Cari

Dirjen PAUD Dikdasmen Pantau Kesiapan Semester Kedua Tahun Ajaran 2025/2026 dan Aktivitas Psikososial Siswa


Percepatan Pemulihan Pendidikan di Wilayah Bencana, Dirjen PAUD Dikdasmen Pantau Kesiapan Semester Kedua Tahun Ajaran 2025/2026 dan Aktivitas Psikososial Siswa

Schoolmedia BIREUEN – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen PAUD Dikdasmen) bergerak cepat guna memastikan keberlanjutan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh yang berlangsung di tenda darurat dan sarana ibadah. Selain percepatan perbaikan infrastruktur, fokus utama pemulihan diarahkan pada penanganan psikososial siswa dan kesiapan satuan pendidikan menghadapi semester kedua tahun ajaran 2025/2026.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah (PAUD Dasmen) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, Ph.D untuk kesekian kali pasca bencana melakukan kunjungan kerja maraton ke Provinsi Aceh di penghujung tahun 2025. Kunjungan ini merupakan langkah strategis untuk meninjau langsung kondisi sekolah-sekolah di Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Pidie Jaya yang mengalami kerusakan serius akibat bencana alam beberapa waktu lalu.

Rombongan Dirjen mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda (BTJ) pada Selasa pagi (30/12/2025) pukul 10.15 WIB. Tanpa menunda waktu, tim langsung menempuh perjalanan darat selama hampir lima jam menuju Kabupaten Bireuen. Setibanya di lokasi pada pukul 15.00 WIB, Gogot yang didampingi oleh jajaran Dinas Pendidikan setempat langsung melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah titik sekolah darurat yang menggunakan tenda-tenda pendidikan.

Di Bireuen, peninjauan menyasar seluruh jenjang pendidikan, mulai dari satuan PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SMK. Di tengah keterbatasan, para guru dan siswa terlihat masih mengupayakan aktivitas belajar-mengajar di bawah naungan tenda darurat yang berdiri di atas lahan sekolah yang sebelumnya terendam banjir dan tertutup material lumpur.

"Kami hadir di sini untuk memastikan bahwa hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan tidak boleh terhenti oleh bencana. Kondisi darurat bukan alasan untuk memutus akses belajar. Pemerintah berkomitmen penuh mendukung pemulihan fasilitas pendidikan di Aceh agar anak-anak segera kembali belajar di ruang kelas yang layak dan aman," tegas Gogot Suharwoto di sela-sela peninjauannya di salah satu SMP di Bireuen.

Dukungan Finansial dan Logistik

Kemendikdasmen menyadari bahwa pemulihan tidak cukup hanya dengan instruksi, melainkan memerlukan dukungan nyata di lapangan. Dalam kunjungan tersebut, Dirjen Gogot menyerahkan bantuan dana khusus yang dialokasikan untuk operasional pembersihan material lumpur di sekolah-sekolah. Hal ini diprioritaskan agar lingkungan sekolah kembali higienis sebelum siswa memulai kegiatan belajar mengajar (KBM) pada awal Januari 2026.

Selain dukungan finansial, bantuan logistik berupa school kit yang berisi tas sekolah, buku tulis, dan alat tulis dibagikan langsung kepada para peserta didik. Bagi satuan PAUD, pemerintah menyalurkan bantuan Alat Permainan Edukatif (APE) yang dirancang khusus untuk mendukung pemulihan psikososial anak-anak melalui metode bermain sambil belajar.

"Bantuan ini adalah bentuk empati dan kepedulian pemerintah. Kami ingin mengurangi beban ekonomi orang tua yang juga sedang berupaya memulihkan kondisi rumah mereka, sekaligus memberikan motivasi kepada siswa agar tidak kehilangan semangat untuk bersekolah meski dalam kondisi darurat," tambahnya.

Benteng Psikososial di Aceh Tamiang

Sementara pemerintah pusat berfokus pada kebijakan dan infrastruktur, gerakan akar rumput di Kabupaten Aceh Tamiang memperkuat aspek psikologis anak-anak penyintas. Lembaga Dongeng Ceria memprakarsai program "Zona Anak" sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk tetap mendapatkan pendampingan layak di tengah situasi pascabencana yang masih belum stabil.

Dena, perwakilan dari Dongeng Ceria, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari realitas lapangan yang mengkhawatirkan. Saat pertama kali tim terjun ke Aceh Tamiang, banyak anak terlihat berkeliaran di jalanan dan mengejar kendaraan bantuan yang lewat, sementara orang tua mereka sibuk membersihkan sisa banjir.

