
âMudik Asyik Baca Bukuâ Kemendikdasmen Tebar 24.000 Buku Bacaan di Ruang Publik Terminal, Pelabuhan, Bandara dan Stasiun Kereta
JAKARTA Schoolmedia = Hiruk-pikuk arus mudik di berbagai terminal, stasiun, dan pelabuhan pada Maret 2026 ini tak hanya diwarnai tumpukan kardus dan koper. Di sela antrean penumpang, ribuan buku cerita anak dibagikan secara cuma-cuma. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berupaya menyisipkan budaya literasi di tengah keriuhan tradisi pulang kampung melalui program "Mudik Asyik Baca Buku 2026".
Program yang diinisiasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ini menargetkan para pemudik keluarga, khususnya anak-anak, agar memiliki alternatif hiburan yang edukatif selama perjalanan jauh. Pada tahun ini, skala program diperluas dengan menyalurkan 24.000 buku bacaan bermutu di sembilan titik strategis arus mudik, meningkat dari 20.000 buku pada tahun sebelumnya.
Titik-titik distribusi tersebut meliputi Stasiun Pasar Senen, Stasiun Gambir, Terminal Kalideres, Terminal Terpadu Pulo Gebang, Terminal Kampung Rambutan, Terminal Pakupatan, Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Merak, hingga Bandara Halim Perdanakusuma.
Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen, Dora Amalia, saat meninjau pembagian buku di Terminal Pulo Gebang, Senin (16/3/2026), menegaskan bahwa kegiatan ini adalah upaya konkret intervensi literasi di ruang publik.
"Buku-buku yang dibagikan telah melalui proses penilaian ketat sehingga sesuai dengan karakter dan kemampuan anak, serta bebas dari konten tidak layak. Kami ingin buku ini menjadi teman perjalanan bagi anak-anak agar mereka tidak melulu bergantung pada gawai selama mudik," ujar Dora.
Melawan Dominasi Gawai
Isu ketergantungan anak pada telepon pintar (smartphone) memang menjadi latar belakang kuat di balik program ini. Di ruang tunggu Terminal Pulo Gebang yang padat, pemandangan anak-anak yang terpaku pada layar ponsel merupakan hal lumrah. Namun, kehadiran gerai buku gratis dan aktivitas mendongeng mampu mengalihkan perhatian mereka.
Kepala Unit Pengelola Terminal Terpadu Pulo Gebang, Cristianto, mengapresiasi langkah tersebut. Menurut dia, menumbuhkan minat baca di tengah gempuran teknologi digital adalah tantangan besar bagi dunia pendidikan.
"Program ini sangat positif karena menarik kembali minat membaca anak-anak di tempat yang tidak terduga, seperti terminal," katanya.
Senada dengan Cristianto, Kepala Terminal Kalideres Nur Prasetyo bahkan berencana mengembangkan fasilitas ini lebih jauh. Ia berniat menghadirkan pojok baca permanen di area bermain anak dan food court terminal guna memastikan literasi menjadi bagian dari pelayanan transportasi publik.
Antusiasme warga terlihat nyata. Ali Muddin, pemudik tujuan Palembang, mengaku sangat terbantu. Membawa dua anak kecil dalam perjalanan bus lintas Sumatera bukanlah perkara mudah. "Daripada mereka terus main gim di HP sampai pusing, buku ini jadi hiburan baru yang menambah pengetahuan mereka di jalan," ungkap Ali.
Perluasan Jangkauan
Tahun 2026 menandai ekspansi program MABB hingga ke wilayah Banten, yakni di Pelabuhan Merak, Cilegon, dan Terminal Pakupatan, Serang. Di Pelabuhan Merak saja, sebanyak 2.300 buku dibagikan kepada keluarga yang menunggu jadwal penyeberangan kapal feri menuju Sumatera.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, saat mendampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Muâti di Stasiun Senen, menjelaskan bahwa MABB tidak sekadar membagi buku fisik. "Kami juga menyediakan akses bacaan digital di laman budi.kemendikdasmen.go.id. Ada ribuan judul yang bisa diunduh gratis," jelasnya.
Dukungan juga datang dari parlemen. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, yang turut meninjau lokasi, menyarankan agar konsep "perpustakaan mini" ini tidak hanya ada saat musim mudik.
Ia mendorong adanya kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian untuk menyediakan ruang baca permanen di stasiun maupun rest area.
Identitas dan Masa Depan
Di Pelabuhan Tanjung Priok, pemandangan serupa terjadi. Sebanyak 1.700 buku menjadi rebutan pemudik. Rohanatus Sholeha, salah satu pemudik, berencana membawa buku tersebut sebagai "oleh-oleh" intelektual untuk keluarganya di kampung halaman.
"Sesampainya di kampung, buku ini akan saya berikan kepada saudara agar mereka juga semangat membaca," kata Rohana.
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Imam Budi Utomo, mengingatkan bahwa penguatan literasi melalui buku bacaan berkualitas adalah bagian dari menjaga identitas bangsa.
Dengan membaca, anak-anak tidak hanya menyerap informasi, tetapi juga mengasah kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Melalui Mudik Asyik Baca Buku 2026, pemerintah berharap perjalanan pulang ke akar keluarga juga menjadi perjalanan menuju kecerdasan bangsa. Sebuah upaya kecil di tengah bisingnya klakson bus dan deru mesin kapal, untuk memastikan bahwa masa depan literasi Indonesia tetap terjaga di tangan generasi muda.
Peliput : Eko B Harsono
Sumber : Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen
Tinggalkan Komentar