Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
tokoh

Dosen Unesa Sulap Daun Nanas Jadi Tekstil Ramah Lingkungan yang Mendunia

author Andeliyumna
Jul 29, 2026 |
4 Dilihat


Schoolmedia News - Di banyak sentra perkebunan nanas di Indonesia, daun-daun yang tersisa setelah panen biasanya hanya dianggap limbah. Sebagian dibiarkan membusuk, sebagian lagi dibakar agar lahan siap ditanami kembali. Padahal, di balik helaian daun yang sering terabaikan itu tersimpan serat alam dengan potensi luar biasa. Cara pandang inilah yang menggerakkan Inty Nahari, dosen Program Magister Industri Kreatif Universitas Negeri Surabaya (Unesa), untuk melihat limbah bukan sebagai akhir dari sebuah proses, melainkan awal lahirnya sebuah inovasi. Melalui riset yang dimulai sejak 2023, ia berhasil mengolah serat daun nanas madu Kelud menjadi material tekstil berkelanjutan yang diberi nama Barik.

Perjalanan menciptakan Barik tidak berlangsung dalam waktu singkat. Inty bersama timnya melakukan berbagai eksperimen untuk memahami karakter serat daun nanas, mulai dari proses pengambilan serat, pengeringan, hingga teknik pengolahannya menjadi bahan tekstil. Berbeda dengan tekstil industri yang seragam, setiap serat daun nanas memiliki warna, ketebalan, dan tekstur yang berbeda-beda. Alih-alih menghilangkan karakter alami tersebut, Inty justru mempertahankannya sebagai identitas utama karya. Ia memadukan serat alami itu dengan teknik tenun tradisional sehingga menghasilkan permukaan tekstil yang unik dan tidak pernah benar-benar sama pada setiap lembar kain.

Bagi Inty, penelitian ini bukan hanya tentang menciptakan produk baru, tetapi juga tentang mengangkat kekayaan alam Indonesia ke panggung dunia. Melalui karya Barik, ia ingin menunjukkan bahwa material lokal mampu berbicara mengenai isu-isu global seperti keberlanjutan lingkungan, ekonomi sirkular, pengurangan limbah pertanian, dan pelestarian pengetahuan tradisional. Gagasan tersebut mendapat pengakuan internasional ketika Barik dipamerkan dalam pameran seni "Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Bali, bersama puluhan karya dari seniman dan praktisi berbagai negara. Di sana, serat daun nanas dari lereng Gunung Kelud menjadi representasi bahwa inovasi besar dapat lahir dari sumber daya lokal yang selama ini dipandang sebelah mata.

Lebih jauh lagi, hasil penelitian ini membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Serat daun nanas berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari fesyen, aksesori, elemen interior, panel dekoratif, hingga produk kriya. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, inovasi ini dapat melibatkan petani nanas, perajin tenun, desainer, peneliti, pelaku industri kreatif, hingga pemerintah daerah dalam satu rantai nilai yang saling menguntungkan. Limbah pertanian yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat berubah menjadi bahan baku bernilai tinggi sekaligus menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.

_

Penulis: Ashad Rizki

Editor: Ashad Rizki

Sumber:https://www.kompas.com/edu/read/2026/07/27/105717771/dosen-unesa-olah-limbah-daun-nanas-jadi-bahan-tekstil

Dosen USK Berhasil Raih Beasiswa S3 di Amerika dan Menjadi Asisten Dosen di Rhode Island
tokoh Selanjutnya
Dosen USK Berhasil Raih Beasiswa S3 di Amerika dan Menjadi Asisten Dosen di Rhode Island
author Andeliyumna
Jul 29, 2026
Putri Penjual Kelontong Penyandang Disabilitas yang Berhasil Kuliah di Unesa
tokoh Sebelumnya
Putri Penjual Kelontong Penyandang Disabilitas yang Berhasil Kuliah di Unesa
author Andeliyumna
Jul 29, 2026

Komentar