Lampion Merah Putih Laris Jelang HUT RI, Tapi Bahan Baku Naik 20 Persen
Schoolmedia News – Semarak menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia membawa berkah bagi perajin lampion merah putih di Kota Malang, Jawa Timur. Permintaan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, membuat para perajin harus bekerja lebih sibuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah.
Salah satunya dirasakan Ahmad Samsudin, perajin lampion di Jalan Binor, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Ia kini tengah menyelesaikan pesanan sebanyak 500 lampion merah putih yang akan dikirim ke Kabupaten Lumajang menjelang puncak perayaan HUT RI.
Menurut Ahmad, jumlah pesanan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama pada 2025. Selain dari wilayah Malang Raya, permintaan juga datang dari sejumlah kota seperti Bandung dan Jakarta.
Lampion merah putih produksi Ahmad dijual dengan harga mulai sekitar Rp25.000 hingga Rp500.000 per buah, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan desain.
Namun, meningkatnya permintaan tidak sepenuhnya membuat perajin dapat menikmati keuntungan lebih besar. Mereka juga menghadapi kenaikan harga bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.
Sejumlah material utama seperti rotan, kain, lem, benang, dan bahan lainnya mengalami kenaikan harga sekitar 20 persen. Kondisi tersebut membuat biaya produksi ikut meningkat.
Meski demikian, Ahmad memilih mempertahankan harga jual dan tidak menurunkan kualitas produknya. Keputusan tersebut membuat margin keuntungan menjadi lebih tipis, tetapi ia tetap berupaya menjaga kepercayaan pelanggan.
Usaha tersebut juga menjadi sumber penghasilan bagi pekerja yang terlibat dalam proses produksi. Ahmad menyebut terdapat 11 orang karyawan yang menggantungkan mata pencaharian dari kegiatan pembuatan lampion tersebut.
Lampion merah putih pun menjadi salah satu produk dekorasi yang banyak digunakan untuk mempercantik lingkungan, ruang publik, hingga berbagai kegiatan masyarakat selama bulan kemerdekaan.
Bagi perajin, momentum Agustus menjadi periode penting untuk menjaga keberlangsungan usaha. Lonjakan permintaan memberikan peluang untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkenalkan kerajinan lokal kepada masyarakat di berbagai daerah.
Menariknya, usaha lampion Ahmad tidak hanya bergantung pada pesanan menjelang HUT RI. Ia juga memproduksi lampion untuk berbagai perayaan lain, termasuk Imlek.
Produk lampion buatannya bahkan telah menjangkau pasar luar negeri. Pada periode tertentu, pesanan lampion dapat dikirim ke sejumlah negara di Eropa dengan jumlah yang mencapai ribuan unit.
Kisah perajin lampion di Malang memperlihatkan bahwa momentum perayaan nasional dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif. Di tengah kenaikan biaya produksi, meningkatnya permintaan menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk terus mempertahankan produksi dan lapangan pekerjaan.
Dengan kreativitas, ketekunan, dan kemampuan menjaga kualitas, lampion merah putih bukan hanya menjadi dekorasi perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi para perajin dan pekerja di baliknya.
_
Liputan Khusus Lainnya: