Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
tokoh

Semangkuk Kenangan yang Tak Pernah Habis: Kisah SGPC Bu Wiryo Menjaga Warisan Rasa Sejak 1959

author Andeliyumna
Jul 23, 2026 |
16 Dilihat

Schoolmedia News Yogyakarta - Bagi banyak orang, semangkuk sayur dan sepiring pecel mungkin hanya menu sederhana. Namun di Yogyakarta, SGPC Bu Wiryo 1959 telah menjadi lebih dari sekadar tempat makan. Warung ini adalah ruang yang menyimpan kenangan ribuan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), tempat mereka mengisi perut ketika uang saku menipis, berdiskusi hingga larut, bahkan menitipkan mimpi-mimpi besar yang kelak mengantarkan mereka menjadi tokoh di berbagai bidang. Di balik kepopulerannya, tersimpan kisah perjuangan yang tidak banyak diketahui para pelanggannya.

Perjalanan itu berlanjut di tangan Kelik Indarto, putra pertama Bu Wiryo. Pada akhir 1980-an, ia mulai merintis warung sendiri. Ketika kondisi kesehatan sang ibu menurun pada 1994, seluruh aktivitas dipindahkan ke warung di kawasan Selokan Mataram yang hingga kini menjadi rumah SGPC Bu Wiryo. Namun, cobaan datang bertubi-tubi. Krisis ekonomi membuat harga bahan baku melonjak, mahasiswa mulai beralih ke tempat makan baru, dan pada tahun 2000 warung legendaris itu nyaris gulung tikar. Di tengah situasi sulit, Kelik hanya mengingat satu pesan ibunya: jangan pernah menutup SGPC dan jangan mengubah resep yang telah diwariskan.


Berbekal pesan tersebut, Kelik mengambil keputusan yang tidak mudah. Ia mengubah segmentasi pasar dari mahasiswa menjadi keluarga agar usaha tetap bertahan, meski harus menaikkan harga menu. Banyak yang meragukan langkah itu, tetapi waktu membuktikan sebaliknya. SGPC Bu Wiryo justru berubah menjadi tempat nostalgia bagi para alumni UGM. Mereka datang kembali, membawa pasangan, anak, bahkan cucu untuk memperkenalkan warung yang pernah menjadi bagian dari masa muda mereka. Sebuah warung sederhana berubah menjadi ruang temu lintas generasi yang dipenuhi cerita dan kenangan.

Ada kisah-kisah kecil yang membuat SGPC Bu Wiryo terasa begitu istimewa. Dulu, Bu Wiryo kerap membiarkan mahasiswa yang "dharmaji"—makan lebih banyak daripada yang dibayar—karena memahami kesulitan ekonomi mereka. Bertahun-tahun kemudian, banyak di antara mahasiswa itu kembali setelah sukses dan melunasi "utang" mereka tanpa pernah diminta. Bahkan, Kelik mengaku lebih memilih mengantar pesanan ke rumah pejabat daripada membuat jalan ditutup saat presiden atau wakil presiden berkunjung, karena ia tidak ingin aktivitas warga dan pedagang sekitar terganggu. Baginya, warung ini bukan tentang siapa yang datang, melainkan tentang menjaga kenyamanan semua orang.

_

Penulis: Ashad Rizki

Editor: Ashad Rizki

Sumber: https://mojok.co/liputan/sosok/kisah-di-balik-sgpc-bu-wiryo-1959-yang-tak-banyak-diketahui-pelanggannya/

Dari Kamar Kos hingga Menjadi Pendiri Ruangguru, Perjalanan Belva Devara Membangun Pendidikan Digital
tokoh Selanjutnya
Dari Kamar Kos hingga Menjadi Pendiri Ruangguru, Perjalanan Belva Devara Membangun Pendidikan Digital
author Andeliyumna
Jul 24, 2026
Dari Dapur Sederhana di Jogja ke Rak Minimarket Seluruh Indonesia: Perjalanan Suki Onigiri Menembus Pasar Nasional
tokoh Sebelumnya
Dari Dapur Sederhana di Jogja ke Rak Minimarket Seluruh Indonesia: Perjalanan Suki Onigiri Menembus Pasar Nasional
author Andeliyumna
Jul 23, 2026

Komentar