
Schoolmedia News Jakarta = Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan 17 orang meninggal dunia akibat banjir bandang yang melanda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara, pada Senin (5/1) dini hari. Memasuki hari keempat pascabencana, operasi pencarian, penyelamatan, pendataan, dan penyaluran bantuan logistik tetap menjadi prioritas utama.
Berdasarkan update Pusdalops BNPB pada Kamis (8/1), korban jiwa mencapai 17 orang, termasuk satu anak yang ditemukan pada Rabu (7/1). Sebanyak sembilan korban masih dalam proses identifikasi, sementara dua orang lainnya dinyatakan hilang dan terus dicari oleh tim gabungan TNI, Polri, BPBD, relawan, serta masyarakat.
Penanganan medis mencatat 12 korban dirawat di puskesmas setempat, dan empat lainnya dirujuk ke rumah sakit di Manado untuk perawatan intensif. Dampak sosial sangat luas: 691 kepala keluarga mengungsi, dengan pendataan masih berlangsung untuk memastikan bantuan dasar terpenuhi.
Kerusakan infrastruktur parah, meliputi 30 rumah hilang, 52 rusak berat, 29 rusak sedang, dan 89 rusak ringan. Tiga fasilitas pendidikan rusak, ditambah bangunan kantor, infrastruktur, dan akses jalan yang terputus. BPBD Sitaro berkoordinasi dengan provinsi dan pemerintah lokal untuk percepatan bantuan.
Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat hidrometeorologi 14 hari (5-18 Januari 2026) melalui Keputusan Bupati Nomor 1 Tahun 2026. BNPB imbau warga menjauhi zona rawan dan evakuasi mandiri, serta pemda tingkatkan kesiapsiagaan.
Banjir Hantam Sumbawa Barat, 60 Jiwa Terdampak
Pemantauan Pusdalops BNPB periode 7-8 Januari 2026 mencatat banjir hidrometeorologi basah mendominasi. Pada Rabu (7/1), hujan sedang-lebat mengguyur Desa Tongo, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, sejak pukul 10.00-13.00 WITA.
Genangan air merendam 15 rumah, terdampak 15 kepala keluarga atau 60 jiwa. BPBD Sumbawa Barat lakukan pengamatan, pendataan, dan penanganan darurat bekerja sama dengan kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta pemerintah desa. Banjir kini surut; warga bersihkan lingkungan mandiri.
Banjir Luas di Dompu NTB, 314 KK Terdampak
Banjir serupa melanda Kabupaten Dompu, NTB, Rabu (7/1) akibat hujan sedang-lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang sejak pukul 16.00 WITA selama dua jam. Terdampak tiga kecamatan: Huâu, Kilo, dan Pajo, meliputi enam desa.
Di Kecamatan Huâu, Desa Rasabou (31 KK, air 50-80 cm, 2 rumah rusak tembok roboh), Desa Cempi Jaya Dusun Konca (51 rumah terendam, 3 rusak tembok, pagar kuburan roboh, 1 jenazah terseret), Dusun Sigi (27 rumah terendam), dan Desa Daha Dusun Sandang Pangan (5 KK, air 30-50 cm, 1 kios jebol).
Kecamatan Kilo: Desa Lasi (100 KK, air 30-50 cm), Desa Kramat (50 KK), Desa Mbuju (50 KK). Kecamatan Pajo: Desa Lepadi termasuk Ponpes Al Ihwan (1 fasilitas pendidikan terendam 30-50 cm).
Total sementara: 314 kepala keluarga, 314 rumah terendam. BPBD Dompu turunkan Tim Reaksi Cepat untuk asesmen, koordinasi dengan kecamatan, desa, Dinas Perumahan, PUPR, Pertanian, dan Kesehatan. Banjir mulai surut, tapi BMKG peringatkan potensi hujan lebat hingga pukul 21.40 WITA.
BNPB tekankan koordinasi lintas sektor untuk mitigasi. Data Pusdalops hingga 8 Januari pukul 07.00 WIB tunjukkan dominasi banjir, dengan pemda diminta pastikan logistik dan kesehatan pascabencana. Situasi Sitaro paling parah dengan korban jiwa tertinggi, sementara NTB fokus pemulihan cepat.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar