Luncurkan Standar Pangan Aman Untuk Murid, Kemendikdasmen-BPOM Lakukan Intervensi di 260.000 Sekolah

Luncurkan Standar Pangan Aman Untuk Murid, Kemendikdasmen-BPOM Lakukan Intervensi di 260.000 Satuan PAUD, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah
JAKARTA Schoolmedia News Jakarta — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan memperkuat standardisasi dan pengawasan keamanan pangan di lingkungan sekolah. Langkah taktis ini diambil menyusul masih rendahnya tingkat literasi gizi peserta didik serta keterbatasan jangkauan pengawasan langsung ke ratusan ribu satuan pendidikan di Indonesia.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) kedua lembaga di Jakarta, Senin (29/6/2026). Kolaborasi ini sekaligus menandai peluncuran Program Sadar Pangan Aman (SAPA) Sekolah Berbasis Budaya, Gerakan 1.000 Kader Edukasi Pangan Aman Menggunakan Bahasa Daerah, serta pengesahan tiga pedoman teknis pelaksanaan keamanan pangan di sekolah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyatakan, intervensi ini mendesak dilakukan karena mayoritas anak usia sekolah masih terjebak pada pola konsumsi *food for fun*. Fenomena ini merujuk pada kecenderungan memilih produk pangan jajanan berdasarkan faktor kesenangan rasa, tren, atau kemasan visual, tanpa menyadari kandungan gizi dan faktor keamanannya.
"Budaya hidup sehat dan sadar pangan harus diintegrasikan sejak dini ke dalam ekosistem pendidikan. Ini adalah bagian dari pendidikan karakter yang relevan dengan keseharian siswa," kata Abdul Mu'ti di Jakarta.
Melalui program SAPA, Kemendikdasmen menargetkan transformasi perilaku agar siswa memiliki nalar kritis saat mengonsumsi makanan. Murid-murid akan dibiasakan secara aktif memeriksa label komposisi bahan (ingredients) serta tanggal kedaluwarsa produk sebelum membelinya. Sikap kritis ini diharapkan dapat menekan angka kasus keracunan pangan ataupun malanutrisi di lingkungan sekolah.
Langkah ini juga dirancang untuk mengintegrasikan berbagai program strategis nasional yang sedang berjalan, seperti Program Sekolah Sehat, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta penyusunan standardisasi dapur untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjangkau jutaan siswa.
Keterbatasan Jangkauan
Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dari sekitar 260.000 sekolah yang beroperasi di seluruh Indonesia, kapasitas pengawasan langsung yang dimiliki BPOM baru menyentuh angka 60.000 sekolah. Terdapat celah atau jurang pengawasan sekitar 200.000 sekolah yang belum terjangkau secara optimal.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan, pembentukan budaya pangan aman di tingkat tapak sekolah menjadi solusi mutlak untuk mengatasi keterbatasan institusional tersebut. Dengan melatih kader-kader internal di sekolah, fungsi pengawasan mandiri dapat berjalan setiap hari.
"Pendidikan mengenai budaya makan sehat dan bergizi wajib diajarkan sejak awal. Sinergi lintas sektor dengan Kemendikdasmen adalah kunci utama untuk memperluas jangkauan edukasi ke 200.000 sekolah yang belum tersentuh," ujar Taruna Ikrar.
Pendekatan Kebudayaan
Berbeda dengan sosialisasi formal yang cenderung kaku, implementasi program keamanan pangan kali ini akan memanfaatkan instrumen kebudayaan lokal. Kementerian Kebudayaan turut dilibatkan untuk merancang materi edukasi yang berbasis pada kearifan lokal.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan, Gerakan 1.000 Kader Edukasi Pangan Aman akan dibekali materi komunikasi yang diadaptasi ke dalam bahasa daerah, seni pertunjukan tradisional, serta cerita rakyat. Metode ini dinilai memiliki daya tembus sosiologis yang lebih kuat ke dalam psikologi kognitif anak-anak.
"Pesan-pesan berat mengenai mitigasi pangan berbahaya akan jauh lebih mudah diterima dan diinternalisasi jika disampaikan lewat bahasa ibu atau kesenian lokal yang akrab dengan keseharian mereka," tutur Fadli Zon.
Kolaborasi tripartit ini diharapkan menjadi fondasi makro bagi pemenuhan hak kesehatan anak. Keberhasilan pengawasan pangan di hilir sekolah ini dinilai sebagai variabel penentu utama dalam mencetak profil generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Penulis : Eko B Harsono
Berita Lainnya:
Presiden Prabowo Tutup KSTI 2026, Serukan Persatuan Potensi Bangsa untuk Lompatan Besar Sains dan Teknologi
Korban Berjatuhan di Medan Latihan, Saatnya Redesain Pelatihan Manajer Koperasi Desa
Praktik Penyiksaan dalam Penegakan Hukum di Indonesia Harus Dihentikan