Sudah Lolos Kedokteran Unair, Hafiz Tetap Mengejar Mimpi Menjadi Polisi

Schoolmedia News - Bagi sebagian besar siswa Indonesia, diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) adalah impian yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun. Namun, bagi Muhammad Hafiz Ridwan, keberhasilan itu ternyata bukan akhir dari perjalanan. Di tengah kebahagiaan diterima di salah satu fakultas kedokteran terbaik di Indonesia, ia justru memilih tetap mengikuti seleksi Akademi Kepolisian (Akpol). Bahkan, Hafiz mengaku siap melepas statusnya sebagai mahasiswa kedokteran apabila dinyatakan lolos menjadi taruna Akpol. Keputusan itu bukan diambil secara spontan, melainkan lahir dari cita-cita yang telah tumbuh sejak masa kanak-kanak.
Sejak kecil, Hafiz sudah akrab dengan dunia kepolisian. Ia mengenyam pendidikan di TK dan SD Kemala Bhayangkari serta pernah mengikuti lomba polisi cilik hingga meraih juara tingkat Kota Surabaya. Lingkungan tersebut semakin memperkuat mimpinya ketika melihat langsung perjuangan sang ayah yang berkarier di Polri. Ayahnya memulai karier dari jenjang bintara, kemudian terus melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor dan kini berpangkat AKBP. Sosok ayah yang aktif memberikan pendampingan psikologis kepada masyarakat dan korban bencana membuat Hafiz melihat profesi polisi sebagai bentuk pengabdian yang mulia. Dari sanalah tumbuh keyakinan bahwa dirinya ingin mengikuti jejak sang ayah untuk melayani masyarakat.
Keinginan tersebut tidak membuat Hafiz mengabaikan pendidikan. Selama bersekolah di SMAN 28 Jakarta, ia tetap berprestasi secara akademik sekaligus aktif dalam organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua OSIS dan meraih medali emas pada ajang World Science Environmental and Engineering Competition tahun 2024 dan 2025. Sejak kelas 10, Hafiz juga menjalani latihan fisik, psikologi, dan akademik secara rutin sebagai persiapan mengikuti seleksi Akpol. Baginya, membangun kemampuan intelektual harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter, kedisiplinan, serta ketahanan fisik. Semua itu menjadi bekal penting untuk menghadapi seleksi yang dikenal sangat kompetitif.
Perjalanan menuju Akpol tentu tidak selalu mulus. Hafiz mengaku sempat kecewa ketika nilai Tes Potensi Akademiknya tidak sesuai harapan. Namun, ia memilih tidak larut dalam kekecewaan. Ia bangkit dan fokus menghadapi tahapan berikutnya hingga berhasil meraih nilai kesamaptaan tertinggi se-Polda Metro Jaya dengan skor 93,20. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa kegagalan dalam satu tahap bukan berarti akhir dari perjuangan. Menurutnya, seleksi Akpol memiliki tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan kompetisi ilmiah karena yang dipertaruhkan bukan sekadar gelar juara, melainkan cita-cita hidup yang telah diperjuangkan sejak kecil.
_
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Bukan Sekadar Anak Artis, Abe Lasso Buktikan Prestasi dengan Lulus dari LSE Berkat Beasiswa
Dosen USK Berhasil Raih Beasiswa S3 di Amerika dan Menjadi Asisten Dosen di Rhode Island