Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
tokoh

Sempat Gagal Akpol hingga IPDN, Charina Anggie Kini Jadi Sapta Abdi Praja dan Wujudkan Mimpi Sang Ayah

author ASHAD
Aug 04, 2026 |
359 Dilihat

Schoolmedia News - Tidak semua keberhasilan lahir dari perjalanan yang mudah. Ada mimpi yang harus diperjuangkan melalui kegagalan, penolakan, hingga masa-masa penuh keraguan. Perjalanan itulah yang dialami Charina Anggie Simbolon, perempuan asal Batam, Kepulauan Riau, yang akhirnya berhasil menjadi salah satu lulusan terbaik atau Sapta Abdi Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXIII.

Pencapaian tersebut terasa semakin bermakna karena perjalanan Anggie menuju IPDN tidak berlangsung sekali coba. Setelah lulus SMA, ia sempat mengikuti sejumlah seleksi, mulai dari Akademi Kepolisian (Akpol), seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) Kejaksaan, hingga seleksi IPDN pada 2021. Namun, berbagai kesempatan tersebut belum membawanya pada hasil yang diharapkan.

Kegagalan berkali-kali sempat membuat Anggie mempertimbangkan untuk bekerja. Kondisi keluarganya juga menjadi pertimbangan karena orang tua masih harus membiayai pendidikan adik-adiknya. Namun, sang ayah justru memintanya untuk tetap memperjuangkan pendidikan dan cita-citanya.

Ada sebuah pesan dari sang ayah yang terus diingat Anggie. Sang ayah yang merupakan prajurit TNI Angkatan Darat berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu) pernah menyampaikan harapan agar keempat anaknya dapat berjuang menjadi seorang perwira, melalui jalur pendidikan kedinasan apa pun yang mereka pilih. Pesan tersebut kemudian menjadi salah satu sumber motivasi bagi Anggie untuk terus mencoba.

Anggie sendiri tumbuh dalam keluarga sederhana. Ia menghabiskan masa kecil di lingkungan rumah dinas Kodim di Batam. Ayahnya bertugas sebagai prajurit TNI AD, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga. Dari keluarga tersebut, Anggie belajar mengenai rasa syukur dan keteguhan untuk menghadapi berbagai keadaan.

Ketika belum berhasil masuk pendidikan kedinasan, Anggie tidak hanya menunggu kesempatan berikutnya. Ia menghabiskan sekitar sembilan bulan sebagai relawan di sebuah shelter yang mendampingi korban perdagangan manusia serta perempuan dan anak yang mengalami kekerasan. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting mengenai kehidupan dan perjuangan manusia.

Masa tersebut justru membuat Anggie semakin memahami arti bersyukur. Kegagalan yang sebelumnya terasa berat perlahan ia lihat sebagai bagian dari proses kehidupan. Ia menyadari bahwa di tengah kegagalan, masih ada keluarga yang memberikan dukungan dan menjadi tempat untuk kembali mendapatkan semangat.

Kesempatan berikutnya datang ketika Anggie kembali mengikuti seleksi IPDN pada 2022. Kali ini, perjuangannya berbuah hasil. Ketika melihat hasil Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dengan nilai yang memuaskan, air mata Anggie langsung mengalir. Baginya, hasil tersebut bukan sekadar angka dalam sebuah seleksi, tetapi jawaban atas perjuangan yang telah dilakukan selama beberapa tahun.

Setelah berhasil melewati seluruh tahapan seleksi, Anggie resmi menjadi Praja IPDN. Kesempatan tersebut tidak disia-siakannya. Ia berusaha mempertahankan prestasi selama menjalani pendidikan. Setelah melewati masa adaptasi di tahun pertama, Anggie berhasil menjadi peringkat pertama di program studinya pada tingkat dua. Prestasi tersebut kembali dipertahankannya ketika memasuki tingkat tiga.

Konsistensi itulah yang kemudian mengantarkan Anggie menjadi salah satu penyandang Sapta Abdi Praja, predikat bagi lulusan terbaik IPDN Angkatan XXXIII. Perjalanan dari berbagai kegagalan menuju pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa hasil besar sering kali membutuhkan proses panjang dan ketekunan.

Bagi Anggie, pencapaian tersebut juga memiliki makna personal. Ia berhasil mewujudkan harapan sang ayah yang sejak awal mendorong anak-anaknya untuk berjuang menjadi perwira. Apa yang dahulu menjadi cita-cita yang belum sempat diwujudkan sang ayah, kini dapat diteruskan oleh putrinya melalui jalur pendidikan kedinasan.

Kisah Anggie menunjukkan bahwa kegagalan tidak selalu berarti seseorang berada di jalan yang salah. Terkadang, kegagalan justru menjadi proses untuk menemukan jalan yang paling sesuai. Setelah gagal dalam sejumlah seleksi, Anggie akhirnya menemukan jalannya di IPDN dan mampu menorehkan prestasi hingga menjadi salah satu lulusan terbaik.

Perjalanan tersebut juga memperlihatkan pentingnya dukungan keluarga dalam menghadapi kegagalan. Ketika seseorang berada pada titik terendah, dukungan orang-orang terdekat dapat menjadi alasan untuk kembali mencoba. Bagi Anggie, dukungan orang tua dan pesan sang ayah menjadi bagian penting dalam menjaga semangatnya.

Kini, perjalanan Anggie memasuki babak baru. Predikat Sapta Abdi Praja bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar sebagai lulusan pendidikan kedinasan. Pengalaman menghadapi kegagalan, menjadi relawan, menjalani pendidikan, hingga meraih prestasi menjadi bekal untuk menjalankan pengabdian di masa depan.

Dari Batam hingga kampus IPDN Jatinangor, kisah Charina Anggie Simbolon menjadi cerita tentang keteguhan hati. Ia pernah gagal dalam sejumlah seleksi, sempat ingin bekerja, dan harus menunggu kesempatan yang tepat. Namun, ia memilih untuk tidak berhenti.

Pada akhirnya, kegagalan yang pernah membuat langkahnya tertunda justru menjadi bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Anggie membuktikan bahwa mimpi yang diperjuangkan dengan ketekunan, dukungan keluarga, dan keberanian untuk kembali mencoba dapat membawa seseorang sampai pada titik yang sebelumnya mungkin terasa jauh.

Bagi pelajar dan generasi muda yang sedang menghadapi kegagalan, kisah Anggie menyampaikan satu pesan penting: gagal bukan berarti selesai. Selama masih ada kemauan untuk belajar, memperbaiki diri, dan mencoba kembali, selalu ada kemungkinan untuk menemukan jalan menuju tujuan.

_

Sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/08/03/090612978/dulu-gagal-berkali-kali-2-pemuda-banyuwangi-kini-jadi-lulusan-terbaik-aal

Sempat Gagal Berkali-kali, Dua Pemuda Banyuwangi Justru Jadi Lulusan Terbaik AAL
tokoh Sebelumnya
Sempat Gagal Berkali-kali, Dua Pemuda Banyuwangi Justru Jadi Lulusan Terbaik AAL
author ASHAD
Aug 04, 2026

Komentar