
Wamendikdasmen, Fajar Riza Ul Haq:
“Guru Harus Jadi Arsitek Pembelajaran, Jangan Hanya Operator Perangkat Teknologi”
Makassar, Schoolmedia News = Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Fajar Riza Ulhaq M.Si, menegaskan bahwa keberhasilan program digitalisasi pembelajaran mendalam yang dicanangkan Pemerintah Pusat sepenuhnya bergantung pada kualifikasi tenaga pendidik. Hal itu disampaikannya saat menutup Kegiatan Bimbingan Teknis (BIMTEK) Digitalisasi Pembelajaran Mendalam di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (6/5).
Hadir dalam acara tersebut Direktur Pendidikan Anak Usia Dini, Kurniawan, Kepala Dinas Perlindungan Kota Makassar, Acik Suleman, serta sejumlah pejabat utama lingkungan Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi gelombang penutup pada tahun 2026, diikuti 960 orang kepala sekolah dan guru dari berbagai daerah. Jika digabungkan dengan gelombang tahun 2025 yang menjangkau 6.000 orang, total peserta BIMTEK sudah menembus angka 7.000 orang.
Menurut Wakil Menteri, jumlah itu baru menyentuh kurang dari 10 persen dari keseluruhan tenaga pendidik di Sulawesi Selatan. "Bapak Ibu adalah kelompok terpilih, minoritas yang kreatif karena masih ada keterbatasan anggaran tidak semua guru mendapat pelatihan. Karenanya Bapak Ibu memikul tanggung jawab moral untuk menularkan ilmu yang didapat ke rekan sejawat dan lingkungan pendidikan sekitar," tegasnya.
Dua Syarat Mutlak
Dalam arahannya, Dr. Fajar menekankan dua syarat mutlak yang harus dikuasai peserta, yakni Kompetensi Pedagogis dan Keterampilan Digital Pedagogis. Kedua hal itu menjadi kunci agar Penunjang Interaktif Pembelajaran (PID) yang dibagikan Presiden Prabowo Subianto ke 288.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia tidak sekadar menjadi benda mati. Tahun ini, penambahan jumlah PID juga dijadwalkan untuk sekolah dengan jumlah siswa padat.
"Perlu diingat, PID tidak menggantikan peran Bapak Ibu. Jangan sampai Bapak Ibu berubah fungsi menjadi sekadar operator PID. Posisi dan martabat Bapak Ibu jauh lebih mulia. Bapak Ibu adalah arsitek pembelajaran, sedangkan PID hanyalah alat pendukung," tegas Wakil Menteri mengingatkan.
Ia menyadari publik kerap mempertanyakan kesiapan Indonesia melaksanakan transformasi ini. Berbagai tantangan seperti kesenjangan kualitas guru dan perbedaan tingkat kemampuan siswa menjadi sorotan utama. Oleh karena itu, pengaturan pemakaian PID harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan, baik PAUD, SD, SMP, maupun SMA.
"Risiko terbesar adalah ketergantungan. Kalau terlalu sering dipakai, anak-anak bisa kecanduan, sulit berkonsentrasi, dan enggan bergerak serta berinteraksi dengan lingkungan. Padahal pada masa pertumbuhan, anak sangat membutuhkan rangsangan gerak kasar-halus dan kemampuan berkomunikasi," jelasnya.
Gunakan PID Satu Jam Sehari
Untuk itu, Dr. Fajar menyarankan agar penggunaan PID dibatasi maksimal satu jam sehari, bahkan cukup 30 menit untuk jenjang PAUD. Fungsi utamanya hanyalah sebagai sarana penunjang agar proses belajar lebih menarik dan interaktif. "Kemampuan mengatur kapan harus memakai alat bantu dan kapan harus mengaktifkan peran langsung pendidik di kelas, itulah hakikat keahlian pedagogis sejati," tandasnya.
"Tanpa dua kemampuan itu, PID hanya mengubah media belajar dari buku ke layar saja. Masyarakat juga terus mengawasi efektivitas kebijakan ini. Jangan sampai kita terjebak pada kesuksesan fisik saja, tapi lupa pada tujuan utama: meningkatkan kualitas proses belajar mengajar," tambahnya.
Wakil Menteri mengajak peserta meneladani keberhasilan transformasi pendidikan berbasis teknologi di sejumlah negara. Di Amerika Latin, Chile dan Uruguay menjadi rujukan utama. Di Eropa ada Estonia, Afrika diwakili Kenya, sedangkan di Asia Tenggara dilakukan di negara Bhutan.
Berdasarkan kajian internasional, kelima negara itu berhasil karena memenuhi lima prasyarat utama. Yang paling mendasar adalah Komitmen Politik Tingkat Tinggi. "Di Indonesia, Bapak Presiden Prabowo telah membuktikannya lewat penyediaan perangkat hingga perbaikan gedung sekolah rusak. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah keseriusan pelaksana di tingkat satuan pendidikan," ujarnya.
Selain komitmen politik, keberhasilan juga ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur merata, penyusunan kurikulum yang selaras, peningkatan kapasitas guru berkelanjutan, serta keterlibatan aktif warga sekolah.
Kepada seluruh peserta, Dr. Fajar berpesan agar hasil BIMTEK ini dibuktikan dengan perubahan nyata di ruang kelas. "Keberhasilan kegiatan ini tidak dinilai dari kehadiran di sini, melainkan saat Bapak Ibu kembali ke sekolah. Apakah cara mengajar sudah disesuaikan dengan tahap perkembangan anak? Apakah proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan bermakna? Itu ukuran sesungguhnya," pesannya.
Penutupan kegiatan ditandai dengan penyerahan cenderamata dan ucapan terima kasih kepada seluruh panitia serta narasumber. Seluruh peserta diharapkan menjadi penggerak utama transformasi pendidikan di daerah masing-masing demi melahirkan generasi emas Indonesia yang cerdas dan berkarakter.
Penyunting : Eko B Harsono
Tinggalkan Komentar