"Kondisi tersebut sangat berbahaya. Ada risiko kecelakaan lalu lintas dan paparan debu sisa banjir yang mengancam kesehatan pernapasan anak. Maka, kami menghadirkan Zona Anak agar mereka memiliki tempat berkumpul yang aman dan terpantau, sehingga orang tua bisa berfokus pada proses pemulihan rumah tanpa rasa khawatir," jelas Dena.

Saat ini, Zona Anak telah hadir di lima titik strategis yang mencakup wilayah Aceh Tamiang dan Kota Langsa:

 * Dusun Suka Makmur, Desa Medang Ara (50 anak).

 * Dusun Barang Mekku, Desa Medang Ara (42 anak).

 * Mushola Al Hikmah, Desa Pahlawan (50-100 anak).

 * Kampung Jawa Langsa, Paya Bujok Tunong (70-100 anak).

 * Dusun 1 dan 2 Desa Pahlawan, Manuak Payed (150 anak).

Kurikulum Keceriaan dan Disiplin

Di setiap titik, Zona Anak menerapkan kurikulum kegiatan yang seragam. Aktivitas dimulai pukul 14.00 WIB, setelah waktu salat Zuhur dan makan siang. Rangkaian kegiatannya dirancang untuk memulihkan motorik dan kreativitas, mulai dari ice breaking, menggambar, menulis cerita, hingga seni melipat origami.

Menariknya, program ini juga menjadi ajang penguatan karakter dan kemandirian. Anak-anak diajarkan nilai disiplin melalui hal-hal sederhana seperti merapikan sandal, menjaga kebersihan area belajar, dan menjalankan jadwal piket bersama. Pada sore hari, kegiatan diisi dengan nilai religius melalui salat Asar berjamaah dan mengaji menggunakan Iqro serta Al-Qur'an.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran serta masyarakat lokal. Di titik Mushola Al Hikmah, misalnya, para kaum ibu atau "emak-emak" setempat secara sukarela membantu memasak dan menyiapkan makanan agar anak-anak dapat mengikuti kegiatan dengan kondisi fisik yang prima.

Kehadiran dukungan dari pemerintah maupun relawan disambut hangat oleh anak-anak Aceh. Ayesha Ningrum (8), siswa kelas 2 SD, mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. "Saya senang sekali bisa menggambar dan bermain lagi dengan teman-teman. Di sini rasanya lebih aman," tuturnya.

Hal serupa disampaikan Aufa Bima (10), siswa kelas 5 SD yang aktif mengikuti kegiatan di Zona Anak. Selain mendapatkan pelajaran tambahan, Aufa merasa bangga bisa ikut serta membantu para relawan membersihkan masjid dan lingkungan sekitar. Baginya, kehadiran relawan telah melahirkan rasa tenang di tengah situasi sulit pascabanjir.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., dalam keterangannya menekankan pentingnya sinergi antara pemulihan fisik dan pemulihan jiwa. Menurutnya, kolaborasi antara kementerian teknis seperti Kemendikdasmen dengan lembaga sosial seperti Dongeng Ceria adalah kunci keberhasilan penanganan bencana di sektor pendidikan.

"Data kami menunjukkan bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling rentan mengalami trauma jangka panjang. Apa yang dilakukan di Aceh, mulai dari penyediaan tenda darurat oleh Kemendikdasmen hingga Zona Anak oleh relawan, merupakan bentuk manajemen bencana yang komprehensif," ujar Abdul Muhari.

Zona Anak rencananya akan terus berlanjut hingga sekolah-sekolah yang rusak selesai diperbaiki atau dibersihkan. Dongeng Ceria sendiri juga telah membentuk tim gabungan untuk membantu pembersihan fasilitas sekolah guna mempercepat kembalinya aktivitas akademik formal.

Kunjungan kerja Dirjen PAUD Dasmen ini ditutup dengan evaluasi bersama Dinas Pendidikan setempat untuk memastikan anggaran renovasi sekolah dapat segera cair pada awal tahun anggaran 2026. Dengan kolaborasi yang solid ini, diharapkan pendidikan di Aceh dapat segera bangkit dan kembali normal dalam waktu dekat.

Penyunting : Eko B Harsono 



Lipsus Selanjutnya
Merajut Asa di Hari Pertama Sekolah di Aceh Tamiang, Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Musibah Adalah Guru Kehidupan
Lipsus Sebelumnya
Komitmen Pemulihan Pembelajaran: Dari Sekolah Darurat hingga Ruang Psikososial

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar