pengasuhan, kesehatan, gizi, perlindungan, hingga kesejahteraan sosial.
Targetnya, layanan holistik bagi anak dari janin hingga enam tahun. Kementerian terkait dan pemerintah daerah diwajibkan selaraskan program, seperti Posyandu Plus dan Bina Keluarga Balita (BKB). Di Jawa Barat, misalnya, integrasi ini telah turunkan stunting 5 persen dalam pilot project 2024.
PAUD sebagai investasi masa depan bangsa menuntut aksi kolektif. Dari narasi Budi soal kesehatan dasar, Inge soal pemberdayaan orang tua, Stella soal belajar manusiawi, Widodo soal budaya, hingga RAN PAUD HI, pesan utama jelas: mulai dari sekarang.
Bayangkan Indonesia 2035: generasi sehat, cerdas, inovatif, berakar budaya. Itu mungkin jika orang tua aktif, komunitas solid, pemerintah terkoordinasi, dan swasta berkontribusi. Bonus demografi bukan mimpi, tapi realitas jika PAUD diutamakan.
Forum-forum seperti ini jadi pengingat: setiap anak adalah calon pemimpin bangsa. Dengan PAUD holistik, Indonesia tak hanya maju ekonomi, tapi unggul kemanusiaan.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar