
Mendikdasmen Torehkan Catatan Sejarah, Wajah Pendidikan Nasional Tampil di Panggung Dunia, Pertamakali Bahasa Indonesia Menggema di Sidang Umum UNESCO
Schoolmedia News Parisâ Pada panggung diplomatik pendidikan, sains, dan kebudayaan paling bergengsi di dunia, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) di Paris, Perancis hadir sebuah momen bersejarah yang bukan hanya menjadi sorotan mata dunia, tetapi juga simbolisasi jati diri bangsa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Dr. H. Abdul Mu'ti, menyampaikan pidato kenegaraannya dengan lantang dan bangga, bukan dalam bahasa Inggris atau Prancis yang menjadi bahasa resmi forum tersebut, melainkan dalam Bahasa Indonesia.
Pidato yang direkam dan disiarkan melalui kanal resmi YouTube UNESCO pada Selasa (4/11/2025) ini, menandai babak baru dalam diplomasi kebudayaan Indonesia. Penggunaan Bahasa Indonesia di mimbar global sekelas UNESCO bukan sekadar pilihan linguistik, tetapi penegasan akan pentingnya kedaulatan bahasa dan identitas nasional di tengah arus globalisasi yang kian deras.
Sebuah pernyataan bahwa Indonesia, dengan kekayaan budayanya, siap memimpin wacana global mengenai masa depan pendidikan, tanpa harus kehilangan suaranya sendiri.
Simbolisme Kedaulatan Bahasa
Keputusan Mendikdasmen Abdul Mu'ti untuk berpidato menggunakan Bahasa Indonesia langsung memancarkan aura berbeda dalam agenda Sidang Umum. Bahasa Indonesia, sebagai perekat ratusan etnis dan bahasa di Nusantara, kini diproyeksikan sebagai salah satu bahasa yang penting dalam percakapan internasional.
Langkah ini merupakan penyerahan pesan simbolis yang kuat: kontribusi Indonesia terhadap peradaban global tidak akan pernah terlepas dari akar budayanya. Para delegasi dari seluruh dunia mendengarkan pesan Indonesia melalui penerjemah, membuktikan bahwa batas-batas komunikasi dapat ditembus oleh semangat kedaulatan.
Dalam konteks UNESCO, sebuah organisasi yang menjunjung tinggi keanekaragaman budaya dan bahasa, penggunaan Bahasa Indonesia oleh seorang menteri secara resmi merupakan pengakuan nyata atas status dan martabat bahasa nasional.
Ini adalah wujud nyata dari upaya bangsa untuk menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa global, sebuah cita-cita yang kini mulai terwujud di forum multilateral. Momen ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga pengingat bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya menyuarakan nilai-nilai luhurnya dengan bahasa yang paling autentik.
Pendidikan sebagai Cahaya Kemanusiaan
Dalam substansi pidatonya, Mu'ti menggarisbawahi secara tegas bahwa tantangan global yang dihadapi umat manusia di masa depan tidak lagi semata-mata berkutat pada isu kekuasaan ekonomi atau militeristik.
Tantangan fundamental sejatinya terletak pada bagaimana membentuk "manusia yang tercerahkan" melalui tiga pilar utama: pendidikan, sains, dan kebudayaan, yang didukung oleh komunikasi dan informasi yang membebaskan.
"Nilai-nilai mendasar inilah, yang membawa Indonesia pada penegasan bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap anak dan tidak boleh ada satu pun yang tertinggal," ujar Mu'ti, sebuah kutipan yang diambil langsung dari siaran resmi YouTube UNESCO.
Pernyataan ini menjadi landasan filosofis bagi seluruh kebijakan pendidikan di Indonesia, menegaskan komitmen negara untuk menjamin akses dan kualitas bagi setiap warganya, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) Keempat.
Gerakan Semesta dan Implementasi Asta Cita
Mendikdasmen Mu'ti kemudian merinci berbagai kebijakan transformatif yang telah diluncurkan Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Pijakan utama dari reformasi ini adalah peluncuran kebijakan ambisius yang dinamakan "Pendidikan Bermutu untuk Semua."
Kebijakan ini, yang merupakan perwujudan langsung dari konstitusi negara dan visi pembangunan bangsa, khususnya Asta Cita Presiden Prabowo, dijadikan peta jalan Indonesia menuju terwujudnya kemanusiaan yang adil dan beradab.
Untuk mengakselerasi pencapaian target-target SDG 4, Pemerintah Indonesia juga mencanangkan "Gerakan Semesta". Gerakan ini melibatkan seluruh komponen masyarakat, dari pusat hingga daerah, untuk memastikan bahwa tidak ada lagi kendala yang menghalangi anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan terbaik.
Inovasi Teknologi dan Penguatan Karakter
Mu'ti menyampaikan bahwa Indonesia menyadari betul pentingnya beradaptasi dengan era disrupsi teknologi. Oleh karena itu, kurikulum nasional mulai diperkaya dengan pengenalan pembelajaran kecerdasan artifisial (AI) dan coding sejak dini.
Integrasi teknologi ini tidak hanya bertujuan menciptakan siswa yang terampil secara digital, tetapi juga didampingi dengan penguatan pendidikan karakter secara masif. Tujuannya adalah melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas moral dan etika yang kuat, siap menghadapi tantangan global dengan pondasi nilai-nilai ke-Indonesiaan yang kokoh.
Dalam konteks pemerataan, Presiden Prabowo juga meluncurkan program digitalisasi pendidikan dan pengembangan "rumah pendidikan" sebagai solusi inovatif untuk menjangkau anak-anak yang berada di daerah terpencil dan tertinggal.
Inisiatif ini memastikan bahwa keterbatasan geografis dan infrastruktur tidak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mengakses konten pendidikan bermutu.
Kesejahteraan Guru dan Siswa sebagai Prioritas Utama
Pilar penting lain yang disoroti adalah komitmen terhadap peningkatan kapasitas dan kesejahteraan guru. Mu'ti menyebut guru sebagai "agen pembelajaran dan agen peradaban" yang memegang kunci utama kualitas pendidikan. Peningkatan kesejahteraan dan profesionalisme guru adalah investasi jangka panjang bangsa, karena di tangan merekalah masa depan generasi ditentukan.
Selain guru, kesejahteraan siswa juga menjadi fokus melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini, yang merupakan salah satu kebijakan unggulan pemerintah, ditujukan untuk memastikan pemenuhan gizi anak sekolah.
Dampaknya sangat signifikan, karena kondisi gizi yang baik terbukti menjadi prasyarat penting bagi peningkatan konsentrasi belajar dan penurunan angka stunting, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada peningkatan prestasi akademis siswa.
Bukti Nyata Pemerataan Pendidikan
Berbagai kebijakan terpadu ini telah membuahkan hasil yang membanggakan. Mendikdasmen Mu'ti dengan yakin menyampaikan data statistik partisipasi sekolah yang menunjukkan keberhasilan program pemerataan.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk anak usia 7 hingga 12 tahun di Indonesia telah mencapai 99,19 persen, sementara untuk usia 13 hingga 15 tahun mencapai 96,17 persen. Angka-angka ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk mewujudkan inklusivitas pendidikan, bahkan dengan peluncuran dan pengembangan Sekolah Rakyat yang secara khusus ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin.
Secara keseluruhan, pidato Mendikdasmen Abdul Mu'ti di Sidang Umum UNESCO menjadi narasi kuat tentang bangkitnya pendidikan Indonesia. Pidato tersebut bukan hanya sekadar laporan kemajuan, melainkan sebuah deklarasi bahwa Indonesia, dengan identitas bahasanya yang khas, memiliki solusi dan visi yang relevan untuk dibagikan kepada dunia dalam menjawab tantangan kemanusiaan melalui pendidikan yang bermutu dan merata bagi semua.
Pesan yang disampaikan Mendikdasmen selaku Nahkoda Pendidikan Nasional dalam Bahasa Indonesia itu menjadi pengingat bahwa kearifan lokal dan kedaulatan budaya adalah kekuatan sejati di tengah panggung global.
Penyunting : Eko Harsono
Sumber Kanal YouTube UNESCO
Tinggalkan Komentar