Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
tokoh

Dari Keluarga Petani Banyumas, Mohamad Toriq Anwar Jadi Lulusan Terbaik IPDN dan Dilantik Presiden

author Ashad Rizki
Aug 05, 2026 |
1 Dilihat


Schoolmedia News - Perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dari keadaan yang serba mudah. Mohamad Toriq Anwar membuktikannya. Pemuda asal Banyumas, Jawa Tengah, itu tumbuh dalam keluarga sederhana yang sehari-hari mengandalkan penghasilan dari bertani, beternak bebek, dan menjual telur bebek ke warung-warung di sekitar tempat tinggalnya.

Keterbatasan ekonomi tidak membuat Toriq berhenti bermimpi. Justru dari kondisi tersebut, ia memiliki tekad untuk menempuh pendidikan yang dapat membuka jalan bagi masa depannya sekaligus mengangkat kehidupan keluarganya.

Tekad tersebut membawanya mengikuti Seleksi Penerimaan Calon Praja (SPCP) Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) pada 2022. Pilihan terhadap IPDN juga berkaitan dengan kondisi keluarganya. Sebagai sekolah kedinasan, pendidikan di IPDN dibiayai negara, termasuk biaya pendidikan dan kebutuhan hidup selama menjalani pendidikan.

Namun, untuk mencapai tahap seleksi saja Toriq sudah harus menghadapi tantangan. Ia harus menempuh perjalanan dari Banyumas menuju Semarang untuk mengikuti rangkaian tes. Jarak yang cukup jauh membuatnya membutuhkan biaya transportasi dan berbagai kebutuhan administrasi. Dalam kondisi tertentu, orang tuanya bahkan tidak selalu memiliki uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Meski demikian, keterbatasan biaya tidak membuat Toriq mundur. Ia tetap mengikuti proses seleksi dan berusaha memberikan kemampuan terbaik. Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Toriq berhasil meraih peringkat kedua pada hasil akhir seleksi IPDN di tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Setelah dinyatakan diterima, perjalanan Toriq belum selesai. Ia justru memasuki tahap baru yang menuntut kedisiplinan, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi. Selama empat tahun menjalani pendidikan di IPDN, ia menghadapi berbagai dinamika sebagai praja.

Bagi Toriq, orang tua menjadi sumber motivasi utama. Dukungan mereka tidak hanya diberikan dalam bentuk materi, tetapi juga melalui doa, perhatian, dan kesediaan menjadi tempat bagi Toriq untuk menyampaikan keluh kesah selama menjalani pendidikan.

Ia menyadari bahwa pencapaian yang diraih bukan semata-mata hasil perjuangannya sendiri. Ada orang tua yang terus bekerja dan berdoa di belakangnya. Ada pula proses panjang selama empat tahun yang harus dijalani dengan penuh kesungguhan.

Kerja keras tersebut akhirnya membawa Toriq menjadi salah satu dari 1.204 lulusan IPDN Angkatan XXXIII tahun 2026. Lebih membanggakan lagi, ia berhasil masuk dalam jajaran lulusan terbaik. Presiden Prabowo Subianto bahkan menyebut bahwa 10 lulusan terbaik IPDN tahun tersebut berasal dari keluarga yang sangat sederhana, termasuk anak petani, buruh, dan anak bintara TNI.

Momen kelulusan Toriq semakin istimewa karena ia menjadi salah satu dari tiga perwakilan lulusan yang mendapatkan penyematan tanda pangkat Pamong Praja Muda secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam upacara pelantikan di Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, pada 29 Juli 2026.

Bagi Toriq, pengalaman tersebut merupakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Seorang anak petani dari Banyumas kini berdiri di hadapan Presiden setelah menyelesaikan pendidikan selama empat tahun dan meraih prestasi sebagai salah satu lulusan terbaik.

