Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
Nasional

Angka Kerugian Scam di Indonesia Capai Rp7,5 Triliun, Pelindungan Konsumen Digital Harus Diperkuat

author Eko Schoolmedia
Jul 02, 2026 |


Schoolmedia News Jakarta = Sore itu, gawai di atas meja kayu milik Kartono (68) bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal tertera di layar. Saat tombol hijau digeser, suara di seberang sana terdengar begitu akrab—suara parau khas putra sulungnya yang merantau di ibu kota. Sang "anak" menangis sesenggukan, mengaku ditangkap polisi karena kecelakaan lalu lintas dan membutuhkan uang jaminan sebesar Rp20 juta segera. Tanpa pikir panjang, didorong kepanikan seorang ayah, Kartono bergegas ke ATM terdekat.

Nahas, uang pensiun yang dikumpulkannya bertahun-tahun lenyap dalam hitungan menit. Anak aslinya ternyata sedang rapat di kantornya, sehat walafiat, dan tidak tahu-menahu soal panggilan telepon itu. Kartono adalah satu dari ribuan korban yang terjebak dalam pusaran angin buritan penipuan digital (scamming) modern yang kian ganas di Indonesia.

Angka Kerugian Masyarakat Fantastis

Modus yang menimpa Kartono bukan lagi sekadar tipuan "mama minta pulsa" yang jamak ditemui satu dekade lalu. Kini, para pelaku kejahatan siber telah mempersenjatai diri dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk merekayasa suara (voice cloning) hingga sangat mirip dengan orang terdekat korban.

Skala ancaman ini bukan lagi sekadar isu pinggiran, melainkan badai finansial yang nyata. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyoroti tajam fenomena yang kian memprihatinkan ini.

“Angka scam naik terus. Kemarin total kerugian akibat spam dan scam mencapai Rp7,5 triliun berdasarkan laporan dari Global Anti-Scam Alliance,” ungkap Nezar dalam audiensi dengan perusahaan keamanan siber Kaspersky di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat.

Kerugian masif senilai Rp7,5 triliun ini menjadi alarm keras bahwa ruang digital Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Teknologi yang sejatinya diciptakan untuk mempermudah hidup, justru berbalik menjadi senjata pemeras yang efisien di tangan para penipu.

Lansia Jadi Target Scamming

Di tengah melesatnya kecanggihan teknologi, kelompok lanjut usia (lansia) kerap menjadi kelompok paling rentan. Ketimpangan literasi digital membuat mereka menjadi sasaran empuk psikologi terbalik yang dimainkan para pelaku.

Wamen Nezar Patria menjelaskan betapa canggihnya manipulasi psikologis dan teknologi yang dihadapi para lansia saat ini. "Para lansia kasihan. Banyak sekali yang kena scam dan spam. Scam yang paling bahaya dengan menelepon sebagai orang lain. Sekarang makin canggih karena bisa meniru suara orang bahkan meniru suara-suara pejabat pakai AI. Dia ketik teksnya, terus tinggal diputar ulang," urai Nezar.

Melalui peranti lunak pengubah suara berbasis AI, pelaku hanya membutuhkan sampel suara target sepanjang beberapa detik yang diambil dari media sosial. Begitu teks diketik, AI akan melafalkannya dengan intonasi, timbre, dan aksen yang identik, menciptakan ilusi sempurna yang mengoyak rasionalitas korban.

Melihat situasi yang kian darurat, pemerintah tidak bisa tinggal diam. Kementerian Komunikasi dan Digital kini mendorong penguatan pelindungan konsumen digital secara sistemik. Hulu dari segala komunikasi ini—yaitu perusahaan penyedia layanan telekomunikasi—diminta menjadi benteng pertahanan pertama.

Pemerintah mendorong agar seluruh perusahaan telekomunikasi melindungi para konsumen dengan mengimplementasikan fitur anti-scam, baik dalam bentuk aplikasi atau sistem proteksi jaringan lainnya. Langkah ini diharapkan mampu menyaring panggilan-panggilan mencurigakan atau mendeteksi manipulasi suara sebelum sampai ke gawai masyarakat.

Meski demikian, pemerintah tidak menerapkan aturan yang kaku. Perusahaan telekomunikasi diberikan keleluasaan untuk melakukan asesmen mandiri. Mereka dapat memilih langkah implementasi fitur anti-scam yang paling sesuai dengan model bisnis masing-masing, asalkan hak pelindungan konsumen tetap menjadi prioritas utama.

Langkah mitigasi ini menjadi krusial. Sebab, jika benteng teknologi tidak segera dibangun di sektor hulu, kisah-kisah pilu seperti yang dialami Kartono akan terus berulang, mengintai di balik dering telepon yang tampak tidak berdosa

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti meningkatnya ancaman penipuan digital di Indonesia dengan kerugian yang mencapai sekitar 7,5 triliun rupiah.

Pemerintah mendorong penguatan pelindungan konsumen digital melalui kerja sama dengan pelaku industri dan pengembangan sistem anti-scam di sektor telekomunikasi dan layanan digital.

“Angka scam naik terus. Kemarin total kerugian akibat spam dan scam mencapai Rp7,5 triliun berdasarkan laporan dari Global Anti-Scam Alliance,” ungkapnya dalam audiensi dengan Kaspersky di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Selasa (30/06/2026).

Menurutnya, hal tersebut memprihatinkan terlebih bagi para lansia yang rentan terkena scam yang semakin canggih menggunakan teknologi kecerdasan artifisial (AI).

“Para lansia kasihan. Banyak sekali yang kena scam dan spam. Scam yang paling bahaya dengan menelepon sebagai orang lain. Sekarang makin canggih karena bisa meniru suara orang bahkan meniru suara-suara pejabat pakai AI. Dia ketik teksnya, terus tinggal diputar ulang,” jelas Wamen Nezar.

Menanggapi angka scam yang meningkat, pemerintah Indonesia mendorong seluruh perusahaan telekomunikasi untuk mengimplementasikan fitur anti-scam agar dapat melindungi para konsumen.

“Pemerintah mendorong agar seluruh perusahaan telekomunikasi melindungi para konsumen dengan mengimplementasikan fitur anti-scam, baik dalam bentuk aplikasi atau bentuk lain,” lanjutnya.

Wamen Nezar mengatakan para perusahaan telekomunikasi dapat melakukan asesmen mandiri untuk memilih langkah implementasi yang sesuai dengan model bisnis masing-masing.

Tim Schoolmedia

Koalisi Masyarakat untuk Reformasi Kepolisian Menilai 80 Tahun Polri, Gagal Reformasi
Berita Sebelumnya
Koalisi Masyarakat untuk Reformasi Kepolisian Menilai 80 Tahun Polri, Gagal Reformasi
author Eko Schoolmedia
Jul 02, 2026