Mengapa Bullying Masih Marak Terjadi? Memahami Akar Masalah dan Solusinya di Lingkungan Sekolah
JAKARTA – Isu perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan dan media sosial masih menjadi perhatian serius hingga saat ini. Mulai dari ejekan verbal, pengucilan dalam pergaulan, hingga aksi perundungan siber (cyberbullying), fenomena ini kerap menimbulkan dampak psikologis yang mendalam bagi korbannya.
Namun, untuk menghentikan rantai perundungan secara efektif, kita tidak hanya perlu fokus pada penanganan korban, tetapi juga harus memahami mengapa seseorang bisa melakukan perundungan dan faktor apa saja yang memicu maraknya perilaku tersebut.

Faktor Utama Pemicu Maraknya Bullying
Para ahli psikologi dan pendidik mencatat beberapa alasan utama mengapa aksi perundungan masih sering terjadi di kalangan remaja dan pelajar:
1. Keinginan Mengontrol dan Mencari Pengakuan Sosial
Di usia remaja, kebutuhan akan pengakuan dari kelompok sebaya (peer group) sangat tinggi. Sebagian siswa menggunakan perundungan sebagai cara cepat untuk menunjukkan kekuasaan, merasa lebih unggul, atau mempertahankan posisi dominan dalam lingkaran pergaulan.
2. Meniru Perilaku dari Lingkungan Sekitar (Modeling)
Anak-anak dan remaja adalah peniru yang ulung. Seseorang yang tumbuh di lingkungan keluarga yang keras, sering menyaksikan konflik, atau terpapar konten media sosial yang sarat akan ujaran kebencian cenderung menganggap tindakan intimidasi sebagai hal yang normal untuk menyelesaikan masalah.
3. Kurangnya Empati dan Pemahaman Dampak
Sering kali pelaku tidak menyadari betapa besarnya dampak emosional dari tindakan mereka. Anggapan bahwa "ini cuma bercanda" atau "cuma sindiran di group chat" membuat pelaku merasa tindakan mereka adalah hal sepele, padahal bagi korban, hal tersebut bisa memicu rasa cemas berlebihan (anxiety) hingga depresi.
4. Dampak Fenomena Bystander Effect (Saksi yang Diam)
Bullying kerap bertahan lama karena orang-orang di sekitar—seperti teman sekelas yang melihat atau membaca chat perundungan—memilih untuk diam. Rasa takut ikut dimusuhi atau anggapan bahwa "bukan urusanku" membuat pelaku merasa tindakannya dibiarkan dan didukung oleh lingkungan.
Langkah Bersama Menciptakan Sekolah yang Aman
Memutus rantai perundungan membutuhkan peran aktif dari seluruh ekosistem sekolah:
- Siswa: Berani menjadi Upstander (saksi yang peduli) dengan cara merangkul korban, tidak ikut tertawa saat perundungan terjadi, dan melaporkan kejadian kepada pihak sekolah secara aman.
- Guru & Sekolah: Menyediakan kanal aduan yang responsif dan rahasia, serta membangun budaya inklusif melalui kegiatan karakter dan edukasi empati secara rutin.
- Orang Tua: Menjadi pendengar yang baik di rumah, memantau perubahan perilaku anak, serta memberikan contoh komunikasi yang santun dan bebas dari kekerasan.
Artikel Lainnya:
Maraknya Fitur 'Paylater' dan Transaksi Digital: Kemudahan Finansial atau Jebakan Utang Muda?
Febrie Adriansyah Mengaku Mundur dari Jabatan Jampidsus karena Diminta
Menghadapi Musim Pancaroba dan Cuaca Ekstrem: Panduan Kesiapsiagaan Bencana untuk Keluarga