Kebanggaan itu kemudian bercampur dengan rasa syukur. Setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan, Toriq akhirnya memasuki fase baru sebagai Pamong Praja Muda. Baginya, kelulusan bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga awal dari perjalanan pengabdian kepada bangsa dan negara.

Perjalanan Toriq memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak harus menjadi batas bagi seseorang untuk memiliki cita-cita besar. Dari keluarga yang hidup dari pertanian dan peternakan, ia mampu mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan kedinasan dan menyelesaikannya dengan prestasi membanggakan.

Yang membuat kisah tersebut semakin kuat adalah proses yang harus ia lalui sejak awal. Bahkan sebelum menjadi praja, Toriq sudah berhadapan dengan persoalan biaya untuk mengikuti seleksi. Ia tidak memiliki fasilitas berlebih, tetapi tetap berusaha mencari jalan agar dapat mengikuti kesempatan tersebut.

Setelah diterima, ia juga tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diperjuangkan. Empat tahun pendidikan dijalani hingga akhirnya ia memperoleh predikat sebagai salah satu lulusan terbaik.

Kisah Toriq menjadi gambaran bahwa pendidikan dapat menjadi jalan perubahan bagi keluarga. Kesempatan untuk belajar tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka ruang bagi anak-anak dari berbagai latar belakang untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Kini, Toriq tidak lagi hanya membawa harapan pribadi. Sebagai Pamong Praja Muda, ia akan memasuki dunia pengabdian dan menjalankan tanggung jawab kepada masyarakat. Pengalaman hidup sebagai anak petani menjadi bagian dari perjalanan yang dapat membentuk cara pandangnya ketika kelak menjalankan tugas pemerintahan.

Ia juga membawa pesan penting bagi generasi muda yang mungkin merasa keterbatasan sebagai alasan untuk menyerah. Kondisi keluarga boleh menjadi tantangan, tetapi bukan berarti cita-cita harus berhenti. Selama masih ada kemauan untuk berusaha dan memanfaatkan kesempatan, jalan menuju keberhasilan tetap terbuka.

Dari Banyumas, perjalanan Toriq menjadi cerita tentang kerja keras seorang anak yang ingin membanggakan keluarganya. Dari perjalanan panjang menuju lokasi seleksi, perjuangan melewati pendidikan kedinasan selama empat tahun, hingga akhirnya berdiri sebagai salah satu lulusan terbaik IPDN dan menerima penyematan tanda pangkat dari Presiden.

Perjalanan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik sebuah prestasi, sering terdapat perjuangan yang tidak terlihat. Ada orang tua yang bekerja keras, ada perjalanan yang harus ditempuh, ada keterbatasan yang harus dihadapi, serta ada tekad yang terus dijaga.

Mohamad Toriq Anwar kini memasuki babak baru. Anak petani dari Banyumas itu telah menyelesaikan pendidikannya dan siap menjalankan pengabdian sebagai Pamong Praja Muda. Prestasi yang diraihnya bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi dan keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari keluarga sederhana.

_

Sumber:https://www.detik.com/edu/edutainment/d-8602962/anak-petani-dari-banyumas-jadi-lulusan-terbaik-ipdn-perjuangannya-mengharukan

Sayang Tanpa Pamrih, Satoe Atap Semarang Setia Dampingi Anak-anak Menjemput Masa Depan
tokoh Selanjutnya
Sayang Tanpa Pamrih, Satoe Atap Semarang Setia Dampingi Anak-anak Menjemput Masa Depan
author Ashad Rizki
Aug 05, 2026
Sempat Gagal Akpol hingga IPDN, Charina Anggie Kini Jadi Sapta Abdi Praja dan Wujudkan Mimpi Sang Ayah
tokoh Sebelumnya
Sempat Gagal Akpol hingga IPDN, Charina Anggie Kini Jadi Sapta Abdi Praja dan Wujudkan Mimpi Sang Ayah
author Ashad Rizki
Aug 04, 2026

Komentar