Ilustrasi penerapan industri digital, Ilus: Pixabay
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan penerapan revolusi industri keempat tidak akan meninggalkan atau menggantikan sektor industri sebelumnya. Saat ini, teknologi industri generasi pertama hingga ketiga masih digunakan.
"Meski saat ini pemerintah mendorong revolusi industri keempat, tetapi saya tegaskan bahwa sektor yang masih di industri pertama juga masih berjalan, termasuk pula yang di generasi kedua dan ketiga. Semuanya saling melengkapi," kata Airlangga lewat keterangannya di Jakarta, Minggu, 10 Februari 2019.
Airlangga menjelaskan, industri generasi pertama yang masih ada di Indonesia, di antaranya berada di sektor agrikultur atau pertanian. Kemudian, industri generasi kedua seperti sektor pembuatan rokok kretek tangan dan industri batik yang menggunakan canting, hingga saat ini masih beroperasi.
"Terhadap sektor tersebut, pemerintah berkomitmen untuk terus mengembangkannya dengan lebih produktif dan inovatif," tutur Airlangga.
Baca juga: Saat "Banyak" Intelektual Indonesia Salah Memaknai Society 5.0
Sementara itu, Airlangga menambahkan, industri generasi ketiga, yang telah menggunakan mesin otomatis dengan melibatkan hubungan antara manusia dan mesin pun tidak akan ditinggalkan.
Saat ini, Indonesia sedang menyiapkan diri untuk memasuki revolusi industri keempat. Caranya dengan pemanfaatan teknologi digital. Pemanfaatan ini diproyeksikan akan menjadi lompatan besar bagi semua sektor manufaktur.
"Di industri keempat ini, mesin beroperasi sendiri, bukan 'human to machine' lagi, tetapi 'machine to machine learning' karena faktor intelektual yang di-input dalam program System 'Application and Product in data processing' (SAP). Ini sudah masuk ke yang namanya 'artificial intelligence'," kata Airlangga.
Baca juga: Penguatan Literasi Informasi dan Teknologi dalam Menghadapi Tantangan Baru di Era Adidata
Ia menilai, implementasi industri 4.0 memiliki potensi luar biasa dalam merombak aspek rantai nilai di sektor industri, serta mampu mengubah berbagai aspek dalam kehidupan manusia.
"Tidak hanya dalam proses produksi manufaktur, industri 4.0 melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi dan produksi yang tinggi dengan kualitas yang lebih baik," kata Airlangga.
Terkait dengan kekhawatiran tergantikannya tenaga manusia dengan tenaga mesin, Airlangga menjelaskan, sebenarnya terjadi pada saat revolusi industri ketiga, bukan pada revolusi industri keempat.
"Justru pada revolusi industri keempat atau era digitalisasi akan butuh banyak pekerjaan di bidang analisa data. Biasanya pekerjaan ini berhubungan dengan statistik," kata Airlangga.
Tinggalkan Komentar