
Schoolmedia News Keerom = Di sebuah sudut ruang kelas TK Pembangunan Yapis, Distrik Skanto, Kabupaten Keerom, Papua, jemari mungil seorang bocah tampak lincah menari di atas layar raksasa setinggi tubuhnya. Tidak ada kapur yang mengepulkan debu, tidak ada papan tulis kayu yang kusam. Yang ada hanyalah pendar cahaya tajam dari Interactive Flat Panel (IFP), sebuah teknologi papan tulis digital interaktif yang kini menjadi jendela dunia bagi anak-anak di beranda terdepan Indonesia.
Kabupaten Keerom, yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, selama ini kerap diidentikkan dengan keterbatasan akses. Namun, di sekolah yang terletak di Jalan Poros Arso Tiga ini, sebuah revolusi sunyi sedang berlangsung. Teknologi digital bukan lagi sekadar impian jauh di Jakarta, melainkan realitas harian bagi 85 peserta didik di sana.
"Ini hal yang sangat luar biasa. Belum pernah kami tahu dan belum pernah kami mengerti sebelumnya seperti apa rupa teknologi ini," ujar Winarsih, Kepala Sekolah TK Pembangunan Yapis, saat berbincang dengan PAUDPEDIA, Jumat (20/2).
Winarsih bukanlah sosok baru di dunia pendidikan Keerom. Ia telah mengabdi selama 23 tahun, merintis sekolah tersebut sejak tahun 2002. Baginya, kehadiran bantuan perangkat digital atau yang disebutnya sebagai bantuan EVV (Electronic Video Voice) dari pemerintah melalui sinkronisasi Dapodik adalah lompatan kuantum bagi pendidikan anak usia dini di pedalaman.
Jendela Dunia Digital
Bagi anak-anak di Skanto, IFP bukan sekadar alat bantu ajar. Perangkat ini adalah "mesin ajaib". Winarsih menceritakan bagaimana antusiasme meledak setiap kali jam menunjukkan pukul 10.00 WIT. Itulah saatnya pembelajaran berbasis digital dimulai.
"Kami jadwal bergantian karena baru ada satu unit untuk enam rombongan belajar. Anak-anak sangat antusias, orangtua pun senang. Ternyata ilmu itu bukan hanya apa yang ada di dalam kelas fisik, tapi mereka bisa melihat dunia luar melalui layar ini," kata Winarsih dengan nada bangga.
Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika seorang siswa berkebutuhan khusus justru menjadi yang paling cepat beradaptasi. Tanpa diajarkan secara mendalam, bocah tersebut mampu mengoperasikan fitur-fitur di dalam IFP, bahkan membantu teman-temannya yang lain. Di depan layar interaktif itu, keterbatasan fisik dan kognitif seolah luruh, berganti dengan binar rasa ingin tahu.
Konten "Rumah Pendidikan" menjadi menu favorit. Di sana, anak-anak tidak lagi hanya mendengarkan cerita guru yang terkadang membosankan jika dilakukan searah. Mereka menggambar, mewarnai, dan memilih objek langsung dengan sentuhan tangan. "Kalau hanya cerita, anak-anak kurang tertarik. Tapi kalau mereka melakukan sendiri dengan media itu, interaksinya luar biasa," tambahnya.
Tantangan di Balik Cahaya Layar
Namun, menghadirkan teknologi di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) bukan tanpa kerikil tajam. Sinyal telekomunikasi di Keerom diibaratkan Winarsih seperti "timbul tenggelam". Kadang kuat, namun lebih sering menghilang di balik rimbunnya hutan Papua.
"Untuk sinyal memang kita kadang-kadang timbul tenggelam. Kalau jaringan internet mati, guru-guru sudah sigap pakai tethering dari HP masing-masing. Kami sudah tidak kaget lagi dengan gangguan penyedia jasa internet di sini," tutur Winarsih sembari terkekeh.
Selain sinyal, tantangan terbesar adalah sumber daya manusia. Sebagai teknologi baru, para guru di TK Yapis harus belajar secara otodidak. Winarsih, yang sempat mengikuti pendampingan di Sorong, harus membagikan ilmunya kepada rekan-rekan sejawatnya di sekolah. Mereka bergerilya mencari tutorial di YouTube dan saling berbagi tips mengoperasikan aplikasi Rumah Pendidikan dan Paudpedia.
Tak hanya untuk mengajar, bantuan teknologi berupa laptop dan hardisk eksternal yang diterima sekolah juga menjadi nafas baru bagi urusan administrasi. Selama ini, pengerjaan Dapodik (Data Pokok Pendidikan) dan Arkas sering terkendala perangkat yang uzur. Kini, dengan perangkat baru, data pendidikan dari pinggiran Papua bisa terkirim ke pusat dengan lebih cepat dan akurat.
Harapan dan "Kecemburuan" Positif
Keberhasilan TK Pembangunan Yapis menjadi salah satu dari enam TK di Keerom yang mendapatkan bantuan IFP ternyata memicu dinamika tersendiri di kalangan pendidik. Ada semacam "kecemburuan sosial" yang positif dari sekolah-sekolah lain yang belum mendapatkan bantuan serupa.
"Teman-teman dari sekolah lain kalau berkunjung kesini jadi pengen punya juga. Harapan kami, bantuan ini bisa diratakan. Di Keerom ini ada hampir 50 TK, dan banyak yang lokasinya jauh lebih dalam ke pelosok daripada kami, bahkan ada yang masih harus menggunakan solar cell untuk listrik," ungkap Winarsih.
Ia juga berharap pemerintah terus mengadakan perlombaan pembuatan konten pembelajaran berbasis IFP untuk memacu kreativitas guru. Baginya, kompetisi bukan soal menang atau kalah, melainkan soal menjaga api semangat para guru di Papua agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Merawat Masa Depan
Kesadaran bahwa perangkat ini adalah "barang negara" yang mahal membuat pihak sekolah sangat ketat dalam perawatan. Setiap hari setelah digunakan, layar interaktif tersebut dibersihkan dan ditutup kain agar tidak terpapar debu Papua yang pekat.
Seorang guru khusus didelegasikan sebagai penanggung jawab perangkat untuk memastikan keamanan dan pemeliharaannya.
"Kami tanamkan ke anak-anak dan guru bahwa ini milik kita, harus dijaga bersama. Ada peraturan kelas khusus untuk penggunaan alat ini," tegasnya.
Perjalanan pendidikan di Kabupaten Keerom memang masih panjang. Masalah listrik dan sinyal mungkin masih akan menjadi teman akrab masyarakat di sana untuk waktu yang lama.
Namun, kehadiran layar sentuh di ruang kelas TK Pembangunan Yapis telah membuktikan satu hal: bahwa anak-anak Papua memiliki potensi dan antusiasme yang sama besarnya dengan anak-anak di kota besar, asalkan mereka diberi kunci yang tepat untuk membuka jendela dunia.
Di bawah langit Keerom yang biru, IFP bukan sekadar perangkat elektronik. Ia adalah simbol harapan bahwa jarak geografis tidak boleh lagi menjadi jarak intelektual. Seperti kata Winarsih, teknologi ini telah "menembus batas dimensi" bagi anak-anak di Bumi Cenderawasih.
Data Sekolah:
Nama Sekolah: TK Pembangunan Yapis
Lokasi: Distrik Sekanto, Kabupaten Keerom, Papua
Jumlah Siswa: 85 Anak (6 Rombel termasuk TPA dan Kelompok Bermain)
Kepala Sekolah: Winarsih (Mengabdi sejak 2002)
Fasilitas Baru: IFP (Interactive Flat Panel), Laptop, Hardisk Eksternal.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar