
Schoolmedia News Jakarta = Di bawah langit mendung yang menyelimuti Bumi Reog, ribuan perempuan berseragam hijau lumut tampak memenuhi pelataran RS Muslimat NU Ponorogo. Tidak ada keriuhan yang sia-sia; yang ada hanyalah lantunan selawat yang sesekali berpadu dengan diskusi kecil tentang pengelolaan PAUD di desa masing-masing.
Hari itu, Minggu (29/3/2026), Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) resmi memasuki usia ke-80, sebuah usia yang tidak hanya bicara tentang kematangan organisasi, tetapi juga tentang konsistensi dalam merawat tunas-tunas bangsa di akar rumput.
Peringatan Harlah ke-80 ini ditandai dengan sebuah langkah monumental: penguatan infrastruktur sosial dan kesehatan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, hadir langsung untuk meresmikan Gedung Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Ponorogo. Peresmian ini menandai tonggak sejarah baru bagi organisasi perempuan terbesar di Indonesia tersebut dalam memperkuat peran sosial dan dakwah di tingkat basis.
"Gedung yang kita resmikan hari ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kekuatan gotong royong dan kemandirian kader Muslimat NU Ponorogo. Hal ini sejalan dengan Asta Cita Bapak Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, khususnya pada poin penguatan pengembangan sumber daya manusia, kesetaraan gender, dan penguatan peran perempuan," ujar Arifah Fauzi di hadapan ribuan kader.
Akar Pendidikan Anak Usia Dini
Bagi masyarakat Indonesia, Muslimat NU bukan sekadar organisasi keagamaan. Ia adalah tulang punggung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui jaringan Yayasan Pendidikan Muslimat NU (YPMNU). Selama delapan dekade, Muslimat telah mengelola puluhan ribu Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA) yang tersebar hingga ke pelosok desa yang sulit dijangkau oleh fasilitas pemerintah.
Narasi pendidikan ini menjadi krusial. Muslimat NU menyadari bahwa pembentukan karakter bangsa dimulai dari usia emas (golden age). Di tangan para "Ibu Nyai" dan guru-guru Muslimat, anak-anak di pedesaan tidak hanya diajarkan mengeja huruf, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai moderasi beragama (wasathiyah) dan cinta tanah air sejak dini.
Menteri PPPA menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap peran perempuan ini. Menurut Arifah, Muslimat NU telah bertransformasi menjadi organisasi yang solutif dalam menjawab persoalan masyarakat. Salah satu bukti nyatanya adalah penguatan 2.500 Paralegal Muslimat NU yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia untuk memberikan bantuan hukum bagi masyarakat.
âKami berharap kolaborasi, sinergi, dan kerja sama antara Kemen PPPA dengan Muslimat NU serta organisasi kemasyarakatan lainnya dapat berjalan semakin baik. Sesungguhnya pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah akan kuat dan berdaya maksimal jika berkolaborasi dengan seluruh stakeholder, terutama gerakan di tingkat grassroot,â tambah Arifah.
Gedung Gus Dur Jadi Simbol Kemanusiaan
Puncak peringatan harlah di Ponorogo juga diwarnai dengan peresmian Gedung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Rumah Sakit Umum (RSU) Muslimat NU Ponorogo. Menteri PPPA hadir bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, untuk membuka fasilitas kesehatan tujuh lantai tersebut.
Gedung ini diproyeksikan menjadi pusat layanan medis unggulan yang mengedepankan perlindungan dan kenyamanan bagi perempuan dan anak. Nama "Gus Dur" dipilih bukan tanpa alasan. Sosok Presiden ke-4 RI tersebut merupakan representasi dari pembelaan terhadap kaum yang terpinggirkan.
âPeresmian Gedung Gus Dur di RSU Muslimat NU Ponorogo hari ini mempunyai makna yang sangat dalam. Gus Dur mengajarkan kepada kita semua nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberpihakan kepada kelompok rentan. Maka rumah sakit ini harus menjadi tempat yang menghadirkan rahmah, kasih sayang bagi semua, terutama untuk perempuan dan anak,â tegas Menteri PPPA.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang juga merupakan Ketua Umum PP Muslimat NU, menyampaikan bahwa pembangunan gedung ini merupakan hasil kerja keras kolektif. Ia menekankan bahwa fasilitas ini membawa beban moral untuk meneruskan nilai-nilai sang pahlawan nasional.
âSemangat untuk membangun nasionalisme, heroisme, dan semangat untuk bisa memberikan layanan terbaik bagi masyarakat adalah inti dari pembangunan ini,â kata Khofifah. Baginya, Muslimat NU harus terus bergerak melampaui urusan domestik, namun tanpa meninggalkan kewajiban asasi dalam mendidik generasi.
Menuju Indonesia Emas 2045
Di usia ke-80, tantangan Muslimat NU kian kompleks. Persoalan stunting, kekerasan terhadap perempuan, hingga digitalisasi pendidikan menjadi pekerjaan rumah yang menanti. Namun, dengan struktur organisasi yang mencapai tingkat ranting (desa) dan anak ranting (RW/RT), Muslimat memiliki modal sosial yang tak dimiliki organisasi lain.
Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan seperti Muslimat NU adalah kunci keberhasilan pembangunan daerah. âKami melihat peran Muslimat NU sangat luar biasa dalam membentuk generasi unggul. Rumah sakit ini tidak hanya sekadar menambah fasilitas kesehatan, tetapi juga menegaskan komitmen kita bersama dalam melayani kesehatan ibu dan anak,â ujarnya.
Melalui penguatan organisasi dan peningkatan kapasitas SDM, perempuan diharapkan menjadi motor utama dalam melahirkan generasi yang berkualitas dan berdaya saing global. Muslimat NU terbukti mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai tradisional pesantren dengan kebutuhan zaman modern.
âMuslimat NU mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, untuk menciptakan dan melahirkan generasi yang berkualitas,â pungkas Arifah Fauzi menutup sambutannya.
Saat acara berakhir dan para ibu mulai melipat kembali sajadah mereka, ada satu keyakinan yang tertinggal: selama pengajian di kampung-kampung masih bergema dan PAUD Muslimat tetap berdiri, maka fondasi moral bangsa ini masih memiliki penjaga yang setia. Delapan puluh tahun hanyalah awal dari pengabdian panjang yang tak kunjung usai.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar