Cari

Agusthinus Nitbani 23 Tahun Mengajar dengan Gaji Rp 223.000 per Bulan, Tetap Semangat Mengajar Meski Honor Tidak Layak


Agusthinus Nitbani 23 Tahun Mengajar dengan Gaji Rp 223.000 per Bulan, Tetap Semangat Mengajar Meski Honor Tidak Layak

Schoolmedia News KUPANG = Suzuki Smash hitam yang sudah tak muda itu harus distarter berulang kali sebelum akhirnya mesin menyala, diiringi suara parau yang seperti napas tersengal menahan beban usia. Tak lama kemudian, kepulan asap putih keluar dari knalpot, menari perlahan di udara sore yang mulai menyelimuti Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa (27/1/2026).

Sepeda motor berharga Rp 5 juta yang dibelinya secara mencicil pada tahun 2015 itu adalah satu-satunya kendaraan yang membawa Agusthinus Nitbani (52) melalui medan berat setiap hari, menghubungkan rumahnya dengan SD Negeri Batu Esa tempat ia menjabat sebagai wali kelas III.

Perjalanan yang menyiksa itu bukan hanya cerita pada hari tertentu, melainkan bagian tak terpisahkan dari rutinitasnya selama puluhan tahun sebagai guru honorer. Jalan menuju sekolah yang panjang tidak hanya rusak parah, melainkan juga penuh dengan lubang-lubang yang sering tergenang air sisa hujan semalam. Permukaan jalan yang berbatu tanah dan licin menjadi ujian tersendiri setiap pagi dan sore hari.

Jika cuaca bersahabat dan motornya tidak rewel, ia bisa berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan akibat kondisi jalan yang buruk. Namun ketika hujan turun deras, jalan yang sudah tidak layak digunakan menjadi lebih menyiksa, dan Suzuki Smash-nya kerap mogok di tengah jalan.

Dalam kondisi seperti itu, Agusthinus tak pernah membiarkan kesulitan tersebut menghalangi dirinya untuk hadir di depan kelas. Ia memilih berjalan kaki melewati jalan yang berlumpur hingga mencapai sekolah, atau terkadang beruntung bisa menumpang truk yang lewat ke arah yang sama. Jika jalan benar-benar tidak dapat dilalui dengan kendaraan, ia akan menitipkan motornya di rumah kerabat yang berjarak sekitar 200 meter dari jalur pintas menuju sekolah, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil membawa buku pelajaran dan perlengkapan mengajar yang selalu ia bawa.

SD Negeri Batu Esa berdiri di wilayah yang dulu nyaris tak tersentuh oleh pendidikan formal. Ketika pemerintah pusat merencanakan untuk membuka sekolah dasar di daerah tersebut pada tahun 2009, upaya mencari guru PNS yang bersedia menjabat menemui batu sandungan besar.

Tak seorang pun guru yang memiliki status Pegawai Negeri Sipil bersedia mengambil tanggung jawab mengelola dan mengajar di sekolah tersebut, alasan utama adalah kondisi wilayah yang sulit dijangkau dan fasilitas yang sangat terbatas.

“Saya bilang di depan kepala sekolah, saya berani buka,” ucap Agusthinus dengan nada yang penuh keyakinan saat mengingat masa awal pendirian sekolah yang penuh tantangan. Pada saat itu, ia sudah memiliki pengalaman mengajar selama beberapa tahun di daerah sekitar, dan melihat betapa besar kebutuhan akan pendidikan bagi anak-anak di Desa Sumlili.

“Di sini jalannya rusak dan banyak warga yang kurang berpendidikan. Tapi kalau kita bawa diri dengan baik, berusaha memberikan yang terbaik, dan menunjukkan komitmen untuk membantu anak-anak belajar, masyarakat pasti terima,” sambungnya dengan mata yang menyala penuh semangat.

Keyakinan itu terbukti benar. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai menyadari pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anak mereka. Meskipun kondisi sekolah masih jauh dari kata ideal — gedung yang sederhana, perlengkapan belajar yang terbatas, dan akses yang sulit — kehadiran Agusthinus dan beberapa guru lainnya menjadi harapan baru bagi komunitas lokal.

Anak-anak yang dulunya hanya membantu pekerjaan rumah tangga atau bertani mulai datang ke sekolah dengan antusias, membawa harapan untuk merubah nasib diri dan daerah mereka.

Namun di balik dedikasi yang tinggi dan kontribusi besar yang diberikan selama 23 tahun mengabdi di dunia pendidikan, kenyataan yang harus dihadapi Agusthinus jauh dari mudah. Gaji yang ia terima setiap bulan hanya sebesar Rp 223.000 — jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, apalagi untuk membiayai pendidikan anak-anaknya sendiri atau melakukan perawatan rutin pada kendaraannya yang sudah tua.

Kondisi ini semakin berat ketika dihadapkan pada biaya hidup yang terus meningkat setiap tahun, sementara insentif yang diberikan pemerintah belum mampu menjawab kebutuhan para guru honorer seperti dirinya.

Meski demikian, ia tidak pernah berpikir untuk menyerah atau mencari pekerjaan lain yang mungkin memberikan penghasilan lebih besar. Bagi Agusthinus, mengajar bukan hanya sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan hati untuk membawa perubahan positif bagi anak-anak di daerah terpencil.

Setiap senyum anak ketika mereka memahami pelajaran baru, setiap prestasi yang mereka capai, dan setiap harapan yang mereka tanamkan menjadi motivasi terbesar yang membuatnya tetap berdiri kuat di depan kelas, meskipun apa yang dibawa pulang setiap bulan jauh dari kata layak. 

Tim Schoolmedia 

Berita Selanjutnya
Penyaluran TPG Bulanan bagi Guru ASN Daerah Bukti Komitmen Pemerintah pada Tenaga Pendidik
Berita Sebelumnya
BMKG Ingatkan Hujan Lebat hingga Sangat Lebat, Jakarta dan Jateng Berisiko Banjir"

Berita Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar