Foto: Pixabay
Penolakan berbagai pihak, salah satunya dari sebuah sekolah di Kota Solo, Jawa Tengah terhadap 14 siswa sekolah dasar yang diduga mengidap virus HIV/Aids di sekolah tersebut, menurut psikolog UI, Rose Mini Agoes Salim, akan berdampak pada sisi psikologis dan juga identitas diri siswa.
"Dampaknya besar sekali, mereka merasa tidak berharga. Ini nanti akan berkaitan dengan identitas dirinya, menjadi tidak percaya diri," ujar Romi, sapaan akrabnya, kepada news.schoolmedia.id melalui sambungan teleponnya, Senin, 18 Februari 2019.
Romi mengatakan, bila para siswa tersebut mengidap virus HIV/AIDS bukanlah mereka. Untuk segera memulihkan kondisi siswa, kata Romi, dengan memberikan bimbingan psikologis secara terus menerus.
"Ini musti dilakukan konseling secara terus menerus, enggak bisa kalau kita melakukan konseling hanya sekali, (dan mengatakan) "kamu itu enggak apa-apa dan ini bulan salah kamu." Ibaratnya, dia sudah tertimpa yang dia sendiripun tidak tahu penyebabnya," ujar Romi melanjutkan.
Bila mereka tidak mendapatkan bimbingan psikologis secara rutin, Romi mengkhawatirkan, belasan siswa SD itu dapat melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, diantaranya, menyakiti diri sendiri dan menjadi pendendam.
Rose Mini Agoes Salim, Foto: Dok. Pribadi
Dampak lain, kata Romi, pengalaman mendapatkan penolakan di usia ini ini akan mempengaruhi proses pembentukan karakternya.
"Mulai dari balita, manusia sudah membentuk karakternya, jadi kalau dia dibilang orang enggak bener, jelek, dan lainnya yang negatif, akan terbentuklah nanti gambaran diri yang jelek. Gambaran diri ini akan membentuk self esteem yang enggak bagus, harga dirinya juga enggak bagus, rasa percara diri enggk ada, ini akan semakin rumit bila tidak dibenahi sejak dini," ujar Romi.
Terkait pihak mana yang harus bertanggung jawab pada situasi ini, kata Romi, kejadian ini merupakan tugas semua pihak, baik di lingkungan sekolah, yayasan tempat para siswa itu tinggal, dan juga masyarakat sekitar.
Menurutnya, pihak yayasan yang setiap harinya berinteraksi dengan para siswa tersebut, bertanggung jawab untuk terus memberikan informasi, melindungi, menyemangati anak-anak supaya rasa percara diri diri mereka tumbuh.
"Sehingga, mereka tidak merasa terbuang," ujar Romi tegas.
Selain itu, kata Romi melanjutkan, masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi tentang proses penyebaran virus HIV/AIDS ini, agar tidak memberikan stigma negatif pada anak-anak tersebut.
Juga, bagi sekolah-sekolah yang nantinya menampung para siswa tersebut, harus mensosialisasikan seputar virus tersebut kepada orang tua murid dan juga para muridnya.
Tak hanya pihak yayasan, pihak sekolah, maupun masyarakat. Para siswa yang nantinya akan berinteraksi dengan para penderita ini, juga perlu mendapatkan pemahaman, sehingga tidak menolak dan menjauhinya.
"Kita harus menekankan, bahwa mereka (siswa diduga penderita virus HIV/AIDS), sama seperti murid yang lain, bisa lari dan sebagainya, hanya saja mereka di dalam badannya ada sesuatu dan kalau tidak dijaga, akan gampang sakit, karena daya tahan tubuhnya menurun," ujar Romi.
Dengan terciptanya lingkungan yang kondusif, kata Romi, belasan siswa ini akan merasa nyaman untuk hidup dan juga menjalani proses belajar mengajar secara normal. Dengan suasana ini, akan menghindarkan perilaku negatif, yang kemungkinan akan muncul bila sang akan sering mendapat penolakan dari sekitar.
"Bila mereka nakal, mereka akan semakin dijauhi oleh teman-teman umumnya, dan kita harus mengajarkan, kalau ada yang menjelek-jelekkan dan dia marah untuk mempertahankan diri itu normal. Lalu yang menjadi tugas kita adalah bagaimana membuat anak-anak penderita ini tidak menjadi pemberang, balas dendam. Itu yang harus diajarkan juga kepada mereka tentang cara bergaul yang baik," ujar Romi.
Sebelumnya diberitakan, di awal bulan ini, sebanyak empat belas siswa SD kelas 1-4, yang diduga mengidap HIV/AIDS, harus dikeluarkan dari sekolahnya di Kota Solo, Jawa Tengah. Mereka ditolak oleh orang tua siswa lainnya lantaran takut tertular.
Saat ini sejak dua minggu lalu, keempat belas siswa tersebut ditampung di Yayasan Lentera, Solo, dan belum mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Namun, Pemerintah Kota Solo melalui Dinas Pendidikan, rencananya akan memindahkan ke-14 anak itu ke sekolah lain.
Kepala Disdik Solo, Etty Retnowati, mengatakan telah menyiapkan sedikitnya sembilan sekolah alternatif. Tapi Etty tidak mau menyebut nama sekolah yang dimaksud.
Tinggalkan Komentar