Cari

SiMHabit Inovasi Digital Yogyakarta untuk Akselerasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat


Schoolmedia News YOGYAKARTA — Di layar ponsel pintar milik seorang siswa SMAN 1 Yogyakarta, sebuah notifikasi muncul tepat sebelum senja luruh. Bukan pesan singkat biasa atau pemberitahuan dari media sosial, melainkan pengingat untuk mengisi "jejak kebaikan" hari itu. Dari mulai bangun pagi, menunaikan ibadah, hingga membantu orang tua mencuci piring, semuanya tercatat rapi dalam sebuah ekosistem digital yang mereka sebut SiMHabit.

Inilah potret kecil dari ambisi besar yang dibawa Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta ke panggung Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah (Konsolnas) 2026 di Jakarta. Di saat daerah lain sibuk berdebat soal kurikulum yang kerap berganti baju, Yogyakarta justru mencuri perhatian dengan mengawinkan dinginnya teknologi digital dengan hangatnya nilai kearifan lokal.

Aplikasi SiMHabit—singkatan dari Sistem Monitoring 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat—menjadi bintang dalam paparan praktik baik yang disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY, Suhirman. Di hadapan ratusan pemangku kepentingan pendidikan, Suhirman menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa hanya berhenti di atas kertas atau sekadar jargon yang dipajang di dinding sekolah.

“Karakter itu bukan sesuatu yang tiba-tiba jadi. Ia adalah hasil dari pengulangan atau habituasi,” ujar Suhirman, Rabu pekan lalu. Baginya, SiMHabit adalah instrumen untuk "menemani" siswa agar tidak kehilangan arah saat berada di luar gerbang sekolah.

Menjaga Adab di Balik Layar

Lahir dari tangan-tangan kreatif para guru di SMAN 1 Yogyakarta—sekolah yang kerap dijuluki "Teladan"—SiMHabit berfungsi sebagai buku harian digital yang jujur. Setiap hari, murid secara mandiri mengisi aktivitas mereka secara real-time. Di sini, integritas dipertaruhkan. Tidak ada guru yang mengawasi di samping mereka saat mereka mengisi kolom "membantu orang tua", namun sistem ini justru melatih kejujuran sejak dini.

Namun, SiMHabit bukan sekadar alat kontrol satu arah. Di balik dasbor aplikasi tersebut, terdapat ekosistem kolaborasi yang melibatkan guru sebagai mentor dan orang tua sebagai mitra utama. Setiap bulan, orang tua menerima laporan mengenai perkembangan perilaku anak-anak mereka.

“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” tambah Suhirman. Jika grafik perilaku seorang siswa menurun, alih-alih memberikan hukuman, sekolah dan orang tua duduk bersama dalam dialog yang lebih humanis. Ini adalah pendekatan yang melampaui angka-angka nilai akademis; sebuah upaya memanusiakan manusia.

Keseruan ini juga merambat ke SMAN 8 Yogyakarta. Di sana, pembiasaan "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" (7 KAIH) dikemas dalam kompetisi positif. Murid dengan performa terbaik dan konsistensi tinggi dalam menerapkan habituasi ini mendapatkan penghargaan. Tujuannya sederhana: memantik semangat bahwa berbuat baik dan jujur adalah hal yang layak dirayakan.

Akar yang Tetap Membumi

Meski dipersenjatai dengan perangkat digital modern, Yogyakarta tidak membiarkan murid-muridnya hanyut dalam arus globalisasi yang tercerabut dari akar. Di sinilah letak keunikan model pendidikan DIY. Nilai 7 KAIH yang dicanangkan secara nasional oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak dibiarkan berdiri sendiri. Ia "dibungkus" dalam selubung Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).

Berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 40 Tahun 2022, PKJ mengarahkan setiap siswa untuk menjadi Jalma Kang Utama—manusia unggul yang memegang teguh tata krama (unggah-ungguh) dan rendah hati (andhap asor).

Di sekolah-sekolah di Yogyakarta, jangan kaget jika Anda melihat siswa melakukan posisi ngapurancang—berdiri dengan tangan menyilang di depan sebagai bentuk hormat—saat berbicara dengan guru. Atau mendengar kata-kata sakti seperti nuwun sewu, nderek langkung, dan nyuwun pangapunten yang mengalir deras di koridor sekolah.

Sentuhan budaya ini mencapai puncaknya setiap hari Kamis, saat seluruh warga sekolah mengenakan busana adat gagrak Yogyakarta. Di ruang-ruang kelas, aroma malam dari canting membatik dan dentuman gamelan karawitan menjadi menu mingguan yang wajib. Bagi Yogyakarta, teknologi adalah alat untuk memantau, namun budaya adalah ruh yang membentuk kepribadian.

“Kami ingin murid-murid kami menjadi anak Indonesia yang hebat secara nasional, namun tetap memiliki akar budaya yang kuat sebagai orang Yogyakarta,” jelas Suhirman. Ia percaya, model integrasi nilai lokal ke dalam kebijakan nasional ini bisa menjadi cetak biru (blueprint) bagi daerah lain. Jika Yogyakarta punya PKJ, maka daerah lain bisa memasukkan kearifan lokal Sunda, Minang, hingga Papua ke dalam kerangka 7 KAIH.

Masa Depan Yang Humanis

Apa yang dilakukan Yogyakarta adalah jawaban atas kekhawatiran publik mengenai generasi "zombie digital" yang kehilangan empati. Melalui sinergi antara kebijakan nasional, dukungan teknologi SiMHabit, dan penguatan lokal, Yogyakarta menawarkan sebuah model pendidikan yang utuh.

Seorang guru di Yogyakarta sempat bercerita bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah mengajarkan matematika atau fisika, melainkan memastikan seorang anak tetap memiliki "rasa" ketika berinteraksi dengan sesama. Dengan SiMHabit yang merekam kebiasaan menyapa (5S: Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), teknologi justru dipaksa untuk mengabdi pada kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Konsolnas 2026 mungkin telah berakhir secara seremonial hari ini. Namun, gema dari Yogyakarta membawa pesan penting bagi masa depan pendidikan Indonesia: bahwa untuk melahirkan generasi cerdas berintegritas, kita butuh kecanggihan algoritma sekaligus kelembutan budi pekerti. Di tangan para guru Yogyakarta, budi pekerti kini memiliki "log"-nya sendiri, namun tetap berdetak dalam irama karawitan yang luhur.

Tim Schoolmedia

Artikel Selanjutnya
Kemendikdasmen dan BNN Gandeng Tangan, Integrasi Kurikulum Anti Narkoba untuk Anak Bangsa
Artikel Sebelumnya
Benteng Terakhir di Ujung Jari: Resiliensi Digital Dimulai dari Meja Makan

Artikel Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar