Jenjang PAUD Fase Fondasi Emas Anak Indonesia, TPG Dorong Profesionalisme Guru Sukseskan Wajib Belajar 13 Tahun Melalui 1 Tahun Prasekolah

Schoolmedia News Bandar Lampung – Pendidikan anak usia dini kini resmi menjadi bagian dari program Wajib Belajar 13 Tahun. Kebijakan ini menegaskan bahwa setiap anak Indonesia wajib menempuh satu tahun prasekolah sebelum memasuki jenjang SD, lalu melanjutkan 12 tahun pendidikan dasar hingga menengah. Langkah ini bukan sekadar penambahan masa belajar, melainkan strategi besar untuk membangun fondasi sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Program ini ditegaskan dalam UU No 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2029. PAUD ditempatkan sebagai salah satu dari 20 langkah transformasi superprioritas (game changers) dalam kerangka transformasi sosial nasional. Namun, data Susenas 2023 menunjukkan hanya 36,36 persen anak usia dini yang mengakses layanan prasekolah. Angka ini mencerminkan tantangan besar sekaligus peluang untuk memperkuat kualitas SDM sejak dini.
Bukti Riset Global
Kesadaran pentingnya intervensi usia dini berangkat dari penelitian High/Scope Perry Preschool Project di Amerika Serikat pada 1962. Anak-anak yang mengikuti program PAUD berkualitas terbukti memiliki capaian akademik lebih tinggi, penghasilan lebih besar, dan lebih jarang terlibat masalah hukum.
Kajian serupa dilakukan oleh ekonom peraih Nobel, James Heckman, yang menemukan investasi PAUD berkualitas memberi pengembalian 13,7 persen per anak per tahun. Dampaknya terlihat pada pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan status sosial.
Di Indonesia, Bank Dunia meneliti layanan PAUD berbasis komunitas di 50 kabupaten marginal. Hasilnya, anak usia empat tahun mengalami peningkatan kognitif signifikan, sementara anak usia satu tahun menunjukkan perbaikan kesehatan fisik, bahasa, dan kognitif.
Kajian neurosains menegaskan intervensi sejak masa kehamilan hingga usia lima tahun membentuk fondasi otak yang kokoh. Pendidikan prasekolah bukan sekadar persiapan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kesehatan mental, dan keterampilan sosial.
Kualitas guru menjadi kunci keberhasilan program ini. Pemerintah menyalurkan Tunjangan Profesi Guru (TPG) untuk mendorong guru PAUD meningkatkan kompetensi.
Budi Iswanti, guru TK Al Muttaqien di Bandar Lampung, memanfaatkan TPG untuk membeli media pembelajaran, berlangganan internet, dan mengikuti pelatihan. “Sebagai guru PAUD, saya ingin menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan berpusat pada kebutuhan anak,” ujarnya.
Puput Angellica, guru TK Harapan Bangsa di Pringsewu, Lampung, menggunakan TPG untuk mengikuti seminar dan workshop. “Inovasi pembelajaran membuat anak senang ke sekolah, membentuk karakter, dan mendorong tumbuh kembang ideal,” katanya. S
Strategi Pemerintah Perluas Akses
Pemerintah menargetkan peningkatan partisipasi PAUD melalui tiga strategi utama: perluasan akses, peningkatan mutu, dan penguatan tata kelola. Perluasan akses dilakukan dengan membangun lebih banyak lembaga PAUD di daerah terpencil, memberikan bantuan operasional, serta mendorong partisipasi masyarakat melalui PAUD berbasis komunitas.
Di sejumlah desa di Nusa Tenggara Timur, misalnya, pemerintah bekerja sama dengan organisasi lokal untuk mendirikan kelompok bermain sederhana. Meski fasilitas terbatas, semangat masyarakat menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak menjadi bukti bahwa pendidikan usia dini bisa tumbuh dari akar komunitas.
Di Kabupaten Sumba Barat, seorang guru PAUD bernama Maria mengajar di bangunan sederhana beratap seng. Dengan kreativitas, ia memanfaatkan bahan alam sebagai media belajar: batu untuk berhitung, daun untuk mengenal warna, dan pasir untuk melatih motorik halus. “Anak-anak di sini senang belajar dengan alam. Saya percaya mereka bisa tumbuh dengan fondasi kuat meski fasilitas terbatas,” kata Maria.
Kisah Maria mencerminkan semangat guru-guru di daerah yang berjuang menghadirkan pendidikan berkualitas. Dukungan kebijakan wajib belajar prasekolah diharapkan memperkuat peran mereka dengan pelatihan, tunjangan, dan akses sumber belajar.
Peran LPTK dan BGTK
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan LPTK berperan penting mencetak guru berkualitas. Profesi guru, menurutnya, harus dikelola layaknya profesi strategis lain dengan sistem pendidikan, kuota penerimaan, dan jalur karier yang jelas.
“Peningkatan kualitas guru menjadi prioritas utama pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dukungan LPTK sangat penting untuk menghasilkan guru profesional, kompeten, dan siap mencetak generasi unggul,” ujarnya di Bandar Lampung.
Wajib Belajar 13 Tahun adalah investasi jangka panjang. Dengan memperluas akses PAUD, meningkatkan mutu pembelajaran, dan memperkuat tata kelola, Indonesia sedang membangun fondasi emas SDM yang akan menentukan daya saing bangsa di masa depan.
Program ini bukan sekadar menambah masa belajar, melainkan memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dengan fondasi kokoh sejak usia dini. Dari ruang kelas PAUD di desa hingga kota, dari guru yang bersemangat hingga kebijakan nasional, semua bergerak menuju satu tujuan: mencetak generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.
Tim Schoolmedia
Berita Lainnya:
Kepala Sekolah Diimbau Bersinergi Dengan Dukcapil Buatkan Akte Kelahiran Agar Anak Bisa Srkolah
Kemendikdasmen Lakukan Transformasi Tata Kelola Pendidikan yang Terintegrasi dalam RUU Sisdiknas