Dari Baru Lancar Membaca hingga Kuliah Gratis di UGM: Perjuangan Julian Yusmar Menembus Batas Keterbatasan
Schoolmedia News Kupang - Di sebuah rumah panggung sederhana di Desa Raenalulu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, Julian Yusmar Dima Huda tumbuh bersama kakek dan neneknya. sang ayah meninggal dunia ketika usianya baru satu tahun, sementara ibunya membangun kehidupan baru di daerah lain. Keterbatasan ekonomi membuat akses pendidikannya tidak semudah anak-anak lain. bahkan, Yusmar mengaku baru benar-benar lancar membaca ketika duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. bagi sebagian orang, kondisi itu mungkin menjadi akhir dari sebuah mimpi. namun bagi Yusmar, justru itulah titik awal perjuangannya.
Sejak memiliki telepon genggam pada masa pandemi COVID-19, Yusmar mulai mengejar ketertinggalannya secara mandiri. Ia belajar membaca lebih baik, memperdalam berbagai pengetahuan melalui internet, dan baru mengenal pelajaran bahasa Inggris ketika memasuki bangku SMA. di sekolah, ia aktif mengikuti Pramuka, menjadi Wakil Ketua OSIS, hingga memberanikan diri mendaftarkan diri secara mandiri dalam berbagai kompetisi karena tak ingin kesempatan datang hanya dengan menunggu. baginya, keberanian mencoba jauh lebih penting daripada rasa takut gagal.
Kesibukan berorganisasi tidak membuat prestasi akademiknya menurun. Yusmar justru membangun disiplin belajar yang ketat. hampir setiap hari ia bangun sekitar pukul empat pagi untuk mempelajari kembali materi sebelum berangkat ke sekolah. kebiasaan sederhana itu menjadi modal penting saat mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. berbekal minatnya di bidang komunikasi dan kegemarannya membuat konten media sosial, ia memilih Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada sebagai tujuan utamanya
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis. Yusmar dinyatakan diterima di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM melalui jalur SNBP. kebahagiaan tersebut semakin lengkap setelah ia memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar 100 persen sehingga dapat menempuh pendidikan tanpa terbebani biaya kuliah. bagi pemuda yang berasal dari daerah 3T itu, keberhasilan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan bukti bahwa anak-anak dari pelosok Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan terbaik apabila diberi ruang dan terus berusah

Kisah Julian Yusmar Dima Huda menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bermimpi. dari seorang anak yang baru lancar membaca di kelas 5 SD hingga menjadi mahasiswa UGM, ia menunjukkan bahwa kerja keras, disiplin, dan keberanian keluar dari zona nyaman mampu mengubah arah kehidupan. perjalanannya menjadi inspirasi bahwa setiap mimpi layak diperjuangkan, tak peduli sejauh apa jarak antara titik awal dan tujuan yang ingin dicapai.
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Dari TOEFL 437 Menuju Kampus Top Australia: Perjalanan Muhammad Rafi Saputra Menaklukkan Keraguan
Pernah Gagal LPDP, Kini Menjadi Calon Doktor di Australia: Perjalanan Ni'matul Zahro Menembus Batas Mimpi
Dari Lapak Keripik ke Fakultas Kedokteran: Perjalanan Tiara Julianti Menggapai Mimpi Menjadi Dokter