Cari

Komitmen Pemulihan Pembelajaran: Dari Sekolah Darurat hingga Ruang Psikososial


Di Balik Lumpur Tamiang, Ada Tawa dan Hak Bermain Sambil Belajar Siswa Tak Boleh Padam

Schoolmedia News ACEH TAMIANG = Di pelataran Mushola Al Hikmah, Desa Pahlawan, sisa-sisa lumpur kering masih membekas di dinding bangunan. Namun, di bawah atap tempat ibadah itu, suasana duka pascabencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang seolah luruh. Suara riuh rendah seratusan anak yang tengah melipat kertas origami menjadi harmoni yang memutus sunyi kepiluan. Di sana, sebuah ikhtiar bernama "Zona Anak" sedang merajut kembali keceriaan yang sempat terendam air bah.

Bencana alam memang selalu meninggalkan jejak fisik yang nyata: jembatan putus, rumah yang porak-poranda, hingga sekolah yang tertutup lumpur pekat. Namun, di balik angka-angka kerugian material yang dirilis pemerintah, ada luka yang tak kasat mata namun dalam, yakni trauma pada jiwa-jiwa kecil. Bagi anak-anak di Aceh Tamiang, banjir bukan sekadar air yang masuk ke dalam rumah, melainkan hilangnya ruang bermain dan rutinitas yang memberi mereka rasa aman.

Dena, salah satu penggerak dari lembaga Dongeng Ceria, masih mengingat jelas pemandangan getir saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Muda Sedia—julukan Aceh Tamiang—sesaat setelah banjir surut. Di sepanjang jalan protokol, ia melihat pemandangan yang mengkhawatirkan: anak-anak kecil berlarian tanpa pengawasan, mengejar setiap kendaraan yang melambat, sementara orang tua mereka sibuk berjibaku menguras lumpur dan menyelamatkan harta benda yang tersisa.

"Kondisinya sangat berisiko. Selain bahaya kecelakaan lalu lintas, debu sisa banjir yang mulai mengering itu sangat tidak sehat untuk paru-paru mereka," kenang Dena saat berbincang di sela kesibukannya mendampingi anak-anak, pekan lalu.

Pemandangan itulah yang memicu lahirnya "Zona Anak". Sebuah konsep ruang aman (safe space) darurat yang didesain untuk menarik anak-anak dari jalanan yang berdebu dan berbahaya, menuju sebuah kantong aktivitas yang terukur, edukatif, dan penuh kegembiraan.

Membangun Benteng Psikososial

Program Zona Anak bukan sekadar tempat penitipan anak. Di sini, kurikulum kegembiraan disusun dengan apik. Setiap harinya, tepat pukul 14.00, setelah anak-anak menunaikan salat Zuhur dan mengisi perut, aktivitas dimulai. Tidak ada papan tulis formal, yang ada hanyalah tawa dan kreativitas.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan ice breaking untuk melemaskan ketegangan. Setelah itu, mereka diajak mengasah motorik melalui kegiatan menggambar, menulis cerita, hingga seni melipat origami. Menjelang petang, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Setelah salat Asar berjamaah, mereka melingkar, membuka kitab Iqro dan Al-Qur’an untuk mengaji bersama.

"Dalam kondisi yang memprihatinkan sekalipun, anak-anak tetap harus mendapatkan haknya untuk belajar dan bermain. Zona Anak ingin menanamkan bahwa mereka tetap bisa tumbuh menjadi anak-anak yang hebat, meski keadaan sedang tidak berpihak," tutur Dena.

Menariknya, program ini menjadi bukti nyata kekuatan gotong royong warga lokal. Di Mushola Al Hikmah, keberlangsungan Zona Anak disokong oleh "emak-emak" hebat. Para ibu di sekitar lokasi bencana secara sukarela mengelola dapur umum, memasak menu sederhana namun bergizi agar anak-anak bisa mengikuti kegiatan dengan perut kenyang. Tanpa upah, hanya demi melihat anak-anak mereka kembali tersenyum.

