Foto: Pixabay
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas (SMA) Ditjen Dikdasmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Purwadi Sutanto, mengatakan pelajaran informatika akan mengajarkan siswa bagaimana berpikir komputasi.
"Jadi mulai tahun pelajaran 2019/2020, informatika kembali diajarkan di sekolah. Tetapi tidak diajarkan mengenai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), tetapi cara berpikir komputasi," ujar Purwadi dalam acara peluncuran aplikasi AkuPintar di Jakarta, Kamis, 7 Februari 2019.
Purwadi menjelaskan jika pelajaran TIK, siswa diajarkan bagaimana mengoperasi Microsoft Word ataupun Microsoft Excel, dengan adanya pelajaran informatika, siswa diajarkan untuk mempelajari pemrograman, algorithma, ataupun robotik pada tingkat yang lebih lanjut.
Berpikir komputasi, kata Purwadi, merupakan metode pemecahan masalah dengan melibatkan teknik yang digunakan oleh ahli perangkat lunak dalam menulis program.
"Informatika menjawab tantangan di era globalisasi seperti saat ini," kata Purwadi.
Purwadi Sutanto, Foto: psma.kemdikbud.go.id
Menurut Purwadi, untuk menjawab tantangan zaman maka kurikulum harus disesuaikan. Hal itu, kata Purwadi, telah dilakukan Kemendikbud dengan adanya Kurikulum 2013 yang saat ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah di Tanah Air.
"Jadi dengan kurikulum 2013, siswa dididik sesuai dengan bakat yang dimilikinya," kata Purwadi.
Purwadi menyampaikan bahwa dampak Revolusi Industri 4.0 membawa tantangan bagi sistem pendidikan Indonesia dengan adanya perubahan paradigma pola pikir, pola rasa, dan pola tindak dalam berkomunikasi, bekerja, belajar, dan gaya hidup sampai budaya.
"Tantangan terjawab dengan diluncurkannya aplikasi AkuPintar yang mampu menjawab tantangan dan permasalahan bagi para siswa yang ragu dalam menentukan jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya," kata Purwadi menjelaskan.
Menurut hasil penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) tahun 2017, sebanyak 87 persen mahasiswa Indonesia tidak mengambil jurusan yang sesuai dengan minatnya. Selain itu, sebesar 71,7 persen pekerja memiliki profesi yang tidak sesuai dengan pendidikannya.
Terkait hal ini, pemerhati pendidikan Yohana Elizabeth Hardjadinata mengatakan, siswa yang salah dalam memilih jurusan kuliah akan berdampak pada ketidakmaksimalan dalam pekerjaan atau profesi yang akan digeluti. Hal ini, kata Yohana, akan membuat mereka tidak dapat berprestasi. Juga, kemampuan maupun ketrampilan yang dimiliki tidak berkembang dengan baik.
"Namun sebaliknya jika seseorang bekerja pada bidang yang diminati atau disukai, pastinya akan lebih mencintai dan bahagia dalam menjalankan pekerjaannya. Dampak selanjutnya, yang bersangkutan akan bekerja lebih giat dan punya rasa tanggung jawab yang tinggi," kata Yohana menjelaskan.
Tinggalkan Komentar