Kemendikdasmen Dorong Satuan Pendidikan Revitalisasi Sekolah Berstandardisasi Desain Ruang Belajar Ramah Anak dan Inklusif

Program Revitalisasi PAUD 2026 Angkatan ke-18, Direktorat PAUD Dorong Satuan PAUD Standardisasi Desain Ruang Belajar Ramah Anak dan Inklusif
TANGERANG PAUDPEDIA — Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026 didorong untuk mengakomodasi standardisasi desain fisik yang ramah anak, aman, nyaman, serta inklusif. Pembahasan mengenai parameter arsitektural tersebut menjadi salah satu pokok materi dalam kegiatan PKS Revitalisasi PAUD Angkatan 18 yang digelar di Tangerang, Banten, Senin (25/5/2026).
Agenda yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini diikuti oleh 124 kepala satuan PAUD dari 26 Kabupaten/Kotab di Provinsi Jawa Barat.
Kegiatan bertujuan mematangkan dokumen perencanaan dan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) sebelum dana bantuan ditransfer langsung ke rekening satuan pendidikan.
Tenaga Ahli Sarana dan Prasarana Direktorat PAUD, Winoto Hadi, menjelaskan bahwa seluruh elemen fisik bangunan perlu dirancang secara matang untuk mendukung tumbuh kembang anak usia dini.
Komponen tersebut dituangkan secara detail dalam dokumen Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) sebagai acuan administratif dan teknis yang tidak terpisahkan dari Surat Perjanjian Kerja Sama (SPKS).
Desain Interior Edukatif dan Sensorik Anak
“Setiap perencanaan teknis arsitektural, mulai dari kekuatan struktur bangunan hingga fungsi penggunaan ruang, disiapkan untuk memenuhi kriteria keandalan bangunan, yaitu selamat, sehat, nyaman, dan memberikan kemudahan bagi aktivitas anak,” ujar Winoto di hadapan peserta kegiatan.
Dalam penerapannya, pengaturan detail interior seperti dinding ruang kelas diarahkan untuk memberikan pengaruh psikologis yang positif bagi anak.
Misalnya, terkait pemilihan warna dinding, disarankan menggunakan warna lembut dan netral, seperti biru muda, hijau muda, kuning muda, atau krem karena memiliki efek menenangkan sekaligus membantu meningkatkan fokus anak dengan sensitivitas visual tertentu.
Selain itu, cat dinding yang digunakan perlu ramah lingkungan, mudah dibersihkan, serta dilengkapi dengan lapisan kedap air (waterproof) untuk area yang berdekatan dengan kamar mandi.
Adapun terkait material lantai, Winoto menekankan pentingnya penggunaan bahan yang aman, tidak licin, dan bervariasi seperti keramik, kayu, vinyl, atau rumput sintetis untuk merangsang indra peraba dan memberikan pengalaman sensorik yang beragam bagi anak.
Pihak sekolah juga dapat menggunakan karpet, playmat, atau rubber floor secara parsial di area aktivitas tertentu untuk membantu meredam kebisingan sekaligus mengurangi risiko luka akibat jatuh.
Proteksi Fisik dan Aksesibilitas Ruang
Lebih lanjut, Winoto Hadi menjelaskan mitigasi risiko kecelakaan fisik melalui pengaturan instalasi listrik dan komponen bangunan lainnya. Pemasangan panel dan soket listrik harus dibuat tertutup dengan tinggi minimal 140 sentimeter dari permukaan lantai agar aman dari jangkauan anak, serta memastikan tidak terdapat bentangan kabel di area lantai yang berpotensi membahayakan keselamatan.
Kemudian, untuk struktur langit-langit (plafon), material yang digunakan wajib kuat, aman, dan mampu meredam suara, seperti triplek, GRC, gypsum, atau PVC berstandar SNI, dengan tinggi minimal tiga meter guna mendukung sirkulasi udara yang baik di dalam ruang kelas.
Sementara itu, area pintu masuk kelas disarankan memiliki tinggi 2,1 meter dan lebar 120 hingga 160 sentimeter menggunakan tipe dua bukaan ke arah luar atau pintu geser guna menghemat ruang.
Komponen pintu juga perlu dilengkapi dengan pelindung jari (finger guard) pada sisi engsel serta material bersudut tumpul untuk meminimalkan risiko cedera.
Wujudkan Aksesibilitas Inklusif
Di akhir paparannya, Winoto Hadi mengingatkan bahwa kaidah konstruksi, pemilihan material, ketentuan struktur, hingga detail sambungan bangunan dalam program revitalisasi tahun 2026 perlu dirancang secara akomodatif bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Melalui pendekatan tersebut, fasilitas aksesibilitas inklusif diharapkan dapat diterapkan secara nyata dan merata di lingkungan satuan PAUD.
Beberapa komponen ramah disabilitas yang perlu diperhatikan dalam perencanaan antara lain desain rampa (ramp) yang landai untuk kursi roda, pemasangan ubin pengarah (guiding block) bagi anak dengan hambatan penglihatan, penyediaan pegangan rambat (handrail), hingga pemasangan grab bar atau besi pegangan khusus di area toilet sekolah.
Peliput: Dian Nuswantari
Penyunting: Eko B Harsono
Berita Lainnya:
UGM Tetap Jadi Kampus Favorit, 84.637 Peminat Program Studi di UGM mendaftar melalui Jalur SNBT 2026
Kawah Candradimuka Pemimpin Bangsa, Presiden Prabowo Resmikan Museum dan Perpustakaan Seskoad
Puncak Hardiknas di Jatim Pecahkan Rekor MURI, 24 Ribu Murid Ikuti Senam Anak Indonesia Hebat