Disiplin di Tengah Keterbatasan

Meski bersifat rekreatif, Zona Anak menyelipkan nilai-nilai karakter yang kuat. Anak-anak diajarkan untuk menjaga kebersihan area belajar, merapikan sandal di teras mushola, hingga berbagi tugas dalam jadwal piket harian. Sebuah upaya untuk mengembalikan rasa kendali atas diri sendiri (sense of control) yang biasanya hilang saat seseorang menjadi penyintas bencana.

Ayesha Ningrum (8), siswa kelas 2 Sekolah Dasar, menjadi salah satu dari ratusan anak yang menemukan kembali dunianya di sini. Dengan wajah berlumur sedikit coretan krayon, ia menunjukkan gambar rumah dengan matahari yang bersinar cerah. "Senang sekali, bisa main sama teman-teman lagi. Kalau di rumah sepi, banyak lumpur," tuturnya malu-malu.

Hal senada diungkapkan Aufa Bima (10). Bagi siswa kelas 5 SD ini, Zona Anak memberinya ruang untuk merasa berguna. Selain bermain, ia dan teman-temannya sering membantu relawan membersihkan area masjid. "Kami rindu sekolah, tapi di sini kami juga belajar banyak hal baru," katanya.

Hingga saat ini, titik-titik keceriaan ini telah tersebar di lima lokasi strategis:

 * Desa Medang Ara (Suka Makmur) yang mengakomodasi 50 anak.

 * Desa Medang Ara (Barang Mekku) yang diikuti 42 anak.

 * Mushola Al Hikmah (Desa Pahlawan) yang menjadi titik terbesar dengan 100 anak.

 * Kampung Jawa Langsa (Paya Bujok Tunong) yang melayani sekitar 100 anak.

 * Desa Pahlawan (Kecamatan Manuak Payed) yang merangkul 150 anak.

Menanti Lonceng Sekolah Kembali Berbunyi

Upaya yang dilakukan oleh Dongeng Ceria dan kolaborasi lembaga lokal di Aceh Tamiang ini sejalan dengan perhatian pemerintah pusat. Menjelang akhir tahun, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dikdasmen) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto Ph.D, turun langsung ke lapangan untuk meninjau program pemulihan pembelajaran ini.

Gogot memberikan apresiasi mendalam atas inisiatif sekolah darurat dan program psikososial yang berjalan di Aceh Tamiang. Menurutnya, pemulihan pembelajaran pascabencana adalah prioritas agar tidak terjadi learning loss yang berkepanjangan.

"Pemerintah terus berupaya mempercepat pembersihan sekolah agar fasilitas pendidikan bisa segera digunakan kembali secara layak. Namun, sebelum itu terjadi, kehadiran ruang-ruang seperti Zona Anak ini adalah jembatan yang sangat krusial bagi transisi psikologis anak," ujar Gogot saat melihat dari dekat kegiatan sekolah darurat.

Langkah ini juga didukung dengan program pembersihan sekolah yang dilakukan oleh tim gabungan bersama relawan Dongeng Ceria. Targetnya jelas: mengoptimalkan pemulihan fasilitas fisik sehingga lonceng sekolah bisa segera berbunyi kembali.

Bagi Abdul Muhari, Ph.D., Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, inisiatif di Aceh Tamiang ini adalah model nyata dari manajemen bencana yang sensitif terhadap perlindungan anak. Pemulihan bencana bukan hanya soal membangun kembali beton yang retak, melainkan memastikan harapan generasi mendatang tidak ikut hanyut terbawa arus.

Di bawah langit Aceh Tamiang yang mulai cerah, anak-anak itu masih terus melipat kertas dan mewarnai lembar-lembar putih. Mereka sedang membuktikan bahwa meski banjir datang menerjang, tawa dan mimpi mereka tak akan pernah bisa ditenggelamkan. Zona Anak bukan sekadar tempat bermain, ia adalah benteng terakhir yang menjaga masa depan dari trauma yang menghantui.

Tim Schoolmedia 


Lipsus Selanjutnya
Dirjen PAUD Dikdasmen Pantau Kesiapan Semester Kedua Tahun Ajaran 2025/2026 dan Aktivitas Psikososial Siswa
Lipsus Sebelumnya
Aktivitas Pasar Rakyat Mulai Bergeliat di Daerah Paska Bencana Banjir Bandang Sumatera

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar