Cari

Kunjungan Wisata Meningkat di Libur Lebaran, Masyarakat Diimbau Tidak Buang Sampah Sembarangan


YOGYAKARTA, Schoolmedia News â€” Pelataran Stasiun Tugu dan selasar Malioboro mulai berdenyut lebih kencang. Gemuruh roda koper yang beradu dengan aspal dan aroma khas bakpia yang menguar dari gang-gang sempit menjadi penanda bahwa libur panjang Lebaran Idul Fitri 2026 telah tiba. Di balik keriuhan nostalgia itu, Yogyakarta kini memikul beban berat: menyambut jutaan raga sekaligus menjaga napas lingkungannya agar tidak tersedak sampah.

Libur panjang Lebaran tahun ini diproyeksikan menjadi puncak pergerakan kunjungan wisatawan nusantara. Fenomena ini ditandai dengan tingginya okupansi di destinasi lokal yang membuka keran ekonomi hingga ke urat nadi pedesaan. Namun, Yogyakarta tetap menjadi panggung utama. Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, sebanyak 8,2 juta orang diprediksi akan memadati wilayah DIY selama periode Lebaran.

Angka tersebut mencerminkan mobilitas yang luar biasa masif, mengingat jumlah penduduk asli DIY hanya berkisar 3,7-3,8 juta jiwa. Artinya, dalam sepekan ke depan, populasi di provinsi ini akan membengkak lebih dari dua kali lipat. Mereka yang datang bukan sekadar pemudik yang pulang ke kampung halaman, melainkan juga pelancong yang haus akan suasana romantis kota ini.

Beban Lingkungan

Peneliti Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Destha Titi Raharjana, S.Sos., M.Si., menilai jumlah kunjungan wisatawan murni ke DIY diperkirakan mencapai 1,46 juta orang, dengan konsentrasi utama di Kota Yogyakarta dan Sleman. Lonjakan ini dipicu oleh semakin matangnya infrastruktur transportasi.

"Tahun ini ada lonjakan yang diduga akibat akses jalan tol yang semakin mendekati pusat kota, baik jalur utara via Tempel maupun jalur timur via Prambanan," ujar Destha saat ditemui di Kampus UGM, Selasa (17/3/2026). Ia memprediksi puncak arus kedatangan terjadi pada H-5 hingga H-3, sementara puncak kunjungan wisata akan jatuh pada 22 Maret 2026.

Namun, di balik angka-angka statistik yang menggembirakan bagi sektor ekonomi itu, Destha memberikan catatan tebal soal komitmen pariwisata yang bertanggung jawab. Ledakan jumlah manusia membawa konsekuensi logistik yang nyata: sampah.

"Jangan sampai euforia nostalgia di Jogja justru meninggalkan masalah sampah yang mencemari citra estetik Yogyakarta. Kita sama-sama menjaga agar lonjakan kunjungan tidak meninggalkan lonjakan volume sampah di titik-titik keramaian," tegasnya. Baginya, menjaga wajah Jogja tetap bersih adalah harga mati agar predikat destinasi wisata bertanggung jawab tetap melekat.

Magnet Kenangan

Jogja memang memiliki daya tawar yang sulit ditandingi daerah lain. Konektivitas Tol Trans Jawa mempermudah mobilitas darat, sementara citra sebagai destinasi wisata murah tetap terjaga. Di beberapa sudut wilayah DIY, harga makanan dan minuman masih relatif terjangkau bagi kantong kelas menengah ke bawah.

"Jogja ini dikenal sebagai destinasi wisata murah. Jogja juga memiliki sejuta kenangan bagi mereka yang pernah menempuh pendidikan atau bekerja di kota ini. Libur Lebaran tentu menjadi salah satu momen untuk bernostalgia," papar Destha.

Lokasi-lokasi konvensional seperti Malioboro, Titik Nol Kilometer, Tugu, Kraton, hingga Tamansari dipastikan tetap menjadi "ruang tamu" yang sesak. Begitu pula dengan pantai-pantai di Bantul dan deretan destinasi instagrammable di Gunung Kidul yang terus bersolek. Bahkan, desa wisata di Sleman dan Kulon Progo kini mulai dilirik sebagai pelarian bagi mereka yang menginginkan ketenangan melalui paket kegiatan pedesaan atau menginap di homestay.

Ekonomi Selektif

Menariknya, meski jumlah kunjungan meledak, perilaku ekonomi wisatawan pada Lebaran 2026 diprediksi akan lebih pragmatis. Destha menilai wisatawan saat ini memiliki daya beli yang cenderung rendah dan lebih selektif dalam merogoh kocek.

Fenomena aktivitas wisata gratis diperkirakan akan marak. Ruang publik non-berbayar akan menjadi primadona. Dalam hal akomodasi, hotel budget, homestay, hingga perjalanan satu hari (one-day trip) tanpa menginap menjadi pilihan rasional untuk menekan pengeluaran.

"Intinya, wisatawan tahun ini nampaknya akan lebih selektif dalam berbelanja, meski ada juga beberapa yang tetap royal untuk kuliner dan oleh-oleh," pungkas Destha.

Kini, bola panas ada di tangan para pengunjung dan pengelola. Apakah libur Lebaran kali ini akan meninggalkan kesan manis bagi ekonomi lokal, ataukah justru menyisakan gunungan plastik yang merusak wajah ayu sang Kota Pelajar? Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan menjadi kunci agar nostalgia tetap abadi tanpa menyakiti bumi.

Tim Schoolmedia

Lipsus Selanjutnya
Silaturahmi Idulfitri 1 Syawal 1447 H, ITB Pererat Kekeluargaan Sivitas Akademika
Lipsus Sebelumnya
Pentingnya Menjaga Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama Sebagai Nilai Ramadan Setelah Idulfitri 1447 H

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar