
Schoolmedia News Jakarta = Di tengah hamparan laut biru dan perbukitan Lembata, Nusa Tenggara Timur, lahir mimpi-mimpi besar dari anak-anak yang memiliki minat dan bakat. Jarak dari pusat kota dan keterbatasan fasilitas tak menyurutkan langkah mereka untuk menembus batas. Melalui program Bina Talenta Indonesia (BTI) dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), dua murid SMP Negeri 2 Nubatukan membuktikan bahwa anak daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) mampu bersaing di era teknologi.
Wenseslaus Pito Koban, murid SMP Negeri 2 Nubatukan adalah satu di antara peserta BTI. Putra dari seorang guru dan bidan ini tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan pentingnya pendidikan dan kerja keras. âSaya sangat tertarik mempelajari koding. Ketika ikut Bina Talenta Indonesia, para pengajar memberikan beragam pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah saya pelajari,â ujarnya.
Di sekolah, Wenseslaus dikenal aktif dan berprestasi. Ia pernah meraih Medali Emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten/kota cabang ajang IPS tahun 2024 yang diselenggarakan Puspresnas. Di BTI ia juga menjadi murid teraktif dan tim dengan karya terfavorit pada BTI luring yang diselenggarakan Puspresnas bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Selain itu, Wenseslaus juga aktif dalam kegiatan Pramuka.
Bagi Wenseslaus, BTI bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan jembatan menuju cita-citanya menjadi ahli IT. Ia menyadari bahwa teknologi adalah bahasa masa depan dan di masa mendatang ia ingin berkonsentrasi di bidang tersebut. Pesannya sederhana untuk Sobat Prestasi. âKita harus kerja keras dan mempunyai niat yang kuat untuk menggapai cita-cita. Harus berdoa juga agar cita-cita kita tercapai,â ucapnya.
Semangat serupa juga terpancar dari Emanuel Sabon Gua yang juga murid SMP Negeri 2 Nubatukan. Putra seorang petani dan ibu rumah tangga ini juga mengikuti BTI luring di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dengan tekad untuk belajar lebih dalam tentang Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).
âSebelumnya kami hanya tahu sekilas tentang koding. Di Bina Talenta Indonesia kami belajar jauh lebih mendalam, termasuk tentang kecerdasan artifisial dan penguatan karakter,â ungkap Emanuel.
Emanuel bukan nama baru dalam daftar prestasi sekolahnya. Ia pernah meraih Medali Emas OSN tingkat kabupaten/kota cabang ajang IPA 2024, masuk empat besar Duta GenRe Kabupaten Lembata 2025, dan berbagai kompetisi akademik maupun olahraga.
Ia juga menjadi inspirasi di lingkungannya. Selepas mengikuti Bina Talenta Indonesia, ia pulang dan berbagi ilmu kepada teman-temannya di sekolah. Menariknya, di tengah ketertarikannya pada teknologi, Emanuel bercita-cita menjadi presiden. âKita harus disiplin waktu dan disiplin belajar. Kalau punya keinginan, harus diusahakan sampai berhasil, bersama doa,â pesannya.
Program Bina Talenta Indonesia merupakan bagian dari Manajemen Talenta Murid sebagaimana diamanatkan dalam Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025. Tahapan tersebut meliputi identifikasi, pengembangan, aktualisasi, apresiasi, hingga kapitalisasi talenta murid secara berjenjang dan terintegrasi dari satuan pendidikan hingga tingkat nasional dan internasional. BTI hadir pada tahap pengembangan bakat dan minat, dengan fokus pada bidang STEM, Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan karakter secara kontekstual dan aplikatif.
"Program Bina Talenta Indonesia menjadi upaya pengembangan bakat dan minat murid. Dalam pelaksanaan Bina Talenta Indonesia, Puspresnas memetakan daerah 3T yang fokus pada pengembangan talenta dan pemandu talenta," ujar Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, di Jakarta, Jumat (20/2).
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional terus berupaya program-program pengembangan talenta menyasar kepada murid-murid di daerah 3T guna memastikan pemerataan akses pembinaan talenta.
Ekosistem Talenta untuk Indonesia Emas
Manfaat yang dirasakan oleh Wenseslaus dan Emanuel pun nyata yakni pembinaan langsung dari narasumber ahli, akses pada ekosistem pelatihan berkualitas bidang STEM dan KA, peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta pendidikan karakter yang komprehensif. Tingginya antusiasme terlihat dari jumlah pendaftar BTI yang mencapai 7.099 orang dari 38 provinsi dan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN). Rinciannya, 2.343 murid SMP, 1.013 Pemandu Talenta SMP, 2.482 murid SMA, dan 1.261 Pemandu Talenta SMA.
Dari Lembata, dua murid ini telah mengirim pesan kepada Indonesia bahwa talenta tidak mengenal batas geografis. Dengan akses, pembinaan, dan kemauan belajar, anak-anak 3T pun mampu berdiri sejajar dalam persaingan teknologi. Di tangan generasi seperti Wenseslaus dan Emanuel, masa depan Indonesia menemukan harapannya.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar