Dari Ayam Goreng ke “Nobel Matematika”, Kisah Yu Deng Pecahkan Teka-teki 125 Tahun

Schoolmedia News - Matematika sering kali identik dengan angka, rumus, dan persoalan yang membutuhkan ketelitian tinggi. Namun, bagi Yu Deng, matematika adalah cara untuk memahami persoalan besar yang menghubungkan berbagai bidang ilmu. Matematikawan dari University of Chicago, Amerika Serikat, itu berhasil meraih Fields Medal 2026, penghargaan bergengsi yang kerap dijuluki “Nobel Matematika”. Penghargaan tersebut diberikan setelah Yu bersama Zaher Hani dan Xiao Ma berhasil memecahkan persoalan dalam fisika-matematika yang telah menjadi tantangan ilmuwan selama sekitar 125 tahun.
Persoalan tersebut berkaitan dengan Masalah Keenam Hilbert yang berawal dari gagasan matematikawan Jerman, David Hilbert, pada 1900. Dalam pidatonya di Universitas Sorbonne, Paris, Hilbert menyampaikan sejumlah persoalan matematika yang belum terpecahkan dan diyakini dapat mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Salah satu tantangannya adalah bagaimana membangun dasar matematika yang kuat untuk berbagai teori fisika. Lebih dari satu abad kemudian, Yu Deng, Zaher Hani, dan Xiao Ma menghadirkan terobosan yang menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan tersebut.
Penelitian mereka berusaha menjembatani tiga cara berbeda dalam memahami gerak fluida. Pada tingkat mikroskopik, fluida dipandang sebagai kumpulan partikel yang bergerak dan saling bertumbukan berdasarkan hukum Newton. Pada tingkat mesoskopik, perilaku partikel dipelajari secara statistik melalui Persamaan Boltzmann. Sementara pada tingkat makroskopik, fluida dipandang sebagai satu kesatuan seperti air yang mengalir, dengan teori yang berkaitan dengan Persamaan Euler dan Navier-Stokes. Ketiga pendekatan tersebut sebenarnya menggambarkan realitas yang sama, tetapi selama bertahun-tahun hubungan matematis yang ketat di antara ketiganya menjadi persoalan yang sangat kompleks.
Yu dan timnya kemudian membangun sebuah “jembatan” matematis di antara ketiga tingkatan tersebut. Mereka menunjukkan bagaimana teori makroskopik dapat diturunkan dari teori mesoskopik, kemudian bagaimana teori mesoskopik dapat diturunkan dari teori mikroskopik. Dengan demikian, terdapat rantai penalaran yang menghubungkan hukum Newton pada tingkat partikel hingga persamaan yang digunakan untuk menggambarkan perilaku fluida dalam skala besar. Penemuan tersebut memiliki kaitan dengan berbagai bidang ilmu dan rekayasa, termasuk pemahaman mengenai aliran fluida yang berperan dalam desain pesawat dan prediksi cuaca.
Menariknya, perjalanan Yu Deng menuju dunia matematika juga berawal dari rasa ingin tahu yang tumbuh sejak kecil. Ia dibesarkan di Shenzhen, China, dalam keluarga yang dekat dengan dunia sains dan teknologi. Ayahnya merupakan programmer komputer, sedangkan ibunya seorang dokter spesialis penyakit dalam. Sejak usia lima tahun, Yu sudah gemar membaca, bahkan membaca buku-buku teks kedokteran milik ibunya. Orang tuanya kemudian mengajaknya melakukan berbagai kegiatan di luar rumah, seperti mendaki gunung dan berjalan di pantai, sembari tetap memberikan ruang bagi rasa ingin tahunya.
Selain membaca, Yu juga sejak kecil terbiasa mendapatkan teka-teki matematika dari ayahnya. Ia kemudian menemukan ketertarikan lain melalui permainan Go, permainan strategi tradisional China. Permainan tersebut bahkan sempat membuatnya mempertimbangkan karier sebagai pemain Go profesional. Namun, perjalanan hidup akhirnya membawa Yu ke dunia akademik dan penelitian matematika. Kebiasaan berpikir mendalam, memecah persoalan menjadi bagian-bagian kecil, serta mencari hubungan antara berbagai konsep menjadi bekal penting dalam perjalanan ilmiahnya.
Salah satu bagian menarik dari kisah penelitiannya bahkan muncul dalam situasi yang sangat sederhana. Ketika sedang menikmati ayam goreng, Yu mendapatkan sebuah gagasan untuk memecah persoalan matematika yang sangat rumit menjadi sejumlah bagian yang lebih kecil dan lebih mudah ditangani. Ide tersebut kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam upayanya bersama tim untuk menjawab persoalan fisika-matematika yang telah bertahan selama lebih dari satu abad. Kisah tersebut menunjukkan bahwa inspirasi ilmiah tidak selalu muncul dalam situasi formal di laboratorium atau ruang kuliah.
Pencapaian Yu Deng menjadi pengingat bahwa sebuah persoalan ilmiah yang tampak mustahil bukan berarti tidak memiliki jawaban. Teka-teki yang dirumuskan lebih dari 125 tahun lalu akhirnya kembali mendapatkan titik terang melalui kerja keras, ketekunan, dan kolaborasi lintas keahlian. Lebih dari sekadar penghargaan Fields Medal, perjalanan Yu menunjukkan bagaimana rasa ingin tahu sejak kecil dapat berkembang menjadi penelitian yang memberi kontribusi bagi pemahaman manusia terhadap alam. Dari teka-teki matematika yang diberikan sang ayah hingga persoalan ilmiah kelas dunia, perjalanan Yu Deng memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan tumbuh dari keberanian untuk terus bertanya dan mencari jawaban.
Liputan Khusus Lainnya:
Dari Tapanuli Selatan ke China, Rafie Hajri Musaiyar Siregar Raih Beasiswa Penuh untuk Kuliah
Dibilang Tak Mungkin Masuk UGM, Izzat El Umam Setiadi Justru Lolos dengan UKT Rp0
Bawa Petuah Maluku ke Inggris, Alumnus IPDN Jadi Orator Wisuda University of York