Cari

DI Yogyakarta, Kab. Kulon Progo

TKA di SMPN 2 Wates Jadi Momentum Murid Mengasah Logika



Schoolmedia News Kulonprogo = Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berlangsung lancar dan tertib. SMP Negeri 2 Wates yang melaksanakan TKA gelombang kedua pada 8–9 April 2026 memastikan seluruh murid kelas IX dapat mengikuti asesmen dengan dukungan sarana prasarana yang memadai.

Sebanyak 128 murid kelas IX mengikuti TKA di sekolah tersebut. Kepala SMPN 2 Wates, Budi Maheni, menyampaikan pihaknya harus bekerja ekstra untuk memastikan kelancaran. “Kami menyiapkan 43 perangkat komputer dan laptop, 28 di antaranya hasil meminjam dari guru. Kami juga menyewa genset untuk antisipasi mati listrik. Semua dilakukan agar pelaksanaan TKA berjalan baik,” ujarnya.

Sejumlah murid mengaku lega setelah menyelesaikan TKA, meski masih menunggu hasil yang akan diumumkan Mei mendatang. Natasya, murid kelas IX, menuturkan bahwa soal Matematika cukup menantang. “Awalnya mudah, tapi semakin ke belakang semakin susah. Banyak soal cerita yang panjang, jadi harus benar-benar bernalar,” katanya.

Hal serupa disampaikan Sahda. Ia merasa waktu 75 menit untuk 30 soal Matematika terasa kurang. “Bacaannya panjang, jadi menguras waktu. Tapi memang harus bernalar, bukan sekadar hitung cepat,” ujarnya.

Berbeda dengan Matematika, murid merasa lebih nyaman mengerjakan soal Bahasa Indonesia. Natasya bahkan menyisakan 20 menit, sementara Sahda punya 15 menit tersisa. “Ada yang susah, ada yang gampang. Jadi seimbang,” kata Sahda.

Instrumen Mengukur Berpikir Tingkat Tinggi

Kepala sekolah menegaskan bahwa TKA merupakan momentum bagi murid untuk menguji kemampuan berpikir tingkat tinggi. Fokus asesmen pada literasi membaca dan numerasi, menurutnya, selaras dengan pemetaan mutu pendidikan nasional. “TKA mempertajam cara murid bernalar. Ini penting untuk membekali mereka menghadapi tantangan global,” ujar Budi.

Ia menambahkan, TKA terintegrasi dengan Asesmen Nasional (AN) serta survei karakter dan lingkungan belajar. “Semua akan menjadi rapor pendidikan sekolah kami,” jelasnya.

Optimisme juga disampaikan terkait hasil yang akan dicapai murid. Berdasarkan tiga kali tryout yang diselenggarakan provinsi dan kabupaten, SMPN 2 Wates menempati peringkat tiga terbaik se-Kulon Progo. “Semoga hasil TKA nanti memuaskan dan anak-anak bisa melanjutkan sekolah sesuai impian mereka,” harap Budi.

Sinergi dengan ASPD

Pelaksanaan TKA di Yogyakarta berjalan beriringan dengan Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD). Menurut Budi, ASPD memberikan kedalaman penguasaan materi pada empat mata pelajaran kunci, sementara TKA mempertajam nalar murid atas materi tersebut. “Keduanya membentuk profil lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tajam secara logika,” katanya.

Sinergi ASPD dan TKA disebut sebagai wujud otonomi pendidikan DIY dalam menjaga kualitas “Kota Pelajar” yang selama ini menjadi barometer nasional.

Selain murid, guru juga dipersiapkan menghadapi TKA. Erma Wahyu Utami, guru Matematika, mengikuti Bimbingan Teknis (BimTek) TKA dari Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) DIY serta pelatihan pembelajaran mendalam dari MGMP Kulon Progo.

“Pembelajaran deep learning itu sangat menarik. Anak-anak jadi tahu alasan di balik rumus, bukan sekadar menghafal,” ujarnya. Menurutnya, pembelajaran mendalam penting diberikan sejak kelas VII dan VIII agar murid memahami konsep. “Kalau fondasi kuat, di kelas IX mereka lebih siap menghadapi soal TKA yang menuntut berpikir tingkat tinggi,” katanya.

Digitalisasi Pembelajaran

Wajah pendidikan di SMPN 2 Wates juga berubah dengan hadirnya Papan Interaktif (Interactive Flat Panel/IFP). Murid kelas VIII, Kirana Alfatikha Sari, mengaku sering menggunakannya untuk pelajaran prakarya, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, hingga Informatika. “Seru banget, jadi lebih mudah diterima,” katanya.

Keyfas Adella Puspa dari kelas VII dan Liana Ayu Fitriani dari kelas IX juga merasakan hal serupa. Meski baru dua kali menggunakan IFP, mereka sepakat pembelajaran terasa menyenangkan dan berkesan. “Semoga jumlah IFP ditambah, biar semua murid bisa lebih sering merasakan,” harap mereka.

Secara keseluruhan, pelaksanaan TKA di SMPN 2 Wates menunjukkan bahwa asesmen bukan sekadar ujian menakutkan. Murid belajar bernalar, guru berbenah, dan sekolah berupaya maksimal menyediakan sarana. Sinergi dengan ASPD memperkaya potret kompetensi murid, sementara digitalisasi pembelajaran menghadirkan suasana kelas yang lebih interaktif.

TKA kini dipahami sebagai instrumen penguatan pembelajaran, mendorong murid untuk jujur, siap, dan berani mengukur diri. Momentum ini menjadi dasar membangun budaya belajar yang sehat dan berkelanjutan di Yogyakarta, sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai barometer pendidikan nasional

Berita Regional Sebelumnya
Menjemput Martabat yang Dicuri: Saat Korban Mei '98 Menuntut Pengakuan Negara

Berita Regional Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar