Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq: Deep Learning Bukan Kurikulum, Jadikan Guru Arsitek Pembelajaran

Schoolmedia News Jakarta - Di sebuah aula sederhana di Kabupaten Garut, Jawa Barat, akhir pekan lalu, puluhan guru duduk tekun menyimak paparan yang mungkin terdengar tidak asing, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar istilah pendidikan.
Di hadapan mereka, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, mengajak para pendidik untuk melihat kembali peran merekaâbukan sekadar pengajar, melainkan âarsitek pembelajaranâ.
Ajakan itu bukan tanpa alasan. Di tengah tantangan pendidikan yang masih membelit sejumlah daerah, termasuk Garut, guru menjadi titik tumpu harapan. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah di daerah ini masih berada di bawah rata-rata nasional.
Angka putus sekolah pun belum sepenuhnya teratasi. Di balik angka-angka tersebut, tersimpan cerita tentang anak-anak yang perlahan menjauh dari ruang kelas, serta kesempatan yang tak selalu datang dua kali.
Di sinilah, menurut Fajar, peran guru menjadi krusial. Ia tidak lagi cukup hanya hadir sebagai penyampai materi. Guru dituntut menjadi perancang pengalaman belajar yang hidup, relevan, dan membumi.
âJadilah arsitek pembelajaran, bukan operator,â ujarnya tegas.
Istilah âarsitekâ yang ia pilih bukan tanpa makna. Seorang arsitek tidak sekadar membangun, tetapi merancang dengan visi, memperhitungkan kebutuhan, serta memastikan setiap ruang memiliki fungsi dan makna. Begitu pula guru, yang diharapkan mampu merancang pembelajaran yang tidak berhenti di buku teks, melainkan menjelma menjadi pengalaman yang membekas dalam ingatan siswa.
Deep Learning Bukan KurikulumÂ
Pendekatan yang ditawarkan adalah Deep Learning atau pembelajaran mendalam. Bagi sebagian guru, istilah ini mungkin terdengar seperti konsep baru. Namun Fajar menegaskan, ini bukan kurikulum baru, melainkan cara pandang dalam mengajar.
Ia mengibaratkan proses belajar seperti makan. Pengetahuan, seperti makanan, tidak bisa langsung diserap begitu saja. Ia harus dikunyah, dipahami, dan diolah sebelum akhirnya menjadi energi. Tanpa proses itu, pembelajaran hanya menjadi aktivitas sesaat yang mudah dilupakan.
Dalam praktiknya, pendekatan ini menuntut perubahan suasana kelas. Dari yang semula satu arah, menjadi ruang interaksi. Murid tidak lagi sekadar mendengar, tetapi diajak bertanya, berdiskusi, bahkan meragukan untuk kemudian memahami. Proses refleksi menjadi bagian penting, agar apa yang dipelajari tidak berhenti sebagai informasi, melainkan tumbuh menjadi pemahaman.
Bagi sebagian guru di Garut, gagasan ini terasa menantang sekaligus menyegarkan. Di tengah keterbatasan fasilitas, mereka diingatkan bahwa sumber belajar tidak selalu harus datang dari luar. Lingkungan sekitarâdari sejarah lokal, budaya, hingga kehidupan sehari-hariâdapat menjadi bahan ajar yang kaya dan kontekstual.
Seorang guru sekolah dasar yang hadir dalam kegiatan itu mengaku tergerak. Selama ini, ia sering terpaku pada buku pelajaran. Padahal, di sekelilingnya, banyak hal yang bisa dijadikan pintu masuk untuk menjelaskan konsep kepada siswa. âMungkin selama ini saya terlalu fokus mengejar materi selesai,â ujarnya pelan.
Namun Fajar mengingatkan, perubahan di ruang kelas saja tidak cukup. Pendidikan, menurutnya, adalah kerja bersama. Ia kembali mengangkat konsep Tri Pusat Pendidikan yang diperkenalkan Ki Hadjar Dewantaraâsekolah, keluarga, dan masyarakat.
Tanpa keterlibatan orang tua, upaya guru di sekolah bisa kehilangan kesinambungan. Begitu pula sebaliknya, tanpa komunikasi yang baik, nilai-nilai yang diajarkan di rumah bisa tidak sejalan dengan yang ditanamkan di sekolah.
Di sinilah pentingnya membangun kesamaan visi. Ketika rumah dan sekolah berjalan seiring, anak-anak memiliki ruang tumbuh yang lebih utuhâtidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter.
Menjelang akhir kegiatan, suasana ruangan terasa berbeda. Bukan hanya karena materi yang disampaikan, tetapi karena ada semacam kesadaran baru yang tumbuh. Bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan peran strategis dalam membentuk masa depan.
Harapan pun disematkan. Dengan penguatan kompetensi dan penerapan pembelajaran mendalam secara konsisten, sekolah-sekolah di Garut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Dari ruang-ruang kelas itu, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh, kritis, dan siap menghadapi masa depan.
Di tangan para âarsitek pembelajaranâ inilah, masa depan itu perlahan dirancang.
Tim Schoolmedia NewsÂ
Artikel Lainnya:
Kemendikdasmen Berikan Bantuan pada Murid Terdampak Kebakaran di Kemayoran
Partisipasi Semesta dan Tantangan Konten Relevan Pendidikan Kesetaraan
Madrasah dan Pesantren Siap Jadi Bagian Solusi Nasional Anak Tidak Sekolah