Kondisi Literasi Indonesia Memprihatinkan, Kemendikdasmen Perkuat Gerakan Literasi Nasional

Schoolmedia News Kupang = Dari ruang kelas hingga taman bacaan masyarakat, pemerintah menggencarkan gerakan literasi di Nusa Tenggara Timur. Di tengah capaian minat baca yang relatif tinggi, tantangan kemampuan literasi siswa Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Di sebuah ruang kegiatan yang dipenuhi ratusan pelajar, suara anak-anak membacakan kembali cerita yang baru mereka selesaikan terdengar bergantian. Sebagian siswa sekolah dasar tampak antusias mengulas buku cerita bergambar. Di sudut lain, pelajar sekolah menengah pertama berlatih membaca cepat, sementara siswa SMA diajak mengkritisi isi cerita dan pesan yang tersirat di dalamnya.
Pemandangan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat budaya literasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), salah satu daerah yang ditetapkan sebagai prioritas penguatan literasi nasional pada 2026. Melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berupaya membangun ekosistem membaca yang melibatkan sekolah, keluarga, komunitas, pemerintah daerah, hingga mitra pembangunan.
Program tersebut mengemuka dalam kegiatan Bimbingan Teknis Literasi Generasi Muda dan Gelar Wicara Praktik Baik Literasi di NTT yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Buku Nasional pada 26 Mei lalu. Mengusung tema “Dari Bumi Flobamorata Menyemai Benih Menebar Pijar Literasi”, kegiatan itu merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi NTT, INOVASI, dan Bank Indonesia.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, mengatakan peningkatan kualitas literasi tidak mungkin ditanggung oleh pemerintah semata. Menurut dia, literasi harus menjadi gerakan bersama yang hidup di rumah, sekolah, dan ruang publik.
“Partisipasi semesta menjadi kunci untuk membangun ekosistem pendidikan yang bermutu dan berkeadilan,” kata Hafidz.
Pernyataan itu lahir dari kenyataan yang belum sepenuhnya menggembirakan. Berbagai hasil asesmen pendidikan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih memerlukan perhatian serius. Kemampuan memahami bacaan, menarik makna dari teks, hingga berpikir kritis masih menjadi tantangan di banyak daerah.
Karena itu, pemerintah memilih memperluas akses terhadap bahan bacaan bermutu sebagai salah satu strategi utama. Di NTT, Badan Bahasa berencana mendistribusikan masing-masing 200 buku bacaan ke 1.294 sekolah dasar dan 300 buku ke 393 sekolah menengah pertama.
Langkah tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa akses terhadap bacaan berkualitas merupakan fondasi lahirnya budaya membaca. “Anak-anak harus memiliki akses terhadap buku-buku yang bermutu, menarik, sesuai usia dan jenjang pendidikan mereka. Dari sanalah kebiasaan membaca dan kemampuan berpikir kritis dapat tumbuh,” ujar Hafidz.
Tak hanya menyasar sekolah, dukungan juga diberikan kepada jaringan literasi masyarakat. Sebanyak 5.400 buku bacaan diserahkan kepada Bunda Literasi NTT untuk didistribusikan ke berbagai wilayah. Selain itu, Badan Bahasa menyerahkan perangkat penyimpanan berisi 1.400 judul buku digital yang dapat diperbanyak dan dimanfaatkan oleh Bunda Literasi di tingkat kabupaten dan kota.
Di lapangan, penguatan literasi dilakukan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan pengalaman anak-anak. Balai Bahasa Provinsi NTT bersama Forum Taman Bacaan Masyarakat melibatkan sekitar 700 siswa dari jenjang SD hingga SMA dalam berbagai aktivitas membaca dan pembelajaran literasi.
Menurut Hafidz, respons peserta menunjukkan bahwa persoalan literasi tidak selalu berakar pada rendahnya minat belajar anak. Ketika bahan bacaan relevan dengan kehidupan mereka, ketertarikan untuk membaca muncul secara alami.
“Ada siswa yang merasa cerita yang dibaca sangat dekat dengan kehidupan mereka. Ini menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar memahami teks, tetapi juga membangun empati,” katanya.
Pengamatan selama kegiatan memperlihatkan hal serupa. Anak-anak tampak menikmati sesi membaca bersama. Ketika diminta menceritakan kembali isi buku yang telah dibaca, sebagian besar mampu menguraikan alur cerita dan pesan yang mereka tangkap dengan cukup baik. Aktivitas itu menjadi indikator sederhana bahwa membaca tidak berhenti pada pengenalan huruf, melainkan berkembang menjadi kemampuan memahami dan mengolah informasi.
Di sisi lain, pemerintah daerah melihat perkembangan yang memberi harapan. Dalam sambutan Gubernur NTT yang dibacakan Staf Ahli Gubernur NTT, Henderina Laiskodat, disebutkan bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat NTT mencapai 62,05 berdasarkan Survei Tingkat Kegemaran Membaca 2025 yang dilakukan Perpustakaan Nasional. Angka itu berada di atas rata-rata nasional yang tercatat sebesar 54,80.
Meski demikian, tingginya kegemaran membaca belum otomatis berbanding lurus dengan kualitas literasi. Para pegiat pendidikan menilai tantangan berikutnya adalah memastikan kebiasaan membaca berkembang menjadi kemampuan memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi untuk memecahkan persoalan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, penguatan literasi tidak cukup hanya melalui distribusi buku. Ketersediaan pendampingan, lingkungan keluarga yang mendukung, guru yang terlatih, dan ruang baca yang mudah diakses menjadi faktor yang menentukan keberhasilan program.
Bunda Literasi NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, menilai keluarga tetap menjadi titik awal pembentukan budaya membaca. Menurut dia, gerakan literasi akan sulit berkelanjutan jika tidak tumbuh dari rumah.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Gerakan literasi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Di tengah kekhawatiran terhadap kualitas literasi nasional, berbagai upaya yang berlangsung di NTT menunjukkan satu hal: minat membaca dapat tumbuh ketika buku tersedia, ruang belajar dibuka, dan banyak pihak bergerak bersama. Namun pekerjaan besar sesungguhnya baru dimulai—mengubah kegemaran membaca menjadi kemampuan literasi yang mampu membekali generasi muda menghadapi masa depan.
Tim Schoolmedia
Artikel Lainnya:
ITB dan BRIN Uji Coba Robot Bawah Air (ROV) Hasil Riset Multidisplin di Perairan Kepulauan Seribu
Memperingati Hari Bumi Bersama Anak dengan Jelajah Kampung dan Mendongeng Antikorupsi, Pendidikan Anti Korupsi PR Mendikdasmen
Tuntutan Greenpeace di Momen KTT ASEAN ke-48: Akhiri Krisis Plastik dan Ketergantungan pada Bahan Bakar Fosil