Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
regional

Tengah Kemarau, Cuaca Ekstrem Melanda Sumbar, BMKG Ungkap Penyebabnya

author ASHAD
Aug 04, 2026 |
21 Dilihat

Schoolmedia News – Musim kemarau tidak selalu berarti seluruh wilayah terbebas dari hujan. Di Sumatera Barat (Sumbar), cuaca ekstrem justru masih berpotensi terjadi. Fenomena tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer yang membuat hujan lebat dapat muncul secara lokal meski sebagian wilayah Indonesia tengah memasuki musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi atmosfer menjadi salah satu faktor yang memengaruhi munculnya cuaca ekstrem di Sumbar. Sejumlah fenomena atmosfer dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan sehingga memicu hujan dengan intensitas tinggi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa musim kemarau bukan berarti hujan berhenti sepenuhnya. BMKG sebelumnya mencatat Sumatera Barat termasuk wilayah yang masih berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat pada periode tertentu di tengah meluasnya musim kemarau.

Pada pertengahan Juni 2026, misalnya, BMKG mencatat curah hujan harian di Sumbar mencapai 139 milimeter per hari. Angka tersebut menunjukkan bahwa hujan deras tetap dapat terjadi ketika wilayah lain mengalami kondisi yang lebih kering.

Fenomena tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat karena hujan berintensitas tinggi dalam waktu singkat dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, terutama di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap kondisi tersebut.

Masyarakat pun diimbau tidak hanya berpatokan pada status musim kemarau. Informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini perlu terus dipantau karena perubahan kondisi atmosfer dapat berlangsung cepat.

Di sisi lain, masyarakat yang berada di wilayah terdampak kekeringan tetap perlu mengantisipasi keterbatasan air. Dengan kondisi cuaca yang dapat berubah secara cepat, kesiapsiagaan menghadapi dua kondisi sekaligus—kekeringan dan hujan ekstrem—menjadi penting.

BMKG juga mengingatkan bahwa fenomena atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuatorial dapat berkontribusi terhadap pembentukan hujan di sejumlah wilayah Indonesia meski musim kemarau sedang berlangsung.

Cuaca ekstrem di tengah kemarau menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu tetap waspada terhadap perubahan cuaca. Pemantauan informasi resmi BMKG dan kesiapan menghadapi potensi bencana menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko.

_

Sumber:https://regional.kompas.com/read/2026/08/04/093628778/di-tengah-kemarau-bmkg-ungkap-penyebab-cuaca-ekstrem-di-sumbar

U-Turn Jalan Kartini Depok Ditutup, Arus Lalu Lintas dan Kemacetan Bergeser
regional Selanjutnya
U-Turn Jalan Kartini Depok Ditutup, Arus Lalu Lintas dan Kemacetan Bergeser
author ASHAD
Aug 04, 2026
Kemarau Mengancam, Dua Bendungan di Lampung Berpotensi Defisit Air
regional Sebelumnya
Kemarau Mengancam, Dua Bendungan di Lampung Berpotensi Defisit Air
author ASHAD
Aug 04, 2026

Komentar