Dari Anak Buruh Bangunan Menjadi Lulusan Terbaik IPDN

Schoolmedia News - Di sebuah keluarga sederhana di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Aji Bayu Ramadhan tumbuh dengan menyaksikan ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan demi menghidupi keluarga. Penghasilan yang tidak selalu besar tak pernah mengurangi semangat kedua orang tuanya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Sejak kecil, Aji memahami bahwa setiap tetes keringat ayahnya adalah bentuk kasih sayang dan harapan agar sang putra memiliki masa depan yang lebih baik. Kesadaran itulah yang mendorongnya untuk belajar sungguh-sungguh dan tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan yang datang.
Perjalanan menuju Institut Pemerintahan Dalam Negeri bukanlah sesuatu yang instan. Aji mengikuti seluruh proses seleksi dari daerah asalnya di NTT hingga menjalani berbagai tahapan ujian di Kupang. Ia berhasil lolos melalui proses seleksi yang kompetitif tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarganya. Selama menjalani pendidikan di IPDN, ia dikenal sebagai praja yang disiplin, tekun, dan konsisten menjaga prestasi akademik maupun nonakademik. Berkat kerja keras tersebut, Aji mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84 di Program Studi Teknologi Rekayasa Informasi Pemerintahan (TRIP) dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik angkatannya.
Prestasi Aji semakin istimewa karena ia juga menerima penghargaan Kartika Astha Brata, penghargaan yang setiap tahun hanya diberikan kepada satu lulusan terbaik IPDN dengan pencapaian tertinggi dalam aspek akademik, pelatihan, dan pengasuhan. Sebelum prosesi wisuda, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian bahkan memanggil Aji ke atas panggung saat pembekalan calon wisudawan. Dalam kesempatan itu, Aji menjawab berbagai pertanyaan mengenai daerah asalnya dengan percaya diri dan menunjukkan wawasan yang luas. Dialog singkat tersebut menjadi momen yang menarik perhatian banyak orang sekaligus memperlihatkan kualitas lulusan yang dibentuk selama menempuh pendidikan di IPDN.
Bagi Aji, keberhasilan ini bukan hanya pencapaian pribadi. Di balik toga dan penghargaan yang diterimanya, tersimpan pengorbanan orang tua yang selama bertahun-tahun bekerja keras demi pendidikan anaknya. Ia menyadari bahwa setiap keberhasilan yang diraih merupakan hasil dari doa keluarga, dukungan para guru, serta tekad untuk tidak menyerah meski berasal dari lingkungan yang serba terbatas. Latar belakang sebagai anak buruh bangunan justru menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa prestasi tidak ditentukan oleh profesi orang tua, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar dan bekerja keras.
_
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Sudah Lolos Kedokteran Unair, Hafiz Tetap Mengejar Mimpi Menjadi Polisi