Cari

Cari Penyebab Kekerdilan, Badan Nuklir Teliti Mikro Nutrisi

Ilustrasi anak menderita kekerdilan, Foto: Pixabay

 

Pemerintah melibatkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk meneliti penyebab kekerdilan dengan cara melakukan uji mikro nutrisi dan lingkungan ke daerah yang mengalami kasus tersebut.

"Pada 2019 digagas oleh LIPI dan Kementerian Pertanian tentang penelitian kekerdilan. Itu program nasional, bagaimana masing-masing instansi mempunyai andil. Batan mempunyai andil dalam bentuk analisisnya (mikro nutrisi dan lingkungan)," kata Plt Kepala Batan, Prof Efrizon Umar, saat menggelar diskusi dengan wartawan, di Kota Bandung, Minggu, 10 Februari 2019.

Ia mengatakan, dalam waktu dekat ini Batan akan melakukan diskusi kelompok terarah (focus group discussion) dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian terkait penelitian kekerdilan ini.

"Jadi ini kan sebenarnya stakeholder utamanya ialah Kementan dan Kemenkes. Makanya dalam waktu dekat kita akan mengadakan FDG dengan Kemenkes apa target utamanya, Batan akan bertanya bagaimana kami akan berperan," kata Efrizon.

 

Baca juga80 Persen Anak Kurang DHA, Pakar: Bisa Pengaruhi Fisik dan Kepintaran Anak

 

Sementara itu, Kepala Pusat Sains Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) Batan, Jupiter Sitorus Pane mengemukakan, pihaknya akan melakukan penelitian tentang penyebab kekerdilan di Indonesia dari berbagai aspek.

"Jadi sebetulnya kekerdilan itu disebabkan oleh apa. Apakah kekerdilan itu karena genetik, apakah karena faktor makanan yang masuk atau kurang gizi atau karena faktor lingkungan," kata Efrizon.

Dari berbagai aspek ini, Batan akan melihat dan mengamati dari mikronutrisi dan kondisi lingkungan di daerah-daerah yang mengalami kekerdilan.

 

Baca jugaJaga Kesehatan Siswa, Dinas Pangan Malut Minta Sekolah Siapkan Kantin

 

Oleh karena itu, Jupiter melanjutkan, pihaknya telah mengirim tim khusus ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengambil sekitar 400 contoh makanan yang dikonsumsi oleh warga terkait penelitian penyebab kekerdilan tersebut.

"Nah dengan teknologi analisis nuklir ini kita bisa melihat unsur-unsur itu lebih jauh, jauh lebih detil sehingga ada unsur-unsur yang tadinya berpengaruh terhadap stunting itu mungkin akan terlihat nantinya," kata Jupiter.

Nantinya, kata Jupiter, peniliti Batan akan membuat hipotesis sementara dari hasil penelitian tersebut.

"Harapan kita, peneliti membuat hipotesisnya. Unsur-unsur ini kemungkinan penyebab kekerdilan," ujar Jupiter.

Lipsus Selanjutnya
Menperin: Industri 4.0 Melengkapi Generasi Sebelumnya
Lipsus Sebelumnya
Sekolah Pungut Rp 500 Ribu Per Siswa untuk Beli Laptop, Pemerhati: Ini Tidak Bisa Ditolerir

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar