Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
Nasional

Rapor Kontras PAUDHI 2026, Ketika Kelas Orang Tua Juara, Sarana Sanitasi dan Air Bersih Masih Langka

author Eko Schoolmedia
Jun 24, 2026 |



Schoolmedia News Jakarta = Pagi belum sepenuhnya benderang di sebuah sudut PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di pinggiran kota Kupang, NusaTenggaraTimur. Di dalam ruangan, belasan ibu duduk melingkar, asyik berdiskusi tentang pola asuh anak bersama seorang fasilitator. Sementara di halaman, gelak tawa anak-anak terdengar riuh saat mereka mengantre untuk ditimbang berat badannya.

Pemandangan ini bukan sekadar rutinitas sekolah biasa. Ini adalah potret nyata dari denyut nadi Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUDHI) — sebuah ikhtiar besar negara untuk merajut masa depan generasi emas Indonesia langsung dari akar rumputnya.

Merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2013, PAUD HI bukanlah program pendidikan instan. Ia adalah komitmen untuk memenuhi kebutuhan esensial anak usia dini secara simultan, sistematis, dan terintegrasi. Tujuannya tegas: memastikan setiap anak sejak dalam kandungan hingga usia 6 tahun mendapatkan hak dasarnya secara utuh. 

Bukan cuma belajar membaca atau berhitung (layanan pendidikan), tetapi juga mendapatkan hak kesehatan dan gizi, pengasuhan yang benar, perlindungan, hingga kesejahteraan yang layak.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yang beridiri sebagai anggota gugus tugas PAUDHI, memikul tanggung jawab besar agar pemenuhan hak tumbuh kembang anak ini berjalan berkesinambungan. 

Untuk mengukur sejauh mana cita-cita ini membumi, ditetapkanlah Delapan Indikator Layanan Esensial PAUDHI di tingkat satuan pendidikan.

Rapor Akhir 2025: Keberhasilan "Kelas Orang Tua" dan Tantangan Terbesar

Menjelang akhir tahun 2025, data nasional menyuguhkan sebuah cerita yang kontras—sebuah kombinasi antara prestasi yang membanggakan sekaligus pekerjaan rumah (PR) yang mendesak untuk segera diselesaikan.

Berdasarkan data cut-off Dapodik per 31 Desember 2025, dari total 206.708 satuan PAUD di seluruh penjuru Indonesia, tren pemenuhan indikator dasar sebenarnya menunjukkan grafik yang sangat menggembirakan jika dibandingkan dengan data baseline tahun 2023.

Tengok saja, sebanyak 98,95% atau sekitar 204.533 satuan PAUD telah berhasil memenuhi minimal satu indikator. Bahkan, sekolah yang sukses mengunci pemenuhan hingga 5 indikator mencapai angka 93,17% (192.583 satuan). Angka ini naik signifikan dari masa *baseline* yang berada di angka 187.067 satuan. 

Angka partisipasi pengisian data pun membaik, di mana jumlah satuan yang tidak mengisi data menyusut drastis hingga tersisa 1,05% (2.175 satuan) saja. Jika membedah rincian indikator satu per satu, kita akan menemukan "bintang kelas" dari program ini: Pelaksanaan Kelas Orang Tua. Indikator ini mencatatkan persentase tertinggi sebesar 98,95% (204.803 satuan). 

Kesadaran bahwa pendidikan anak tidak bisa dibebankan kepada guru semata tampaknya telah mengakar kuat. Kolaborasi antara sekolah dan rumah kini bukan lagi sekadar wacana.

Indikator pemantauan pertumbuhan anak (90,84%) serta pemantauan perkembangan anak (89,12%) juga mengekor di posisi atas. Mayoritas PAUD di Indonesia kini aktif menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, serta memantau motorik anak secara berkala.

Namun, di balik optimisme tersebut, terselip sebuah fakta yang menghentak. Ketika kita bergeser ke indikator kedelapan, yaitu Ketersediaan fasilitas sanitasi dan air bersih, angkanya merosot tajam. Hanya 8,95% atau sekitar 18.498 satuan PAUD** yang memiliki fasilitas air bersih dan sanitasi yang layak.

Dampaknya terasa pada capaian akhir secara menyeluruh. Akibat terganjal isu infrastruktur ini, jumlah satuan PAUD yang mampu melahap bersih seluruh target (memenuhi 8 indikator secara sempurna) menyusut hingga tersisa 5,98% (12.360 satuan). 

Sungguh sebuah ironi yang nyata: di saat kesadaran orang tua meroket dan pemantauan gizi berjalan baik, sarana paling mendasar untuk mencegah penyakit—yakni air bersih dan toilet yang higienis—justru menjadi barang langka di lingkungan sekolah anak-anak kita.

Rincian Capaian 8 Indikator PAUD HI (Per 31 Desember 2025)

Untuk melihat peta sebaran pemenuhan ini secara gamblang, berikut adalah rincian performa dari total 206.708 Satuan PAUD di Indonesia:

No Indikator PAUD HI Jumlah Satuan Persentase
1 Pelaksanaan Kelas Orang Tua 204.803 98,95%
2 Pemantauan Pertumbuhan Anak 187.775 90,84%
3 Pemantauan Perkembangan Anak 184.215 89,12%
4 Koordinasi dengan Unit Lain (Kesehatan & Gizi) 155.895 75,42%
5 Menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih & Sehat) 155.891 75,41%
6 Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Bergizi Sehat 149.664 72,40%
7 Kepemilikan Identitas Peserta Didik (NIK) 138.156

66,82%

8 Ketersediaan Fasilitas Sanitasi dan Air Bersih 18.498 8,95%

 

 

 

 

 

 

 




Lima Strategi Akselerasi Direktorat PAUD

Melihat ketimpangan yang lebar pada sektor sanitasi serta beberapa indikator lainnya, Direktorat PAUD tidak tinggal diam. Sebuah cetak biru strategi percepatan telah dirancang demi mengikis jurang pemisah tersebut dan memastikan sisa target dapat segera dikejar. Sinergi ini mengandalkan lima pilar utama:

  1. Koordinasi Lintas Sektor yang Agresif

Pendidikan anak usia dini tidak bisa berjalan dalam sekat-sekat ego sektoral. Direktorat PAUD mendorong penyusunan SOP koordinasi lintas sektor yang rigid di tingkat daerah. Upaya ini melibatkan dinas kesehatan, dinas sosial, hingga dinas pekerjaan umum (PUPR) setempat untuk ikut bergotong-royong membenahi masalah sanitasi dan air bersih di sekolah.

  1. Masifkan Peningkatan Pemahaman

Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi para Fasilitator Pelaksana PAUD HI, pemahaman guru-guru di lapangan terus di-upgrage. Tak hanya itu, materi edukasi dibuat lebih segar dan membumi lewat infografis, poster, leaflet, video praktik baik, hingga konten kreatif di media sosial, disokong oleh Surat Edaran (SE) yang menjamin pemenuhan target.

  1. Jaminan Penyaluran Bantuan

Direktorat PAUD berkomitmen menyalurkan bantuan PAUD HI guna menyasar 100% satuan PAUD yang masih terseok-seok memenuhi 8 indikator. Dana ini juga dipadukan dengan program Bantuan Satuan Mutu atau Revitalisasi fisik sekolah, khususnya untuk membangun toilet layak dan instalasi air bersih.

  1. Pengawasan Real-Time via Dashboard

Untuk menghindari data "di atas kertas" yang terlambat diperbarui, dikembangkan sistem *dashboard* pemantauan digital. Melalui sistem ini, perkembangan pemenuhan 8 indikator di tiap sekolah bisa dipantau secara langsung, sehingga intervensi bantuan bisa dikirim secara cepat dan tepat sasaran.

  1. Kajian Dampak dan Evaluasi Berkelanjutan

Bukan sekadar mengejar pemenuhan administratif, Direktorat PAUD secara berkala melakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev) serta kajian analisis dampak. Langkah ini dilakukan untuk mengukur seberapa besar pengaruh penerapan 8 indikator ini terhadap tumbuh kembang, kecerdasan, dan kebahagiaan anak-anak di sekolah.

Menatap Masa Depan

Perjalanan menuju ekosistem PAUD HI yang sempurna di Indonesia memang masih panjang dan berliku. Angka kesuksesan kelas orang tua membuktikan bahwa kita punya modal sosial dan semangat gotong royong yang luar biasa dari masyarakat. 

Namun, angka mini di sektor sanitasi adalah alarm keras bahwa investasi infrastruktur dasar di sekolah usia dini tidak boleh lagi dianaktirikan. Melalui sinergi lima strategi akselerasi yang tengah digulirkan, harapan itu kembali membubung tinggi. 

Targetnya jelas: menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya cerdas secara stimulasi pendidikan, tetapi juga sehat, aman, dan protektif bagi setiap anak Indonesia tanpa terkecuali. Karena pada akhirnya, di atas lantai ruang kelas PAUD yang bersih dan air yang mengalir jernih itulah, fondasi masa depan bangsa ini diletakkan.

Penulis : Eko B Harsono 

Disparitas Mutu dan Layanan Pendidikan  di Daerah Masih Lebar, PHTC Revitalisasi Infrastruktur dan Digitalisasi Pembelajaran Diakselerasi
Berita Selanjutnya
Disparitas Mutu dan Layanan Pendidikan di Daerah Masih Lebar, PHTC Revitalisasi Infrastruktur dan Digitalisasi Pembelajaran Diakselerasi
author Eko Schoolmedia
Jun 24, 2026
Indonesia, Brunei, dan Malaysia Perkuat Diplomasi Bahasa Serumpun
Berita Sebelumnya
Indonesia, Brunei, dan Malaysia Perkuat Diplomasi Bahasa Serumpun
author Eko Schoolmedia
Jun 23, 2026