
OBITUARI
In Memoriam Prof. Dr. Juwono Sudarsono (1942â2026): Berpulangnya Sang Begawan, Diplomat, dan Negarawan Karismatik IndonesiaÃ
Schoolmedia News Jakarta = Innalillahi wa inna ilaihi rajiâun. Kabar duka menyelimuti bumi pertiwi. Bangsa Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Prof. Dr. Juwono Sudarsono, seorang intelektual murni, akademisi berdedikasi, diplomatis andal, dan negarawan tulen, telah berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 13.45 WIB, di Jakarta. Beliau mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 84 tahun, meninggalkan warisan pemikiran yang mendalam dan standar keteladanan moral yang tinggi bagi generasi penerus bangsa.
Kepergian Prof. Juwono bukan hanya duka bagi pihak keluarga, tetapi juga bagi dunia akademik, korps diplomatik, kalangan militer, dan insan pers di tanah air. Sosoknya yang dikenal santun, berwawasan luas, dan selalu tenang di tengah badai krisis, merupakan langka yang sulit dicari padanannya di panggung politik nasional saat ini.
Jejak Akademisi dan Kedekatan dengan Media
Lahir dari rahim intelektual (ayahandanya adalah Prof. Sudarsono, seorang diplomat senior), bakat akademis Juwono muda sudah terlihat cemerlang. Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Indonesia sebelum melanjutkan studi magister di The London School of Economics (LSE) dan meraih gelar doktor dari The University of London. Puncak karier akademisnya adalah ketika beliau dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI.
Bagi mereka yang pernah meliput di lingkungan Kampus Kuning pada dekade 80-an hingga 90-an, Prof. Juwâbegitu beliau akrab disapaâbukan sekadar narasumber. Ketika menjabat sebagai Dekan FISIP UI, beliau adalah teladan tentang bagaimana intelektualitas berpadu sempurna dengan kerendahhatian. Beliau dikenal sebagai salah satu narasumber yang paling dekat dan mudah diakses oleh wartawan.
Salah seorang jurnalis senior Harian Suara Pembaruan mengenang, "Prof. Juw adalah penyelamat di tengah deadline. Sebagai media sore, kami selalu berkejaran dengan waktu untuk mendapatkan narasumber terpercaya yang dapat cepat dihubungi. Saya beruntung bisa berkontak langsung dengan beliau, yang juga mantan dosen Ilmu Politik saya."
Kharisma di Lingkaran Kekuasaan
Dedikasi Prof. Juwono tidak berhenti di ruang kelas. Ia membawa kultur akademik yang terbuka, jujur, dan analitis ke dalam birokrasi pemerintahan. Kedekatannya dengan pers semakin mengental saat beliau diberi amanah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di era transisi reformasi (1998â1999). Di masa krusial itu, Prof. Juwono menjadi jembatan informasi yang andal. Akses informasi mengenai kebijakan strategis kementerian seolah mengalir lancar, memberikan ruang bagi publik untuk memahami setiap langkah pemerintah lebih awal dan lebih dalam.
Tak bisa dipungkiri, sosok Prof. Juwono memiliki daya pikat tersendiri. Ketampanan yang dibalut dengan kharisma intelektual yang kuat seringkali membuat banyak orang terkesima.
Di setiap rapat kabinet atau pertemuan formal, pembawaannya yang tenang, bahasa yang tertata apikâbaik dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris yang fasihâdan wibawa yang memancar secara alami, selalu mencuri perhatian. Pejabat, staf kementerian, hingga diplomat asing selalu menaruh hormat yang besar kepada beliau.
Sang Penjaga Pertahanan di Era Reformasi
Puncak pengabdiannya kepada negara tercermin dari jabatannya sebagai Menteri Pertahanan (Menhan). Beliau mencatatkan sejarah sebagai warga sipil pertama yang menjabat sebagai Menhan di era reformasi (1999â2000), di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, di mana posisi tersebut sebelumnya selalu diisi oleh figur militer. Beliau kembali dipercaya menjabat sebagai Menhan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004â2009).
Sebagai Menhan, Prof. Juwono memainkan peran krusial dalam menakhodai transformasi TNI di era reformasi. Pendekatannya yang berbasis pada supremasi sipil, namun tetap menghormati profesionalisme militer, berhasil menjaga stabilitas nasional di tengah transisi demokrasi yang dinamis.
Beliau adalah sosok yang memahami betul kompleksitas pertahanan, baik dari sisi militer maupun nirmiliter. Meski pada masa itu fokus liputan sebagian rekan media mulai bergeser, sosoknya tetap menjadi referensi utama dalam diskursus hubungan internasional dan pertahanan nasional.
Kini, sang begawan ilmu politik dan pertahanan itu telah menuntaskan tugas tugasnya. Ia pergi meninggalkan warisan pemikiran yang luas, standar integritas yang tinggi, dan kenangan akan seorang pemimpin yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya.
Penghormatan Terakhir
Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa-jasanya kepada negara, jenazah Prof. Dr. Juwono Sudarsono akan disemayamkan di Gedung Urip Sumoharjo, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Jl. Medan Merdeka Barat No. 13â14, Jakarta Pusat, mulai hari Minggu, 29 Maret 2026, pukul 09.00 WIB.
Selanjutnya, almarhum akan dimakamkan secara militer pada hari Minggu, 29 Maret 2026 di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan.
Doa untuk Sang Begawan
Kami, segenap bangsa Indonesia yang mencintai ilmu dan integritas, memohon doa yang tulus dari seluruh masyarakat. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, menerima segala amal ibadah almarhum, mengampuni segala kekhilafannya, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya, di jannah yang paling tinggi.
Semoga jasa, pengabdian, dan keteladanan moral Prof. Dr. Juwono Sudarsono senantiasa dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa untuk terus berjuang demi kejayaan Indonesia.
Ungkapan Duka Cita
Duka cita terdalam dan doa setulus-tulusnya kami sampaikan kepada keluarga yang ditinggalkan:
* Rr Priharumastinah (Istri)
* Vishnu (Anak) dan Retno (Mantu)
* Yudhistira (Anak) dan Brenda (Mantu)
* Lavanya Elyana (Cucu)
Semoga segenap keluarga diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan dalam menghadapi ujian berat ini.
Selamat Jalan, Prof. Juw. Terima kasih atas ilmu, bimbingan, dan keramahan yang tak pernah putus bagi kami, para pencari berita, dan bagi bangsa ini. Warisan keteladananmu akan selalu hidup. Sugeng tindak, menuju keabadian.
Penulis : Eko B Harsono
Mantan Wartawan Harian Suara Pembaruan
Tinggalkan Komentar