Cari

Sejak 1863, Baru Terulang Momen Menyulam Kebersamaan di Musim Hari Raya



Schoolmedia News Jakarta = Di tengah perbincangan hangat di program Satu Meja The Forum yang disiarkan Kompas TV dari Jakarta, Rabu (25/3/2026), Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak publik melihat sebuah peristiwa yang jarang terjadi sebagai peluang besar bagi persatuan bangsa.

Ia mengingatkan, tahun ini bukan sekadar pergantian kalender biasa. Ada momentum pertemuan lintas iman yang sangat langka dalam satu waktu. Momentum yang dimaksud adalah perayaan Tahun Baru Imlek, Nyepi, Idulfitri, dan masa Prapaskah yang berlangsung hampir bersamaan. Momen ini terakhir kali terjadi pada 1863—163 tahun silam. Sebuah pertemuan waktu yang, menurutnya, menjadi modal besar bagi terciptanya energi persatuan yang benar-benar dibutuhkan Indonesia

“Saya kira sudah saatnya kita bangsa Indonesia ini memanfaatkan event-event yang seperti ini. Itu harus kita maknai sebagai sesuatu yang sangat positif dan itu adalah hadiah Tuhan untuk bangsa Indonesia.”

Budaya Maritim: Akar Kesetaraan

Berbicara soal akar budaya. Menag mengajak masyarakat untuk melihat Indonesia dari jejak kesejarahannya. Indonesia mempunyai budaya yang khas sebagai negeri dengan gugusan pulau-pulau yang merangkainya. “Maritime culture” atau budaya maritim, ia menyebutnya, sebuah identitas yang terbentuk dari interaksi dan persinggungan budaya para pedagang dari berbagai penjuru dunia yang datang ke Indonesia. Dari situ tercipta ruang perjumpaan yang cair, terbuka dan egaliter.

“Maritime culture itu artinya masyarakat yang dipertemukan oleh pantai itu biasanya lebih egaliter daripada continental culture. Jadi itu modal dasar yang kita miliki sebetulnya.”

Bertetangga, Bukan Berseberangan

Menag memberikan contoh konkret dari semangat itu. Menurutnya, realitas ini dapat dilihat di jantung ibu kota, antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Dua rumah ibadah besar yang berdiri berdampingan, bahkan terhubung oleh Terowongan Silaturahmi yang menjadi ikon moderasi beragama.

Menurutnya, dalam menjalin kehidupan sosial, perlu ada makna yang dipahami bersama agar kehidupan keberagamaan tidak menjadi “Aku dan Mereka”, tetapi menjadi “Aku dan Kita.” Semangat kekitaan ini menjadi penting dalam konteks hubungan antasesama yang berbasis persaudaraan. Seperti adagium Islam yang cukup terkenal: Hablum minannas.

“Kami tidak pernah mengatakan kami berseberangan dengan katedral. Tapi kami bertetanggaan dengan Istiqlal. Kalau kami berseberangan berarti di sana dan di sini beda. Tapi kalau kami bertetanggaan, itu ada hubungan silaturahim yang sangat dalam. Memilih kosa kata saja itu punya dampak psikologis,” ungkap Menag.

Kematangan Beragama dan Titik Temu

Menag melihat Indonesia telah menunjukkan tanda-tanda kematangan dalam beragama. Kematangan itu, katanya, bukan berarti meniadakan perbedaan, melainkan menempatkannya secara bijak.

“Kalau saya melihat ada sebuah kematangan. Kematangan beragama itu akan mengecilkan arti sebuah perbedaan tapi membesarkan arti sebuah persamaan. Orang yang arif itu bukan selalu mencari perbedaan satu sama lain. Tapi selalu mencari titik temu,” tegasnya.

Ia juga menegaskan prinsip universal kemanusiaan: “humanity is only one, there is no color. Kemanusiaan itu hanya satu, tidak ada warnanya,” ujar Menag. Salah satu istilah yang cukup dekat maknanya dengan perkataan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib: Jika dia bukan saudara seimanmu, maka dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan.

Lebih lanjut, Menag memberi contoh lain praktik keberagamaan di Bali yang masih anyar terjadi. Kementerian Agama memberikan panduan terkait dua perayaan yang berbarengan: Takbiran dan Nyepi. Sebuah panduan yang bukan hanya imbauan di atas kertas tetapi ada pesan yang ingin disampaikan agar masyarakat yang dalam hal ini umat Muslim dan Hindu agar sama-sama saling toleransi, saling menghormati, dan menjaga harmoni kehidupan beragama di Bali.

“Jangan sampai ada bentuk-bentuk yang bisa menyinggung perasaan atau bisa menodai hari nyepinya saudaranya sendiri,” ungkap Menag.

Di atas semua perbedaan, Menag menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki fondasi yang kokoh: Pancasila. Dalam pandangannya, Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi ruang temu yang memayungi seluruh keragaman.

Di tengah dunia yang kerap terpolarisasi, keberagaman tidak harus menciptakan gelombang konflik, melainkan bisa menjadi modal sosial yang menyatukan.

“Indonesia ini adalah suatu danau besar yang mampu menampung semua. Dan tanpa harus menimbulkan riak-riak satu sama lain. Inilah indahnya Indonesia,” katanya.

Tim Schoolmedia

Lipsus Selanjutnya
Presiden Prabowo Telepon Presiden Palestina, Sampaikan Ucapan Idulfitri dan Perkuat Solidaritas
Lipsus Sebelumnya
Silaturahmi Idulfitri 1 Syawal 1447 H, ITB Pererat Kekeluargaan Sivitas Akademika

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar